Makanan Subhat Disekitar Kita

Umat Islam diperintahkan untuk memakan makanan yang baik dan halal. Makanan subhat adalah makanan yang meiragukan  yang kalau dimakan maka hukumnya makruh; yaitu bila dikerjakan tidak berdosa, dan bila ditinggalkan mendapat pahala.Ditinjau dari materi makanannya sendiri, pada umumnya umat Islam sangat mengerti makanan-makanan apa saja yg jika dimakan hukumnya makruh, seperti petai, jengkol, bawang merah, bawang putih (dimakan mentah), tetapi mereka umumnya tidak sadar bahwa  asal usul makanan, misalnya yang dibeli orang lain dari uang hasil korupsi, kemudian disajikan dan dimakan oleh kita, maka hukumnya juga makruh. Bagi yang ingin mendekat kepada Allah, makanan-makanan subhat ini bila menjadi daging, menyebabkan terbentuknya tabir pembatas yang menghalangi kita untuk dekat dengan Allah. Sebagai akibatnya mata bathin kita menjadi tumpul; sulit untuk menangkap isyarat-isyarat yang diberikan Allah misalnya akan datangnya takdir jelek,bahkan tidak diberikan isyarat-isyarat,  indera ke enam tidak berkembang, doa tidak dikabulkan, dan yang pasti tidak bisa dekat dengan Allah.

Sumber utama makanan-makanan subhat itu adalah dari pesta-pesta perkawinan yang megah, dimana disajikan aneka makanan yg lezat-lezat. Oleh karena itu, jika kita tidak mengetahui dengan baik cara sipengundang mencari uang, lebih baik kita tidak memakan makanan-makanan yg disajikan, cukup minum air putih. Cara nudah untuk tidak tergoda mencicipi makanan adalah dengan makan dirumah sebelum menghadiri pesta perkawinan tersebut. Sumber kedua makanan-makanan subhat adalah reuni-reuni yang biasanya disponsori oleh satu atau dua orang teman. Sudah menjadi hukum alam orang yang mendapatkan uangnya dengan cara mudah dengan sedikit usaha, biasanya juga mudah mengeluarkan uangnya, mungkin sebagai penyeimbang guilty feeling. Orang-orang ini biasanya mendapatkan uangnya dari kedudukannya, bukan dari pendidikan profesionalnya.

Sekalipun sudah hati-hati, kadang-kadang kita salah menikai orang, orang yang kita kira uangnya bersih, ternyata tidak. Oleh karena itu sebelum makan makanan dalam pesta, sebaiknya kita berdoa mohon lindungan dari makanan-makanan subhat, dan kalau makanan ini benar subhat, mohon agar tidak menjadi daging kita. Jika ini kita lakukan dengan sungguh-sungguh, dan makanan tersebut memang subhat, maka kita akan buang2 air sampai seluruh makanan itu terbuang keluar. Karena buang-buang air ini tidak enak, penulis hampir tidak pernah makan makanan-makanan dalam pesta perkawinan.

About irawan firmansyah

Civil Engineer majoring in Geotechnical Engineering
This entry was posted in Spritual and Reflections. Bookmark the permalink.

4 Responses to Makanan Subhat Disekitar Kita

  1. muslimin says:

    Sebaiknya kita jangan terlalu subyektip,dalam menentukan langkah kita,spt yang anda contohkan mslh menghadiri pesta,untk itu sudilah ada ayat atau sunnah yg mendasarinya.tksh

    • 1. Dari An-Nu’man bin Basyir ra berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda
      “Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itupun jelas. Diantara kedua macam hal itu ada beberapahal yang syubhat (samar-samar). Sebagian besar manusia tidak dapat mengetahui dengan jelas apa-apa yang subhat itu. Barangsiapa yang menjaga dirinya dari perkara syubhat, maka ia telah melepaskan dirinya dari melakukan sesuatu yang mencemarkan agama serta kehormatannya. Dan barang siapa yang telah jatuh dalam perkara syubhat, maka bisa-bisa jatuhlah ia dalam keharaman (HR. Bukhari dan Muslim).

