Masalah Galian Basemen Dan Solusinya Pada Suatu Proyek di Medan

Pada  suatu proyek di Medan, akan dibangun bangunan  apartemen 24 lantai dengan 3 lapis basemen. Dinding penahan tanah telah dipasang berupa soldier pile diameter 0.8 m, c/c spacing 1.0  m. Penggalian-penggalian sebenarnya sudah mulai dilakukan, tetapi designer semula tidak yakin dengan  design nya sendiri, menyebabkan  owner kehilangan kepercayaan  bahwa penggalian basemen dapat dilakukan dengan  aman, mengingat salah satu sisi proyek berbatasan dengan sungai yang cukup besar dan telah diketahui ada bahaya piping.  Karena itu perlu seorang specialist geoteknik untuk menyelesaikan masalah ini, dan mulai disinilah  penulis terlibat di proyek ini dengan tugas sbb:

–   Menentukan tahapan penggalian dan shoring sedemikian sehingga  existing soldier                pile dapat menahan tekanan  tanah dan air selama penggalian dan pelaksanaan                      basement   dengan aman (momen yang  timbul tidak melebihi momen kapasitas soldier        pile).

–  Mengamankan dasar galian  dari bahaya piping.

Project site di dua sisi berbatasan dengan jalan raya, satu sisi dengan jalan local, dan satu sisi lainnya berbatasan dengan sungai.  Elevasi pemukaan tanah diarea proyek kurang lebih sama dengan permukaan jalan yaitu di -1.0 m, tetapi penggalian-penggalian yang dilakukan sebelum penulis terlibat menyebabkan muka tanah  disebagian sisi sungai berada pada elevasi – 9.0m. Top dari dinding soldier pile disisi sungai pada elevasi -4m, sama dengan elevasi muka air sungai tertinggi, sedangkan pada tiga sisi lainnya pada elevasi -1m. Adapun profil tanah yang sebagian besar sand/sandy soils adalah seperti gambar berikut:

BLOG MEDAN_PROFIL TANAH

Mempelajari kondisi yang ada, maka penyelesaian terhadap masalah penggalian basemen adalah menentukan tahapan penggalian dan shoring sedemikian sehingga momen yang timbul pada dinding soldier pile tidak melebihi momen kapasitas dari soldier pile. Selanjutnya bahaya piping dapat dihindari dengan memperpanjang flow path rembesan air. Mengingat salah satu sisi berbatasan dengan sungai, maka penulis  memutuskan untuk tidak menggunakan ground anchor sebagai support dari dinding soldier pile selama penggalian basemen, tetapi strut. Luas tapak bangunan cukup luas dan berbentuk persegi untuk  memungkinkan digunakannya “island construction method” , menyisakan “temporary berm” disekeliling  area proyek , sebagai support system selama dilakukan basement construction ditengah. Setelah struktur basemen ditengah selesai dibangun , temporary berm digantikan oleh  strut yang menumpu pada struktur  basemen ditengah, sehingga temporary berm dapat digali dan basement construction ditepi  dapat dikerjakan

Momen kapasitas soldier pile dan kondisi lapangan eksisting  mensyaratkan bahwa  permukaan atas temporary berm pada -9m untuk sisi sungai dan -8m pada 3 sisi lainnya. Dimensi temporary berm ini ditentukan sedemikian sehingga cukup untuk memberikan stabilitas pada soldier pile, sekaligus juga memberikan ruang yang cukup  bagi basement construction ditengah yang akan dilaksanakan lebih dulu. Denah dan cross-section  dari temporary berm untuk masing-masing sisi disajikan pada gambar berikut.

1 - Denah Galian

BLOG MEDAN_SECTION A B C

BLOG MEDAN_SECTION D

Momen kapasitas dari soldier pile mensyaratkan support 2 baris strut, yaitu pada -7m dan – 11m untuk menggantikan temporary berm. Gambar-gambar berikut menyajikan tahapan pelaksanaan penggalian tanah, shoring soldier piles, dan pembangunan basemen ditengah. Pada gambar-gambar tersebut hanya disajikan tahapan pelaksanaan untuk sisi proyek yang berbatasan dengan sungai saja, mengingat tahapan untuk sisi-sisi yang lain serupa tetapi lebih sederhana.

BLOG MEDAN_TAHAPAN PELAKSANAAN 1

BLOG MEDAN_TAHAPAN PELAKSANAAN 2

BLOG MEDAN_TAHAPAN PELAKSANAAN 3

Jika pada design  awalnya sheetpile (untuk mengatasi bahaya piping) dipancang disisi dalam, untuk memudahkan penggalian sekaligus mengatasi rembesan air sungai, maka sheetpile dipancang disisi luar dari dinding soldier pile seperti sketsa dibawah. Rongga antara sheetpile dan dinding soldier pile diisi dengan karung-karung pasir, Demikian juga disisi luar(sungai) dari sheetpile. Selanjutnya sheetpile tersebut diikatkan kedinding soldier pile dengan balok-balok beton yang menghubungkan capping beam sheetpile dengan capping beam soldier pile.

