Dear visitors,

This blog represents my personal identity and preferences as a geotechnical engineer who  loves to listen to various music genres, especially rock musics in the era of 70s. You may also notice that I am  a serious  observer on  many aspects of life.  I hope you  enjoy  visiting this blog.  It is my pleasure to serve you better, hence I will be eager to hear any comment/opinion from you for  improving the contents of this blog.

Regards,

Irawan Firmansyah

76 Responses to

  1. yuly says:

    Assalammualaikum WW…..
    Salam kenal P’Irawan. Saya Yuly Astuty, karyawan swasta sebuah perusahaan yang bergerak dibidang konsultan engineering. Ada yang ingin saya tanyakan kepada bapak mengenai pengujian Settlement pada Bore Pile di Kota Pekanbaru. Begini ceritanya pak! Pada saat pengujian PDA test pada sebuah bore pile yg berdiameter 60 cm, kedalaman 24 meter, berat hammer 1,7 ton, tinggi jatuh 1,50 meter, tercatat settlement 13 mm. Tiang bor ini direncanakan untuk beban izin 150 ton. Hasil uji PDA dgn daya dukung ultimate 280 ton. mohon penjelasan, 1. apakah dgn parameter tersebut di atas, settlement total dgn 13 mm masih memenuhi syarat?. 2. apakah ada formula untuk menghitung settlemen ijin tersebut?. 3. Secara umum settlement izin adalah 1″ atau 250 mm, mohon penjelasan ttg hal ini? 4. bagaimana pendapat bapak dengan SF yang kurang dari 2 untuk tiang bor di atas, bila Sf=2 maka daya dukung izin=140 ton<150 ton, terimakasih.

    • Waalaikum salam wr wb,
      Salam kenal kembali.
      Settlement pd karena tumbukan hammer pd waktu test PDA itu bukan settlement tiang ybs. Settlement akibat beban statis berbeda dengan beban tumbukan (ada faktor tinggi jatuh)
      Settlement akibat tumbukan itu hanya menyatakan bahwa energi tumbukan itu cukup besar dan berhasil men develop end bearing ( biasanya skin friction + sebagian kecil end bearing), sehingga hasil yg diperoleh benar-benar ultimate, biasanya tdk sampai ultimate, karena energi tumbukan tidak sampai men develop end bearing dengan full. Ini juga berarti tanah lunak.
      Sepengetahuan saya, SF untuk PDA minimal 2,25, sehingga daya dkg izinnya hanya 124 ton.

  2. Rofika Ratna Ardiansyah says:

    Assalammualaikum W.W Salam kenal pak nama saya Rofika Ratna, mahasiswi Teknik Sipil Semester V di Univ Riau. saya sangat tertarik dengan dialog masalah settlement di atas. Di mana saya bisa dapatkan referensi SF untuk PDA yang katanya minimal 2,25, terimakassih Pak.

    • Wa alaikum salam Wr Wb. Rofika,
      Salam kenal kembali. Saya dapat itu dari buku “Reliability – Based Design in Geotechnical Engineering : Computations and Applications” Edited by K.K. Phoon., Publisher Taylor & Francis, New York, USA.

      Secara logika kta juga bisa sampai pada kesimpulan yg sama. Kita tahu bahwa reliability (kehandalan) PDA berada dibawah static loading test dengan memakai kentledge, SF min untuk hasil loading test adalah 2. Jadi SF utk PDA harus > 2, jadi paling tidak 2.25.

      • arie soelistio says:

        Assalammualaikum W.W. salam kenal pak, saya arie mahasiswa semester V di Politeknik Negeri Ujung Pandang, Makassar. saya mau bertanya soal bore pile, apakah sudah ada pengujian permeabilitas pada bore pile dan bahan tambah terkhusus pada Bentonite?
        itu saja, terima kasih sebelumnya pak.

      • Wa alaikum salam wr wb,
        Salam kenal kembali.
        Tidak ada uji permeabilitas pada bored pile.
        Berkaitan dengan bentonite sebagai stabilizing agent, pengujiannya yg umum antaranya viscositas, density, sand content.

    • waah ada pika pika disini🙂

  3. Rofika Ratna Ardiansyah says:

    Terimakasih Ya Pak Irawan, di Riau Kami sulit mendapatkan referensi 2 teknik sipil, apalagi yang berhasa asing. dimana ya pak untuk mndapatkan buku: Computations and Applications” Edited by K.K. Phoon., Publisher Taylor & Francis, New York, USA. Tolong beri tahu ya pak. jadi saya bisa beli dimana? atau boleh ngak ya foto copy buku bapak, tapi bagaimana caranya ya. Itu saja Pak, wassalaam.