      2. Dari Aisyah ra berkata, Abu Bakar As Shiddiq ra mempunyai seorang hamba sahaya yang memberikan kepadanya sebagian pendapatan wajibnya. Lalu, Abu Bakar biasa makan dari hasil kharaj tadi. Pada suatu hari hamba sahaya itu datang padanya dengan membawa sesuatu, kemudian Abu Bakar juga memakannya. Selanjutnya dia berkata pada Abu Bakar: “Tahukah tuan, hasil dari manakah ini?” Abu Bakar bertanya: “Memang dari mana?” Ia menjawab: “Dahulu pada jaman jahiliyah saya pernah meramal seseorang, padahal saya sendiri sebenarnya tidak tahu masalah peramalan, melainkan saya hanyalah menipunya belaka. Tadi ia menemui saya lalu sebagai tanda terima kasih, dia memberikan pada saya sesuatu yang Anda makan itu.” Abu Bakar lalu memasukkan tangannya ke dalam kerongkongannya, lalu memuntahkan segala sesuatu yang ada dalam perutnya (HR. Bukhari)

      3. Rasulullah SAW adalah suri tauladan dalam hal menjauhi barang syubhat. Beliau adalah pemimpin orang –orang wara’. Hal ini dapat dilihat dari sikap yang diambil Rasulullah berkenaan dengan sebutir kurma yang jatuh ketika beliau mendapatinya di rumah beliau sendiri. Dalam menyikapi masalah ini beliau bersabda,”Kalau saja aku tidak khawatir bahwa sebutir kurma ini berasal dari barang sedekah, tentu sudah aku makan”(HR. Bukhari dan Muslim)

      4. Para salaf shalih tidak memenuhi undangan makan dari orang yang dalam hartanya terdapat syubhat, misalnya: undangan makan dari para penguasa, pelawak, hakim, pendusta, syikh negara, pedagang yang menjual barangnya dengan cara zhalim, dan orang-orang sejenis lainnya. bahkan, mereka tidak suka meminta harta apapun-yang halal-yang dimiliki orang lain.
      Salah satu ciri makanan syubhat adalah, makanan yang disajikan sangat beragam jenisnya. Sungguh, jika seseorang mencari makanan yang halal, tentu ia tidak akan mendapat banyak, dan ia pun tidak akan bisa menyajikannya beraneka ragam. Karena itu, Rasulullah SAW pernah melarang makan makanan orang-orang yang suka berlebihan (mubazir).

      Jadi makanan syubhat itu bisa karena zatnya, bisa juga karena asal usulnya atau cara mendapatkannya yang tidak dibenarkan syar’i.
      Sikap kehati-hatian dalam memilih nakanan seperti diteladani oleh Rasulullah SAW, para sahabat, dan orang2 shalih lainnya perlu diikuti.
      Kiranya saya tdk perlu menjelaskan sumber penghasilan orang2 yg saya sebutkan pada tulisan yg menjadi bahan diskusi, karena sdh menjadi pengetahuan umum.

  2. Angga says:

    Asslm wr wb ..
    akhi, afwan menurut akhi untuk makanan yang beredar di pasar yang kita tidak tahu apakah di sembelih dengan asma Allah atau tidak apakah menurut akhi syubhat ? kemudian fastfood dan resto yang walaupun mendapat sertifikat MUI juga dikategorikan syubhat ? jzklh khair..

    • Wa alaikumsalam wr wb,
      Segala sesuatu yg meragukan baik bahannya maupun cara perolehan dan pembuatannya, dikategorikan sebagai makanan syubhat. Sebagai contoh makanan2 fastfood karena tdk jelas apakah disembelih dgn asma Allah atau tdk.
      Akan tetapi untuk makanan2 yg syubhat hanya karena tdk jelas cara menyembelihnya, menurut guru kami bisa di putihkan dengan membaca Bismillahi awwalahu wa aakhirahu.
      Kalau kita ke Hongkong misalnya, maka makanan yg paling baik bagi muslim adalah fastfood2 itu, yg lain hampir pasti haram.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s