BLOG MEDAN_POTONGAN SHEETPILE_rev

Dengan metoda penggalian dan shoring seperti diuraikan diatas, akhirnya pembangunan basemen pada proyek ini dapat diselesaikan dengan aman.

–ooOoo-

About irawan firmansyah

Civil Engineer majoring in Geotechnical Engineering
This entry was posted in Anything About Geotechics and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Masalah Galian Basemen Dan Solusinya Pada Suatu Proyek di Medan

  1. A. Chandra says:

    Selamat malam pak. Ijin corat-coret di blog bapak sekarang.🙂

    Mungkin yang pertama ingin saya tanyakan adalah ambil contoh proyek apartemen di medan ini. Data penyelidikan tanah (SPT) untuk bangunan gedung ini hanya 4 titik, dari data yang hanya 4 titik ini apakah bapak sebagai professional geoteknik sudah merasa confidence untuk mendesain pondasi bangunan 24 lantai? Kerap kali untuk proyek swasta yang saya sempat observasi, owner terlalu enggan untuk budgeting penyelidikan tanah ini. Apakah di Indonesia ada syarat/peraturan tentang jumlah titik penyelidikan baik SPT, CPT, lab test dibanding terhadap luas area atau peruntukan bangunan?

    Bapak tau saat ini ladang kerja saya dinegri orang..hehe.. Saya ditegur Pak ketika saya coba menentukan nilai undrained shear strength dengan korelasi terzaghi x faktor efisiensi energi. Saya sampaikan argumen sebatas pengetahuan yang saya dapat semasa kuliah strata satu demikian. Kalau yang mereka lakukan disini, owner selalu menyediakan banyak sekali pengujian2 lapangan dan laboratorium, sehingga mereka punya cukup data untuk plotting Cu laboratorium terhadap NSPT (seperti grafik terzaghi) dan mencari gradien rerata nya dan itulah yang mereka pakai untuk desain geoteknik. Sementara, praktis di Indonesia minim sekali data penyelidikan tersebut, jadi kalaupun saya plot data yang ada malah terlihat seperti kertas polos dan tidak ada kesimpulan untuk tanah tersebut. Belum lagi triaxial test seperti Cu yang jarang dilakukan sehingga penentuannya hanya dari tabel/grafik dari berbagai buku. Padahal parameter tersebut sangat penting untuk menganalisis critical term nya.

    Namun kala itu saya hanya terdiam karena tidak mungkin saya yang kroco ini bilang “di Indonesia kami pakai cara tersebut (korelasi 6-7 x NSPT,penggunaan tabel/grafik empiric orang lain,dlsb)”. Didikan untuk seorang engineer pun adalah be problem solver… Dalam kondisi yang seperti diatas (upaya untuk meyakinkan owner pun sudah tidak bisa) apa yang hendak bapak lakukan? Lanjut dengan data yang ada? Atau dalam desain akan digunakan safety factor semaksimal mungkin?

    Saya tunggu petuah nya Pak.🙂

    Terima kasih..

    • Alan.
      1. Di Indoneia sebenarnya pernah ada rekomendasi jlh ttk penyelidikan tnh utk luas dan tinggi bangunan tertentu, kalau tdk salah dulu disusun oleh alm P Zanussi, sewaktu beliau masih di TPKB, tetapi sekarang sudah dilupakan orang.
      Kemudian pada saat saya dan P YP Chandra, juga P Zacheus masih sangat aktif di HATTI, juga kita susun draft rekomendasi jumlah ttk penyelidikan tanah, tetapi lagi2 dengan penggantian pengurus, draft tersebut tidak sempat di bahas dalam forum yg luas utk diterbitkan a/n HATTI.
      Jadi statusnya sekarang tdk ada aturan yg mengikat.
      Tetapi sekarang TPKB lagi galak2 nya, jadi agak lumayan. TPKB bisa memaksa owner melakukan test tertentu yg dianggap penting, misalnya minta tambah TX-CU w/ pore pressure measurement.

      2. Memang benar bahwa owner swasta umumnya sangat pelit mengeluarkan uang utk penyelidikan tanah. keadaan agak tertolong kalau tanah relatif homogen. Sesuatu yg tdk mereka sadari adalah, kalau data meragukan maka engineer akan memilih berada pada sisi konservatif. Oleh karena itu pengalaman dan pengenalan atas tanah disekitar suatu project site sangat penting utk mencegah over-conservatif. Bagi pendatang baru sangat sulit bisa menghasilkan desain yg ekonomis, kecuali dengan resiko gagal.

      3. Kondisi seperti di S’pore itu nyaman bagi para engineer. Segala sesuatunya jelas, tdk perlu menduga2 lagi, tdk perlu lihat data project lain disekitarnya. Jadi kalau datanya sdh komplit, memang anda tdk perlu memakai macam2 korelasi utk menentukan suatu parameter tanah. Hanya, kalau ingin ada penghematan secara national, maka alangkah baiknya kalau data2 yg akurat utk suatu daerah di filing dan dibuat korelasi empirisnya antar properties tanah. Saya kira ini bisa dikerjakan oleh universitas, utk dijual kepada masyarakat. dengan terkumpulnya data2 tersebut, secara perlahan akan mengurangi volume penyelidikan tanah utk suatu project.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s