    • Rofika,
      Ada baiknya kalau anda bergabung dengan forum geoteknik indonesia, tempat dimana kita bisa berdiskusi mengenai masalah geoteknik.Kadang2 diskusinya menarik, kadang2 membosankan. Tidak dipungut biaya dan tidak ada batasan yg boleh menjadi anggota. Anggotanya mulai dari mahasiswa sampai profesional. Pengasuhnya Dr. Hendra Jitno, dulu dosen ITB, kemudian menjadi praktisi di Australia. Alamatnya adalah: forum-geoteknik-indonesia@yahoogroups.com. Sekarang sedang diskusi mengenai PDA.
      Bagi para pembaca lainnya juga saya sarankan utk ikut bergabung,

  4. Rifana Widati says:

    Assalamu ‘alaikum Pak Firmansyah. Perkenalkan, saya Rifana Mahasiswa dari Univ. Riau. Saya mau tanya mengenai penentuan CBR desain tanah dasar. Kenapa nilai CBR desain diambil 90% dari seluruh pengujian pada segmen jalan tersebut. Untuk panjang jalan 8 km, berapa idealnya harus mengambil data CBR untuk penentuan CBR desain. Mohon penjelasannya. Terima kasih. Wassalam,
    Rifana

    • Wa’alaikum salam wr wb Rifana,
      CBR desain ditentukan 90%, berarti probabilitas dilampaui (probability of exceedance) nya10%. Ini adalah faktor resiko yg diambil utk mendapatkan desain perkerasan yg ekonomis. Hal yg sama dilakukan dalam menentukan gempa desain. Diambil 10% dan 2% probability of exceedance. Kalau dulu untuk menentukan parameter desain secara sederhana diambil nilai rata2, sekarang sedikit lebih maju dengan menggunakan teori probabilitas. Jadi faktor resiko terukur.

      Pada prinsipnya test CBR bisa dilakukan lebih jarang pada tanah yg homogen dan lebih sering untuk daerah dengan tanah yg berubah-ubah. Untuk daerah yg relatif homogen, sekitar 100 – 200 m jarak antar test. Kalau tanah berubah-ubah, jarak lebih dekat. Kalau data CBR yg diperoleh terlalu bervariasi, bagi trase jalan atas segmen2 dengan nilai CBR yg kurang lebih seragam utk mendapatkan desain perkerasan yg ekonomis.

  5. Rifana Widati says:

    Terima kasih atas pencerahannya, Pak Irawan. Salam.

  6. yuly astuty says:

    Assallamualaikum Wr Wb….. terima kasih atas jawaban bapak atas pertanyaan saya kemarin.
    Pertanyaan saya pada tanggal 6 Agustus 2011, yang saya maksud adalah settlement tiang pancang bukan settlement PDA. Sebelum hammer pada saat tes PDA sudah kita ukur elevasi permukaan tiang dengan waterpas (WP), kemudian kita ukur kembali setelah selesai penjatuhan hammer. Nah, dengan settlement 13 mm seperti yang saya maksud apakah masih dalam batas toleransi, terimakasih.

    • Wa’alaikum salam wr wb,
      Jawaban saya sbb:
      1. Yang menjadi concern kita adalah settl during service life, akibat beban struktur/gedung yg bekerja. Beban ini adalah beban statis.
      2. Tidak ada korelasi antara settl akibat penumbukan dengan settl akibat beban statis tersebut diatas. Settl yg relatif besar akibat penumbukan hammer selama test PDA hanya menunjukkan bahwa end bearing telah terdevelop penuh, dan end bearing nya kecil (ujung tiang masih di tanah yg lunak). Berarti juga daya dukung tiang yg diperoleh dari PDA test adalah daya dukung ultimate.
      3. Karena tdk ada kolerasi antara kedua settl, maka berapapun sttl PDA tdk ada kaitan dgn settl izin.
      4. Settl 1 tiang dengan settl group tiang berbeda. Semakin besar group tiang, semakin besar settl utk beban pertiang yg sama, terbenam pada tanah yg sama. Ini karena bola tegangan akan bertambah besar dengan semakin besarnya fondasi / group tiang..
      5. Settl akibat beban service life bisa dihitung dgn metode poulos & davis utk pile group kecil (jlh tiang max 10) dan terzaghi one dimensional consold utk pile group besar.

      Hanya itu maksimal yg bisa saya jelaskan melalui forum ini. Diskusi detail hanya bisa dengan tatap muka; harap konsultasi dengan ahli geoteknik setempat.

  7. Annin Hudaya says:

    Your comment is awaiting moderation.

    Yth p.Irawan, Halo apa khabar pak? Saya tahu alamat blog bapak dari Forum Geoteknik. Sungguh menarik sekali membaca isi ulasan/pencerahan/ pengalaman bapak yang sangat padat sekali dalam bidang geoteknik…. Saya turut merasakan kebahagian dan kebanggaan
    bapak atas prestasi anak2 tersayang…! P.Irawan, mohon pencerahan bapak apakah ada formula korelasi antara nila nilai CBR dengan qc Sondir atau N SPT…? Apakah benar qc =3 CBR dan itu formula siapa ya…? Ada di textbook atau makalah/jurnal mana ya…?

    Atas pencerahannya , sy haturkan banyak terima kasih. Salam untuk keluarga…

    • Pak Anin,
      Terima kasih, saya baik2 saja. Lama kita tdk ketemu, mungkin terakhir waktu
      di Aston – Mangga Dua.
      Yang saya ada adalah korelasi Unconfined Comp Strength quu vs CBR sbb:

      quu (kPa) = 16 CBR (%)

      Korelasi ini dalam bentuk grafik, dan cukup baik utk CBR Cu = 6 x 7 ~ 45 kPa –> quu = 90 kPa
      Jadi CBR nya kira2 90/16 = 6 %.

