Tahukah Anda-1: Seputar Dai Kondang

Jika kita membaca komik silat kho ping ho dan sejenisnya, kita akan mengerti bahwa tokoh persilatan  yang beredar di dunia kangau (dunia persilatan) sebenarnya adalah tokoh-tokoh kelas 2. Tokoh-tokoh persilatan yang benar-benar tangguh sebenarnya adalah tokoh-tokoh yang sudah menyepi di gunung / tempat-tempat sunyi, menjauhi keramaian. Tokoh-tokoh ini hanya turun gunung kalau kondisi sudah sangat kritis.

Hal yang sama sebenarnya terjadi pada dunia agama (Islam). Para dai / ustadz yang sering kita lihat muncul di TV sebenar adalah dari kyai kelas 2. Kelebihan mereka hanya popular. Mereka umumnya masih termotivasi oleh hal-hal yang bersifat keduniaan, mencari penghidupan melalui jalur agama. Beberapa diantara mereka berhasil menjadi kaya raya dengan cara ini. Oleh karena itu sesuatu yang logis jika mereka tidak diberikan Ilmu Hikmah / Ilmu Laduni, yaitu ilmu yang langsung diberikan Allah, untuk mengerti kehendakNya, untuk mengerti yang tersirat menyangkut suatu masalah, karena semua pahalanya sudah dibayar lunas dengan materi yang mereka terima. Padahal contoh yang diberikan oleh Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya, tidak mencari penghidupan dari agama, tetapi dari berdagang. Hal yang sama dilakukan Wali Songo dalam menyebarkan Islam ditanah Jawa. Tahukah anda bahwa ceramah agama yang didasarkan pada transaksi keuangan tidak akan bisa merubah keimanan pendengarnya. Hidayah tidak pernah turun pada ceramah tipe ini. Isi ceramah hanya masuk di  telinga kiri dan keluar di telinga kanan.  Begitu pulang dari mendengarkan ceramah, semuanya terlupakan, yang diingat hanya banyolannya saja.

Penulis memperhatikan bahwa salah seorang dai kondang, tidak pernah bisa menjawab pertanyaan audiens mengenai apa yang harus ia lakukan sehubungan dengan masalah yang dihadapinya.  Dai tersebut selalu mengalihkan perhatian dengan pertanyaan-pertanyaan sepele, seperti disana musim apa, atau pura-pura tidak mendengar. Perlu dicatat bahwa agama itu menyangkut kehidupan, sehingga para dai tersebut sudah selayaknya mampu memberikan pencerahan/ memecahkan mengenai  masalah-masalah kehidupan. Mampu membaca hal-hal yang tersirat dari suatu kejadian, termasuk didalamnya menguasai ilmu takwin mimpi. Kemampuan ini sangat dibutuhkan umat, karena biasanya seseorang itu diberikan isyarat akan datangnya takdir baik atau takdir jelek, melalui mimpi, dan kebanyakan orang tidak mampu mengartikan mimpinya. Kemampuan itu semua hanya bisa diperoleh dengan prilaku hidup yang bersih, sederhana, dan selalu mendekat kepada Allah. Mimpi yang sama pada saat yang sama bisa berarti berbeda untuk dua orang yang berbeda. Dua orang sahabat Nabi Muhammad bermimpi naik haji pada saat yang sama, dan ketika mereka menanyakan arti mimpi tersebut, maka Nabi menyatakan ke salah seorang dari mereka bahwa ia akan meninggal dunia, sedangkan arti mimpi bagi yang seorang lagi adalah ia akan menerima rizki yang besar.

Para kyai kelas 1, biasanya bersembunyi, menjauhi keramaian/publikasi. Mereka sama sekali tidak termotivasi dengan hal-hal yang bersifat keduniaan. Mereka hidup sederhana. Mereka-mereka inilah yang biasanya memiliki Ilmu Hikmah/Ilmu Laduni.  Mereka bisa mengerti apa-apa yang tersirat dari suatu kejadian, dan memberikan pengarahan apa yang harus dilakukan seseorang untuk terlepas dari masalah yang dihadapi. Mereka sangat rendah hati dan akan berpura-pura tidak mengerti apa-apa.  Inilah sebenarnya ujian bagi keteguhan hati seseorang dalam mencari pencerahan. Konon kabarnya salah seorang mantan presiden RI yang telah almarhum  adalah orang yang rajin mencari para kyai kelas 1 ini. Kalau mendengar ada kyai dengan suatu kemampuan tertentu, ia akan menyuruh orang-orangnya untuk mendekati kyai tersebut.

Sayangnya mayoritas masyarakat sekarang terlalu malas untuk mencari para kyai kelas 1 ini. Mereka lebih suka mendengar ceramah para dai kondang (tokoh-tokoh agama kelas 2) yang sebagian besar ceramahnya diisi oleh banyolan. Kebalikannya para kyai kelas 1 tidak suka menyelingi pencerahannya dengan banyolan. Mereka bicara seperlunya. Sebenarnya para penyebar Islam dulu (Wali Songo) mirip-mirip dengan para kyai kelas 1 ini. Wali Songo tidak hanya berbicara mengenai akhirat, tapi juga mumpuni dalam memecahkan masalah kehidupan.  Sudah pasti mereka memiliki Ilmu Hikmah/Ilmu Laduni, sehingga mereka bisa diangkat menjadi penasehat raja yang masih beragama Hindu, dan diberikan tanah perdikan untuk mendirikan padepokan. Dengan ilmunya, mereka bisa menarik masyarakat Hindu untuk datang kepadepokannya, awalnya untuk memecahkan masalah-maslah kehidupannya, dan akhirnya tertarik menjadi pengikutnya.  Karena masyarakat Hindu saat itu sudah berasimilasi dengan budaya, tentunya sangat sulit untuk meng Islamkan masyarakat saat itu. Jika Wali Songo hanya setingkat para dai kondang yang berorientasi materi, mustahil tanah Jawa bisa di Islamkan.

— ooOoo —

About irawan firmansyah

Civil Engineer majoring in Geotechnical Engineering
This entry was posted in Spritual and Reflections and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s