Kondisi Tanah di Jakarta

Di tanah di Jakarta secara umum dapat dibedakan atas tanah di Utara Jakarta dan tanah di Selatan Jakarta. Tanah di Utara dapat dipastikan lebih jelek dari tanah di Selatan Jakarta, ditinjau dari kemampuan tanah mendukung beban. Di Selatan Jakarta tanah dibagian atas didominasi oleh tanah hasil produk vulkanik baik yang sudah ditransportasikan oleh air maupun yang belum, ditandai dengan tanah lempung berwarna coklat kemerahan dan banyak dipakai sebagai tanah urugan. Di Utara Jakarta, tidak ada ciri yang sama untuk tanah bagian atas karena merupakan tanah urugan diatas tanah dasar yang lunak berupa marine clay. Urugan diatas marine clay ini dilakukan sesuai dengan kebutuhan  dan ketersediaan tanah timbunan agar orang bisa beraktifitas diatasnya. Oleh karena itu ketebalan dan jenis tanah timbunannya bervariasi, ada yang memakai coral sand, pasir laut, tanah merah, puing-puing, sampai tanah yang sebenarnya tidak layak sebagai tanah timbunan.  Hasil penyelidikan tanah dari Selatan Jakarta sampai ke Utara Jakarta menunjukkan bahwa marine clay ini ditemui mulai dari Jl. Jatinegara Timur, yang kalau kita tarik ke tengah kota, jatuh di sekitar Monas – Harmoni.  Semakin ke Utara, lapisan marine clay ini semakin tebal. Lapisan marine clay ini terletak diatas lapisan lahar atas (cemented silty sand) yang ditandai dengan warna kuning (yang diatas) pada gambar dibawah. Kedalaman permukaan lapisan lahar atas ini semakin ke Utara semakin dalam; sekitar 12 m di Selatan Jakarta, dan sekitar 18 m di Utara Jakarta.  Karena lapisan lahar ini adalah produk letusan gunung berapi, maka semakin jauh dari sumbernya, terjadi inter fingering, yaitu seperti telapak tangan manusia, ada jari tangan dan ada ruang kosong diantara jari-jari tangan (daerah tanpa lapisan lahar)

Plot SPT

Selain kedalamannya, derajat sementasi, juga ketebalan lapisan lahar ini  bervariasi, bahkan pada lokasi-lokasi tertentu lapisan lahar atas ini menghilang akibat terkikis oleh sungai lama dan /atau sungai eksisting. Contohnya disekitar gedung Sarinah Thamrin, Kebon Sirih,  sebagian areal hotel Crown di seberang Komda, ditepi-tepi sungai alam, dll. Diarea Presient Hotel yang tidak seberapa luas saja, ketebalan dan sementasi (berarti daya dukung/kekerasan) lapisan lahar atas ini bervariasi, hingga kurang dari 3m dan bored pile yang duduk diatasnya ada yang sukses ada yang jeblos. Sebagai info, bangunan-bangunan lama dengan tinggi 10 lantai  atau kurang, tanpa basemen atau dengan 1/2 basemen, umumnya memakai tiang pancang yang duduk diatas lapisan lahar atas ini.

Berbeda dengan lapisan lahar atas, lapisan lahar bawah (lapisan kuning yang dibawah pada gbr diatas) umumnya tidak terkikis oleh aliran sungai lama. Yang ada adalah lapisan ini tipis dan sementasinya rendah, sehingga keberadaannya tidak terlihat nyata, misalnya pada daerah Kebon Sirih.  Lapisan lahar bawah ini dijumpai pada kedalaman sekitar 28 m dan relatif konstan dari Selatan ke Utara. Bangunan-bangunan baru dengan basemen umumnya menggunakan fondasi bored pile yang duduk dilapisan lahar bawah ini, atau menembus lapisan ini, duduk dilapisan very stiff – hard silty clay dengan nilai N SPT sekitar 30.

Diantara lapisan lahar atas dan lahar bawah dijumpai lapisan selang seling antara silty clay, silty sand, sandy silt dengan kekerasan yang lebih rendah dari lapisan lahar atas dan bawah. Di sebagian besar daerah Kuningan, tanah diantara lapisan lahar atas dan bawah ini terdiri dari silty sand dan sandy silt dengan kekerasan yang hampir sama dengan kedua lapisan lahar tersebut diatas, sehingga seakan-akan lapisan lahar ini menerus dari lahar atas sampai lahar bawah. Kadang-kadang dijumpai lapisan tanah organik yang berwarna hitam diantara kedua lapisan lahar. Memang dari lapisan lahar bawah, lapisan lahar atas, dan lapisan diantara keduanya merupakan volcanic products. Jika yang mengendap adalah debu gunung api maka pelapukannya akan berupa silt / clay. Sebaliknya kalau berupa material berbutir kasar, maka pelapukannya berupa silty sand / sandy silt / sand. Diperkirakan lapisan lahar atas dan bawah terbentuk akibat letusan utama (besar) dari gunung Gede / Pangrango, sedangkan laisan tanah diantaranya terbentuk akibat letusan-letusan kecil diantara kedua letusan besar itu.