      Jadi buat estimasi kasar: CBR = N
      Clay –> qc (kg/cm2) = 2 N –>CBR = 1/2 qc atau qc = 2 CBR

      Utk preliminary, estimasi tsb bisa dipakai, tapi utk detailed design atau proyek penting saya sarankan test field CBR saja.

      • Annin Hudaya_Stadin says:

        P.Irawan,

        1.Kalau tdk salah kita ketemu lagi saat saya ikut pembekalan tambahan untuk bisa dapat SIPTB Geoteknik Gol A bagi pemegang G1, dimana bapak sebagai saat itu sebagai salah satu pembawa materi tentang DPT untuk galian basement…

        Terima kasih atas pencerahannya , namun apakh bisa diinfokan juga korelasi tsb teori/formula siapa dan ada di textbook mana ya…?

        2.Saya melihat bapak sering menggunakan “Frew” untuk analisa DPT galian basement untuk bangunan tinggi…Apakah pernah membandingkan hasilnya dengan kalau pakai Plaxis2D …?

        3.Apakah bapak punya pendapat/komentar yang bisa di share tentang Midas GTS ?

        TerimaKasih+Salam Geoteknik…!

        AnninHudaya_Stadin.

      • P Anin,
        1. Ya, saya ingat kembali ketemu anda pada event itu
        Penurunan formula2 tsb sebenarnya memakai formula yg biasa dipakai, seperti Cu = 7 N (kPa). Itu kira2 utk SPT di Indonesia. Dasarnya adalah karena SPT kita alat2nya dari Jepang atau tiruannya. Dari tulisan Seed et al: ” Influence of SPT Procedures in Soil Liquefaction Resistance Evaluation, ASCEVol 111 N0 12 Dec 1985, diketahui energy ratio SPT di Jepang, dan itu lebih tinggi dari energy ratio di US. Kalau di US Cu ~ 6 N, kalau Indonesia kira2 7 N (kPa).
        qc/N = 2 utk silt – cla dengan sedikit sand (kira2 tanah merah yg biasa dipakai nguruk) itu dari tabelnya Schmertmann. Kemudian grafik quu vs CBR dari gbr berikut, yg saya dapat dari P YP Chandra, lebih dari 10 thn yl. Jadi beliau lebih tahu asal usulnya grafik tsb. Kalau diperlukan Gbr akan syemail, tlg kirim email anda.
        2. Saya blm pernah membandingkan. Di Indonesia dan negara2 sekitarnya, kadang2 sering rancu antara routine design works dengan research. Kalau ada teman yg kerja di US, coba tanya program yg mereka pakai utk routine design works. Umumnya simpel2 saja, karena tdk ada yg membayar utk waktu yg mereka spend jika terlalu time consuming.Paling gampang coba intip laporannya P Sd yg PE California, program apa yg ia pakai. Saya tdk anti Plaxis, tetapi pendekatan yg benar secara menyeluruh lbh penting dari analisa detail tapi pendekatannya kurang tepat. Contoh: ada struktur berbentuk cone seperti cone es krim, dan bebannya butiran bentuknya juga seperti es krimnya, jadi paling tinggi di tengah. Struktur itu dipegang ditepi atas cone, jadi seperti digantung, tetapi ada dibawah tanah. Artinya bagian paling lemah menahan tegangan paling tinggi, sehingga crack di ujung bawah cone.Ada yg memakai tiang2 mini yg dipancang seluas selimut cone, dan dilakukan FEA. Kalau saya, bagian yg lemah itu di support, jadi diujung bawah itu diberi fondasi. Hanya perlu beberapa tiang masalah selesai dengan cepat, dengan analisa yg sangat sederhana. Saya sering menemukan hal2 seperti ini, pendekatan tdk tepat, lalu dibungkus dengan analisa yg canggih2.
        FEA tdk bisa kita hindari kalau ground deformation daerah sekitar menjadi tugas kita. Tapi nilai mutlaknya tetap menjadi suatu tanda tanya besar, kecuali setelah di fine tune dengan hasil monitoring instrumentasi.
        3. Saya kira Midas terlalu mahal utk di Ind. Tdk ada proyek yg bisa dibebani utk membeli rpog tsb. Kembali ke no 2, apakah kita memang mebutuhkan analisa sedemikian akurat dalam pekerjaan kita” Utk keperluan akademis saya kira OK.
        <

  8. Yuly says:

    Ass… saya ingin menanyakan referensi tentang perhitungan efisiensi pondasi tiang dari Bowles yang pernah bapak bahas dengan Pak rony Ardiansyah di blog ini. Mohon bantuannya dan terima kasih sebelumnya.

  9. Yuly says:

    Maaf pak, maksud saya referensi mengenai Effisiensi group tiang ( hitung pakai Terzaghi & Peck atau yg sudah dimodifikasi oleh Poulos & Davis) bisa saya dapatkan dari buku apa???

  10. MUHAMMAD ALI KURNIADI NAWIR says:

    ASSALAMU’ALAIKUM PAK IRAWAN.
    Saya mahasiswa S1 Teknik Sipil Universitas Islam Riau Pekanbaru pak,
    saya mau bertanya dan saya berharap bapak berkenan menjawabnya.
    1. saya sedang skripsi tentang stabilitas pondasi bored pile pak, yang ingin saya tanyakan pada bapak untuk menghitung efisiensi kelompok tiang bor apakah masih bisa menggunkan persamaan berdasarkan pile layout? jika sudah tidak persamaan mana yang bisa digunakan untuk menentukan efisiensi kelompok tiang pak? dari buku apa saya bisa mendapatknnya pak? karena di skripsi membutuhkan sumber yang jelas pak?

