Kiat Agar Anak Diterima di Universitas Negeri Ternama

Tulisan ini merupakan jawaban penulis atas pertanyaan beberapa rekan yang mengharapkan anak-anaknya bisa diterima di universitas negeri ternama. Mereka mengajukan pertanyaan ini karena dua anak penulis berhasil masuk di universitas negeri ternama, satu di Departemen Sipil ITB dan satunya lagi di Fakultas Kedokteran Gigi UI ( FKGUI). Tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman penulis sebagai dosen dan wali mahasiswa di Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik UI (FTUI),  hingga th 1992, sebagai orang tua, dan sebagai pemerhati pendidikan. Tentu saja kiat2 ini hanya akan berhasil bila anak kita punya kecerdasan yang cukup untuk menjadi seorang sarjana.

Berawal dari memakai data  peringkat sekolah-sekolah, unggulan nasional, unggulan provinsi, dsb, masing-masing universitas/fakultas membuat perincian lebih detail, SMA mana saja yang ex murid-muridnya berprestasi baik sebagai mahasiswa, artinya telah ada kesesuaian antara pendidikan yang diberikan di SMA dengan kebutuhan untuk melanjutkan studi di universitas tersebut.. Sekalipun tidak pernah secara terbuka diumumkan, masing-masing universitas/fakultas membuat peringkat SMA yang baik. Jarena itu ada SMA-SMA yang hanya diterima baik di fakultas2 IPS, ada yang di fakultas2 IPA dan ada juga yg diterima baik di keduanya. Dengan demikian selain prestasi anak di SMA, peringkat SMA  memegang peran besar bagi diterimanya seorang anak di universitas terkemuka, khususnya yang melalui jalur undangan / PMDK.

Di Jakarta SMA-SMA berperingkat baik adalah SMAN 8 Bukit Duri, SMAN 78 Kemanggisan, SMAN 70 Bulungan, dan SMAN 28 Ragunan.  Ada juga SMA swasta yg berprestasi baik seperti SMA Pangudi Luhur dan Lab School Rawamangun, tetapi umumnya jangkauannya lebih sempit, mereka hanya dikenal di fakultas tertentu saja. Jika ingin masuk ke Fakultas Kedokteran UI yang sangat kompetitif, penulis anjurkan masuk ke SMAN 8 atau SMAN 78, karena peluangnya lebih besar dari sekolah-sekolah lainnya. Untuk thn 2011 ini UI mentargetkan 40% mahasiswa baru masuk melalui jalur undangan, dan sisanya akan diterima melalui jalur  SNMPTN, dan  jalur SIMAK UI. Untuk masa mendatang, pemerintah merencanakan untuk secara bertahap memperbesar kuota jalur undangan, berarti sifat untung-untungan melalui SNMPTN  sudah harus ditinggalkan. UI, ITB dan universitas2 lainnya mengundang SMA-SMA berperingkat baik untuk mengajukan murid2 terbaiknya untuk diseleksi. Universitas mengundang SMA-SMA tertentu yang dianggap baik oleh universitas tersebut, dan SMA-SMA yang diundang  mengajukan nama-nama murid beserta kelengkapan data rapor smt-1  s/d  smt-5. Nilai akhir seorang calon mahasiswa merupakan perpaduan nilai rapor dan peringkat SMA. Semakin tinggi peringkat sekolah, semakin besar kemungkinan untuk diterima sebagai mahasiswa.

Jadi kiat pertama untuk masuk universitas negeri ternama dimulai dengan masuk SMA berperingkat, dan berprestasi secara konsisten dari smt-1 sampai akhir. Masalahnya tidaklah mudah masuk SMA berperingkat tinggi; perjuangannya harus sudah dimulai dari pemilihan SMP. Dengan mudah bisa diamati bahwa sebagian besar murid suatu SMA berperingkat berasal dari SMP tertentu, misalnya SMAN 70 sebagian besar muridnya berasal dari SMPN 19 disusul SMPN 11. Jadi kalau targetnya masuk SMAN 70, maka perlu diusahakan masuk SMPN 19 atau SMPN 11. Perjuangan masuk SMAN 70 akan jauh lebih mudah, apalagi dibandingkan dengan murid lulusan SMP diluar DKI karena adanya kuota 5% bagi murid dari luar daerah.

Dari uraian diatas bisa dibayangkan besarnya pengorbanan uang dan waktu orang tua bagi kemajuan pendidikan anaknya. Seringkali karena rumah jauh dari sekolah, anak harus diantar jemput agar tidak terlambat masuk sekolah, tidak terlalu letih, dan terhindar dari tawuran. Mengingat besarnya usaha, sering terjadi ketidak sepahaman antara suami istri yang berawal dari beda pendapat seberapa penting pendidikan bagi masa depan anak. Bila ini terjadi, si anak akan ikut-ikut ragu akan pentingnya pendidikan bagi masa depannya. Ini menjadi awal mundurnya prestasi belajar anak.  Jadi kekompakan antara suami isteri akan pentingnya pendidikan merupakan kiat kedua bagi suksesnya pendidikan anak.

Kalau kedua kiat diatas merupakan kiat yang bersifat fisik, kiat ketiga adalah kiat yang bersifat spiritual. Agama menyatakan bahwa ridhonya orang tua adalah ridhonya Allah. Oleh karena itu orang tua bisa membantu sang anak dengan doa. Jika orang tua terbiasa dengan puasa, si anak bisa dibantu dengan puasa orang tua, khususnya si ibu, dengan niat agar  si anak diterima sebagai mahasiswa pada universitas yang baik. Demikian juga jika orang tua terbiasa dengan sholat malam, ia bisa berdoa bagi  si anak (lihat posting sebelumnya: Waktu Makbul Untuk Berdoa). Adapun isinya doa kurang lebih meminta agar si anak diterima di fakultas/jurusan yang disenanginya, yang berakibat baik dimasa depan, dan bermanfaat dunia akhirat. Semoga berhasil.

–ooOOoo–

About irawan firmansyah

Civil Engineer majoring in Geotechnical Engineering
This entry was posted in Various Tips and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s