Berbicara mengenai land subsidence, para ahli geoteknik di Indonesia termasukpenulis berpandangan berbeda dengan para ahli geologi yang secara vokal menyatakan telah terjadi subsidence yang signifikan di Jakarta. Para ahli geoteknik berpendapat bahwa subsidence terjadi dalam skala kecil di utara Jakarta. Penurunan yang diukur oleh para peneliti geologi adalah penurunan lokal disekitar bangunan tinggi akibat beban bangunan tersebut. Penurunan total bangunan tinggi diprediksi sekitar 10 cm, yang terjadi secara perlahan-lahan. Overlay di jalan  Sudirman Thamrin mengikuti  peil banjir yang terus naik, sebagian akibat daerah resapan berkurang, sebagian akibat naiknya muka air laut (pemanasan global), dan amburadulnya sistim micro drainage. Demikian juga level ground floor bangunan-bangunan baru mengikuti naiknya peil banjir.  Pendapat ini sekalipun telah disampaikan HATTI ke media seperti Metro TV, tetapi kurang mendapat sambutan karena tidak menjadi topik yang seru sebagai bahan pembicaraan.

–ooOoo–

About irawan firmansyah

Civil Engineer majoring in Geotechnical Engineering
This entry was posted in Anything About Geotechics and tagged , , . Bookmark the permalink.

5 Responses to Kondisi Tanah di Jakarta

  1. A. Chandra says:

    Dear Pak Irawan,

    Menarik! Tapi sayang di paragaraf seperti disebutkan “lihat pada gambar” , tapi gambarnya kok tidak ada ya Pak? Apakah sudah di remove?
    Mohon di share ya Pak..hehe🙂

    Terima kasih.

    • A. Chandra says:

      Wah ternyata setelah saya refresh berkali2 akhirnya gambarnya muncul Pak..🙂

      Jika lihat stratigrafinya dan NSPT nya memang diperlukan upaya perbaikan tanah ya Pak untuk 10 meter awal itu jika sebuah bangunan lebih economical menggunakan shallow foundation atau memerlukan struktur basement. Semasa kuliah dulu pernah dikasih lihat upaya perbaikan tanah menggunakan stone column yang sekarang semakin populer, tapi sepertinya di Jakarta jarang ya Pak? Sejauh pengalaman bapak di Jakarta, upaya perbaikan apa yang pernah bapak kerjakan? *just wondering, syukur kalau dapat sharing pengalamannya..hoho*

      • Dear Alan,
        Terus terang saya hampir2 tdk pernah dapat kerjaan yg perlu fondasi dangkal, kecuali 1 buah yg di Cakung yg sekarang diteruskan oleh tempat anda kerja. Saya diminta juga utk review fondasinya, tapi saya menolak dengan halus. Yang awalpun sebenarnya saya tdk tertarik, tetapi waktu itu CEO dari singapore (Stephen Choo) membujuk saya dengan menjanjikan membawa saya ke proyeknya yg besar di Vietnam.
        Soil improvement itu bermanfaat uth daerah pengembangan yg luas spt cakung ini. Di proyek itu sebenarnya diusulkan 2 macam perbaikan tanah, stone column, dan preloading. Bahkan CEO nya (ia org geotech, checker di S’pore) sangat antusias, tetapi PM di prjek ini keberatan karena berkejaran dgn waktu, sehingga timbul idea mini pile. Tapi saya dulu tdk memerlukan dipancang sedalam rekomendasi tpt anda kerja.

  2. A. Chandra says:

    Oh I see.. That estate project… Saya conformed sama kawan di Jakarta (structure engineer) dia pakai lebih conservative karena first real project bagi dia… (sometimes threatening, sometimes frightening utk Junior hehe…)

    Andai proyek itu pakai stone column apakah supply material nya bisa lancar pak untuk Jakarta (apalagi jumlah yang dibutuhkan besar)? Setau saya quarry utk batuan itu dari Jawa barat.

    Tapi hitungan kasar cost vs time nya lebih murah kalau stone column ya Pak?

    Hormat saya,

    • Sear Alan, Dari cost stone column lbh murah. Tetapi dari segi repotnya pelaksanaan dan kemungkinan delaynya pelaksanaan, stone column jauh lbh kritis.

      Di Palembang saya pakai stone column utk coal stockpiling. Saya manfaatkan cara pemadatan sederhana Belgrado dari AIT. Disana tdk ada masalah dengan angkutan.

      Salam, Irawan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s