    2. pertanyaan kedua saya tentang batas izin penurunan pondasi bored pile, persamaan atau ketetapan tentang batas izin penurunan pondasi bored pile apa pak?
    yang saya jumpai batas izin untuk tiang tunggal adalah (S= 10 % D) itu sumbenya darimana pak?
    untuk penurunan izin dalam bentuk kelompok tiang apa persamaannya pak?

    mohon bantuan bapak irawan, semoga Allah SWT selalu melindungi dan menjaga bapak beserta keluarga atas kerendahan hati bapak untuk selalu membantu. amin.

    • Wa’ alaikum salam wr wb,
      Sdr Muhammad Ali, sebenarnya blog ini tdk utk mahasiswa, apalagi dengan pertanyaan2 yg sangat basic,karena pertanyaan2 itu seharusnya diajukan pada dosen/pembimbing anda, paling tidak ia harus memberikan referensi. Pertanyaan2 tsb bisa juga anda ajukan ke “Forum Geoteknik Indonesia” pada Yahoo Groups. Sebenarnya pertanyaan2 dasar itu bisa dicari jawabannya di buku2 mengenai Pile Foundation, apakah sudah anda coba?.
      Adapun jawaban singkat saya sbb:
      1. Efisiensi kelompok tiang sekarang (paling tidak di DKI) tdk enggunakan rumus2 yg berdasarkan pile layout. Saya menggunakan rumus Terzaghi & Peck yg dimodofikasi Poulos & Davis. Sumber Pile Foundation Analysis and Design by Poulos and Davis.
      2. Settlement 10% D itu adalah perkiraan settlement pada saat tercapai kapasitas ultimate tiang.
      Pada pile group yg menentukan adalah serviceability dari struktur yg di support oleh pile group tsb. Untuk gedung misalnya dibatasi sekitar 10 cm, sekalipun tiang belum mencapai ultimate. Sekalipun beban pertiang masih relatif kecil, settlement pile group bisa menjadi besar karena besarnya stress bulb dengan kedalaman sekitar 2 B (B = lebar pile group) dibawah equivalent footing.

      Salam,
      IF

  11. Yan says:

    Assalamualaikum Wr. Wb. Pak Irawan.
    Salam kenal Pak, saya Yan, geotek engineer dan juga penggemar musik rock 70an seperti Focus, Ursa Major, Rush dll.
    Untuk sementara sekian dulu

  12. A. Chandra says:

    Selamat sore pak IF ysh, lama tidak mampir kesini. Ada pertanyaan pak seputar pondasi tiang.

    High rise building umumnya menggunakan core untuk resistansi saat beban gempa terjadi dan load yang diakibatkan jadi sangat besar terkonsentrasi pada daerah core ini. Ambil contoh bangunan dengan model seperti Mall Taman Anggrek. Bangunan tersebut memiliki podium yang diperuntukan sebagai shopping mall. Sementara ditengah podium ada bangunan apartement > 25 lantai dan saya asumsikan ada core wall persis ditengah footprint podium. Katakan seluruh area bangunan (podium+tower) akan menggunakan sistem pondasi dalam dengan slab yang begitu tebal dan rigid untuk mengikat pondasi tiang sementar beban total yang terkonsentrasi ,misal, 10000 ton pada area podium dan 9000 ton pada area core saja. Hasil pembagian luas podium dengan diameter dan spasi pile didapatkan 100 tiang saja.

    Apakah benar jika perhitungan kebutuhan allowable bearing diperoleh dari penjumlahan dua beban yakni 10000+9000 = 19000 ton dibagi jumlah pile = 190 ton per tiang? Atau harus dipisahkan tiang untuk core sendiri dan podium sendiri (meskipun nantinya keseluruhan area akan disatukan dengan slab yang sangat tebal)?
    Karena hal tersebut akan berpengaruh ke panjang tiang yang diperlukan untuk mencapai capacitynya ya.

    Mohon pencerahan dan terima kasih pak.

    Best regards,

    Alan

    • Dear Alan,
      Saya dengar sudah kembali ke Jkt, sedang sibuk proyek apa?
      Saya coba menjawab pertanyaan Alan sbb:
      Pada umumnya Tower dan Podium secara structural terpisah, sekalipun keadaan aktualnya ground slabnya nyambung. Ketebalan ground slab (mat) untuk tower sekitar 2.5 ~ 3 m, sedangkan untuk podium sekitar 1m, kadang2 dengan penebalan pada lokasi kepala tiang. Tiang bor yg digunakan juga umumnya beda diamater antara Tower dan Podium, sedangkan panjangnya kadang2 sama kadang2 lebih pendek di Podium.

      Dengan demikian, beban Tower termasuk beban gempa pada core nya ditahan oleh tiang2 yg dibawah ground slab Tower. Tiang2 dibawah ground slab Podium hanya menahan beban Podium. Sering kali beban yg dominan di Podium adalah beban uplift, terutama kalau Podium seluruhnya underground.

      Saya tdk pernah menjumpai Tower dan Podium menggunakan ground slab yg sama tebalnya.Saya tdk pernah menjumpai ground slab podium yg > 1m.
      Mudah2 an ini menjawab pertanyaan Alan.

      Salam,

      • A. Chandra says:

        Dear Pak IF,
        Betul Pak, saat ini saya terlibat di proyek apartement milik pengembang di Jakut.

        Waduh, kebetulan dari structural engineer dikeluarkan hasil analisis mereka menggunakan ketebalan base slab yang seragam baik tower dan podium nya. Memang uplift force nya besar dan karena jarak kolom di podium cukup berjauhan dengan jumlah lantai > 8, sehingga load nya lebih besar dari tower (hanya beda luasan tributary saja).
        Tapi kalau dari penjelasan bapak, sebaiknya saya hitung bearing pressure untuk tower dan podium secara terpisah saja.

        Kalau boleh request nih pak, post tentang negative skin friction..🙂

        Best regards,
        Alan

  13. jhon sutrisno says:

    Assalamualaikum Wr. Wb. Pak Irawan.
    salam kenal, saya ingin mengajukan pertanyaan itupun kalau Pak Irawan berkenan untuk menjawabnya, Dalam menginterpretasikan data test ada beberapa metode untuk menentukan kapasitas ultimit dari suatu tiang bored pile seperti Metode Davisson, Chin Method, De Beer, Mazurkiewich dll. Masing2 metode menghasilkan nilai yang berbeda- beda, yang menjadi pertanyaan saya adalah sebagai konsultan metode mana yang palin tepat untuk digunakan dan alasanya apa??
    terima kasih pak
    salam kenal

    • Wa’alaikum salam wr wb,
      Salam kenal kembali.
      Pada prinsipnya ada 2 kelompok besar metode interpretasi hasil loading tes; pertama yg menghasilkan Q disekitar Qult geoteknik, dan kedua yg menghasilkan Q disekitar Q yield. Kelompok pertama misalnya metode Chin. Mazurkiewich, dll, dan kelompok kedua diantaranya Davisson, Log p-Log S, dll. Jadi jelas SF yg digunakan utk kedua kelompok tsb berbeda. Utuk kelompok pertama SF >=2.5, sedangkan utk kelompok kedua SF >= 2. Utk Davisson saya biasa menggunakan SF 2.25, karena Qult nya jatuh setelah Qyield, tetapi belum Qult yg sebenarnya.
      Jadi harus mengerti Qult yg dihasikan dari masing2 metode itu jatuh dimana, utk menentukan nilai SF. Gunakan beberapa metode dan nilai Qa mengerucut ke nilai berapa, itu yg digunakan.

      Salam,

  14. indra says:

    assalamualaikum wr.wb.
    salam kenal nama saya indra dari cirebon.
    pak sy mau bertanya knpa untuk cbr desain harus 90%. dalam perencanaan apa boleh mnggunkn cbr desain diatas ato dibawh 90%.untuk referensi ato sni tentang nilai cbr desain tu dgunkn yg mn pak.terima kasih.
    wasalam

    • Wa’alaikum salam wr wb,
      Salam kenal kembali Mas Indra.
      CBR desaian diambil 90%, artinya ada 90% data CBR yg nilainya > CBR desain, dan ada 10% yang nilainya <CBR desain. Berarti pada akhir umur rencana, ada 10% dari panjang jalan yang rusak lebih dulu, dan ini dianggap wajar pada perencanaan jalan. Dengan demikian CBR desain ini yang dipakai pada perencanaan perkerasan jalan menurut SNI (Bina Marga) dan kalau tdk salah CBR desain ini juga dipakai AASHTO, karena Bina Marga dulu mengambil sebagian besar metoda AASHTO.

      Tentunya CBR desain bisa kita ambil berapa saja, dengan konsekwnsinya masing2, khususnya kalau kita mendesain jalan milik kita sendiri. Misalnya kalau diambil CBR desain = CBR rata2 (50%), berarti 50% panjang jalan mempunyai nilai CBR < dari CBR desain, dan berarti 50% panjang jalan tsb akan rusak lebih dahulu.
      Semoga jawaban ini mencerahkan.

      Salam,

  15. abdullah salam says:

    Asalamualaikum wr.wb pk irawan semoga bpk selalu diberi kesehatan lahir dn batin..
    prknalkan nm sy abdullah salam, pk .mhsiwa univ. Islam riau..
    Sya brharap bpk brknan mnjwb prtnyaan sy..yg mana sy masih minim pengetahuan dan minim pengalamn.

    saat ini saya sedang mencoba menghitung beban aksial pada pondasi borepile.
    Dari hasil PDA test, ternyata daya dukung pondasi tersebut nilai SF nya tidak mencapai 2 sedangkan syaratnya nilai SF itu harus >2, bahkan dalam pembicaraan sebelumnya untuk PDA test nilai SF itu min 2,25.
    Bagaimana pendapat dan saran bapak tantang masalah ini pak?

    2. apakah nilai SF>2 itu dipakai untuk semua
    perencanaan pondasi pak?, bgmn untuk perencanaan gedung tinggi anggap saja 100 lantai, apakah pondasi yang direncanakan harus mampu memikul beban 2 kali lipat dari beban yg bekerja bahkan lebih.

    Terimaksih banyak pak irawan atas waktunya

    • wa’alaikum salam wr wb
      Salam kenal kembali.
      1. Untuk menentukan daya dukung izin tiang dari data tanah maka paling tidak digunakan SF=2.5
      2. Jika ada data loadng test, maka digunakan SF= 2 ~ 2.5, tergantung metoda interpretasi yang digunakan. Jika metoda tersebut menggunakan kriteria beban batas mendekati beban batas sebenarnya, maka gunakan SF = 2.5, tetapi kalau kriteria beban batasnya disekitar beban yield, maka gunakan SF = 2.
      3. Untuk PDA dari informasi yg saya tahu, dianjurkan menggubnakan SF 2.2.5

      Salam,

  16. indra says:

    assalamualaikum.
    sy indra dr crbon.sy mau tanya pak.kl nilai cbr desain sudah diatas > 3% tetapi jnis tnah subgrade jalanny lempung dengan konsistensi kenyal.pengembangan tinggi.perubhan volume besar..apa bsa dktkan kl tanah subgradnya kurang memadai untuk konstruksi subgrade jalan.makasih pak.wss

    • Indra, Untuk desain perkerasan yg tdk boros, diperlukan nilai CBR subgrade > = 7. Kalau kembang susut nya besar, sudah pasti tanah tsb tdk cocok sebagai subgrade. Untuk memperbaiki tanah tersebut, bisa juga dicampur dengan tanah pasiran. Berapa persentasenya yang optimal, bisa dicoba-coba di lab.

      Salam

  17. dwi4novi says:

    Salam pak Irawan..

    Saya ingin menanyakan tentang hasil SPT yg waktu itu sempat saya kirimkan, dan bapak katakan tidak standart. Mengapa tidak standart ya pak? Apakah krn N value nya blom mencapai 50/15 pak? Mohon bantuannya. Dan yg seharusnya seperti apa pak yg baik dan standart?

    Salam,
    Novi

    • Novi,
      Per ASTM, secara singkat SPT N Value adalah jlh tumbukan hammer corresponding dgn penetrasi 2 x 6 inch atau 2 x 15 cm.(persyaratan berat hammer dan tinggi jatuh lihat di ASTM).
      Dalam boring log itu dicatat jlh tumbukan hammer per penetrasi 20 cm, jadi tdk sesuai dengan definisi diatas.

      Salam,

  18. Yan says:

    Assalamualaikum pak Irawan dan selamat merayakan hari kemenangan 1 syawal 1434.
    Salam kenal pak saya sesama penikmat musik rock 70-an dan sempat koleksi PH, sekarang tinggal 100 buah-an. Ada beberapa pertanyaan pak :
    1. musik progresive rock apa yang paling bapak sukai?
    2. koleksi musik bapak berupa apa saja?
    3. untuk desain dinding penahan tanah, apakah untuk kondisi short term cukup pakai undrained shear stength saja (cu) dan untuk long term cukup pakai sudur geser efektif saja (tanpa menyertakan kohesi)?

    Salam,

    Yan

  19. shiamoy says:

    sya shiamoy, mahsiswa teknik sipil tingkat akhir mau nyusun,
    sya mau tnya pak, metode apa2 saja yg bisa digunakan untuk perhitungan ground anchor ??

    tq pak irawan

    • Shiamoy,
      Prinsipnya sama dengan menghitung tahanan friksi tarik fondasi bored pile, hanya ada perbedaan sedikit dalam nilai konstanta Ks jika terbenam dalam pasir, dan konstanta alpha jika terbenam dalam tanah lempung.
      Coba cari dan baca referensi2 berikut:
      – BS 8081: British Standard Code of practice for Ground Anchorages
      – Canadian Foundation Engineering Manual
      – T.H.Hanna: Foundations in Tension, Ground Anchors
      Saya kira pembimbing anda ikut bertanggung jawab atas ketersediaan referensi yg cukup bagi mahasiswa yg dibimbingnya.
      Dulu waktu saya masih mengajar di UI, saya selalu memberikan referensi bagi mahasiswa yg saya bimbing. Kelihatannya sekarang para dosen lepas tangan, membiarkan para mahasiswa mencari topik dan referensinya. Ada kemungkinan karena sang dosen steril dari praktek dibidang keahliannya.

  20. anny irhamy says:

    Assalamualaikum wr wb
    salam kenal pak, semoga bapak bisa membantu untuk menjawab pertanyaan saya
    berapa nilai toleransi settlement pada pondasi untuk bangunan highrise? demikian termakasih

    • Wa’alaikum salam wr wb Anny,
      Salam kenal kembali. Nilai settlement max untuk highrise building adalah 15 cm, sedangkan differential settlement antara 2 titik adalah < = 1:300 L, dimana L adalah jarak antara 2 titik yg ditinjau. penyimpangan dari batasan diatas diperbolehkan asal bisa dibuktikan bahwa struktur bangunan mampu menhan settlement tsb dan tdk menimbulkan pengaruh ke lingkungan sekitar. (Peraturan P2B Propinsi DKI Jakarta No 50 Tahun 2007, BAB III Perencanann Fondasi dan Analisis Geoteknik, Pasal 3.8 Penurunan Bangunan).
      Semoga membantu.

      Wassalam,

  21. Assalamualikum wr wb,
    pak Irawan, saya khassi di jakarta, pertanyaan saya mengenai likuifaksi, minta bantuannya pak untuk informasi buku atau literatur khusus mengenai analisa dan perhitungan likufaksi berdasarkan uji SPT dan DCPT karena selama ini saya cari via google dan beberapa buku-buku kuliah hanya sekilas saja tanpa terperinci penjelasannya. Terima kasih

    • Wa’alaikum salam wr wb mbak khassi,
      Referensi yg saya tahu dan ini merupakan pokok dari pengembangan2 selanjutnya, dimana dengan membaca ini seseorang akan mengerti mengenai kiquefaction:

      – H. Bolton Seed & I.M. Idriss: “Ground Motions and Soil Liquefaction During Earthquake”, Earthquake Engineering Research Institute, USA.
      – H. Bolton Seed, K. Tolimatsu, L.F. Harder, and Riley M. Chung (1985): “Influence of SPT Procedures in Soil Liquefaction Resistance Evaluations”, ASCE Journal of Geotechnical Engineering Vol 111 No 12 Dec 1985, pp 1425 – 1445.

      Pada referensi kedua, Prof Seed almarhum memasukkan SPT energy ratio untuk berbagai SPT procedures didalam Simplified soil Liquefaction Analysis yg diperkenalkannya.
      Satu lagi adalah komputer program GADFLEA beserta manualnya yg di terbitkan oleh Univ. of California-Berkeley, pengarangnya saya lupa, kalau tdkk salah Chopra, untuk mendesain gravel column untuk mengatasi EQ dengan magnitude tertentu.

      Wassalam,

  22. Sudsrmono sitindaon says:

    Horas..

    Salam kenal P’Irawan. Saya Sudarmono sitindaon, karyawan swasta sebuah perusahaan yang bergerak dibidang PLTU. Ada yang ingin saya tanyakan kepada bapak mengenai pengujian Settlement pada Bore Pile di Berau-Lati KALTIM. Begini ceritanya pak! Pada saat pengujian PDA test pada sebuah bore pile yg berdiameter 60 cm, kedalaman 25 meter, berat hammer 1,7 ton, tinggi jatuh 1,50 meter, tercatat settlement 13 mm. Tiang bor ini direncanakan untuk beban izin 150 ton. Hasil uji PDA dgn daya dukung ultimate 280 ton. mohon penjelasan, 1. apakah dgn parameter tersebut di atas, settlement total dgn 13 mm masih memenuhi syarat?. 2. apakah ada formula untuk menghitung settlemen ijin tersebut?. 3. Secara umum settlement izin adalah 1″ atau 250 mm, mohon penjelasan ttg hal ini? 4. bagaimana pendapat bapak dengan SF yang kurang dari 2 untuk tiang bor di atas, bila Sf=2 maka daya dukung izin=140 ton<150 ton,
    5. saat concrete masuk K350 tapi realnya disite after test jadi K175 buat pondasi, nah bagaimana cara analisa atau apa solusinya agar pondasinya tidak dibongkar.

    Terimakasih.
    Reply

    • Horas P Sitindoan,
      Saya jawab sesuai urutan jawaban yg mungkin tdk sama dengan urutan pertanyaan, sbb:

      1. Settlement 13 mm akibat tumbukan hammer dengan tinggi jatuh tertentu saat test PDA tdk sama dengan settlement pile group saat service life ( tiang bor yg test pastilah salah satu tiang didalam group tiang). Settlement akibat tumbukan hammer saat test PDA menggambarkan seberapa besar end bearing termobilisasi. Semakin besar settlement tentunya semakin besar end bearing termobilisasi, masalahnya energy tumbukan yg besar dapat membuat tiang retak. Untuk test ini saya kira end bearing telah termobilisasi penuh, berarti prediksi daya dukung ultimate cukup akurat. Bisa diduga ujung tiang tdk duduk pada tanah yg keras, atau banyak lumpur yg terperangkap diujung tiang.

      2. Mengenai SF, menurut yg saya ketahui utk test PDA, minimum 2.25 (PDA ~ metoda Davisson), atau kalau nekad ya paling tidak 2. Jadi paling tinggi daya dukung izinnya 140 ton. Malah kalau saya akan pakai 125 ton. Kalau kurang yakin lakukan lagi PDA untuk sejumlah tiang, jika khawatir kebetulan yg ditest PDA adalah tiang dengan daya dukung < dari tiang2 yg lain. Record pemboran dan pengecoran bisa dijadikan acuan untuk memilih tiang2 yg akan di PDA, misalnya utk memilih tiang terjelek dan terbaik.

      3. Utk menghitung settlement pile group besar, one dimensional consolidation Terzaghi bisa dipakai utk menghitung consolidation settlement.

      4. Pengecoran beton dalam tanah pasti akan membuat mutu beton turun dari mutu aslinya (mutu batching plant), khususnya untuk tiang sekitar toe. Akan tetapi mutunya tdk turun sedrastis seperti itu. Disalah satu proyek besar di Jkt. fc' diasumsikan turun 2 MPa dari nilai diatas tanah.

  23. Dwi Kiprah Aksono says:

    Assalamu’alaikum,,,,WR,,WB,,Salam kenal Pak Irawan, saya mahasiswa S1 teknik sipil semester 7 yang sedang Kerja Praktek, begini Pak, saya sekarang sedang membuat laporan Kerja Praktek dengan judul ” Tinjauan Pelaksanaan dan Perhitungan Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang dengan METODE STATIS”. Nah permasalahan saya Pak, saya mendapatkan amanat dari Pembimbing saya untuk membuat laporan di atas berdasarkan CODE dari luar seperti British, AUSTEEL,AISC, dan lain-lain selain SNI, nah yang saya tanyakan adakah referensi atau situs mengenai CODE Tinjauan KP saya tersebut di atas ? Terima Kasih , Wassalam.

    • Wa’alaikum salam wr wb, Salam kenal kembali.
      Yang bisa dijadikan referensi diantaranya:
      – Canadian Foundation Engineering Manual
      – NAVFAC DM-7.2 Foundation and Earth Structures

      Dua referensi ini yg paling sering dipakai oleh geotech. engineer di Indonesia. yg lainnya ada British Standard dan ada juga Building Code dari Singapore, tetapi jarang dijadikan referensi. Ada baiknya ditanyakan ke pembimbing arahannya, dan apa yg dia punya. Saya khawatir ybs tidak tahu dan tdk punya referensi apa2. Ini trend pada sebagian dosen, meminta sesuatu padahal dia sendiri tdk menguasai masalahnya. Banyak dosen yg tdk bersentuhan dengan industri, karena itu sangat terbelakang pengetahuannya. Apalagi kalau tdk aktif mengikuti kegiatan2 HATTI sebagai wadah asosiasi para ahli geoteknik.

  24. Suhu Irawan ysh, sedikit nimbrung…

    Setahu saya AISC code = American Institute Of Steel Construction _sesuai namanya_ hanya berbicara tentang steel construction, tidak tentang perhitungan Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang…
    Walaupun tidak familiar, dari namanya pula, Austeel juga nampaknya berbicara tentang steel construction…

    Mudah2an mas Dwi hanya salah dengar atau salah kutip/tulis arahan sang Dosen Pembimbing…, Pnamun kalau tidak tentunya sangat disayangkan bagaimana sang Dosen Pembimbing bisa “membimbing” mahasiswanya dengan baik dan benar…..😦

    Salam Geoteknik…

  25. Ben Usagani says:

    Yth. Pak Irawan Firmansyah, saya Ben Usagani yang pernah menghadiri IABSE Conference di Seoul 2012 dan bertemu bapak disana.
    Saya senang bisa membaca tulisan tentang jembatan dan jetty yang ada di blog bapak.
    Perusahaan saya PT. Swi Jetty NUsantara dan saya sudah dibidang pekerjaan konstruksi dermaga dan pekerjaan dibawah air sejak tahun 1966.
    Telah beberapa tahun saya mempelajari metode pelaksanaan fondasi Jembatan Bentang Pajang khusus untuk laut dalam dan telah mengunjungi sebagian besar dari jembatan dengan bentang terpanjang didunia.
    Saya sedang menulis tentang hal itu dengan tujuan untuk memberi pandangan tentang berbagai sistim konstruksi fondasi yang mungkin diterapkan di JSS agar dapat dibayangkan kesulitan yang akan dihadapi, yang belum pernah dilakukan sebelumnya.
    Salam
    Ben Usagani

    • Dear Pak Ben Usagani,
      Kita ketemu lagi di sini. Dulu juga kita sering ketemu waktu urus Indo Construction dengan Pak Limasalle.
      Terima kasih atas pujian bapak. Saya juga salut atas kegigihan bapak untuk terus menulis disela sela kesibukan bapak.
      Semoga apa yg menjadi concern bapak diperhatikan pada proyek JSS.

      Salam,
      Irawan

      • Ben Usagani says:

        Pak Firmansyah,

        Ya pak saya masih ingat saat kita berusaha menghidupkan majalah IndoConstruction yang ternyata tidak mudah kalau tidak dilakukan dengan sepenuh waktu.

        Apakah pak Firmansyah akan menghadiri Istanbul Bridge Conference yang akan diadakan tgl.11-13 Agustus 2014 yad?
        .
        Saat ini di Istanbul sedang dibangun 2 jembatan yang saya anggap istimewa, yaitu Izmit Bay Bridge dan The 3rd Bosphorus Bridge.
        Keistimewaan dari Izmit Suspension Bridge adalah: Bentangan tengah 1550m yang akan menjadi bentangan tengah terpanjangke 4 didunia, mengalahkan Yi Sun-Sin Bridge 1545m, fondasinya yang terletak dikedalaman – 45m berupa Caisson Kotak dengan ukuran 54m x 67m x 15m dengan 2 kolom silinder diameter 16m yang memikul balok sebagai alas dari Pylon. Caisson duduk diatas kumpulan tiang pipa pancang dengan lapisan batu diatasnya, sistim yang sama dengan Rion Antirion Cable Stayed Bridge ( kedua duanya dirancang oleh ahli Perancis ). Caisson saat ini mungkin sudah diapungkan keluar dari temporary dry dock nya.

        Untuk The 3rd Bosphorus Bridge, keistimewaannya adalah : akan menjadi suspension combined with Cable Stayed bridge dengan bentangan tengah terpanjang didunia untuk kategori 2 x 4 jalur mobil + 2 jalur kereta api dalam satu bidang – 1408m ( Tsingna Bridge 1377m ). Lebar jembatan 58m, sedikit lebih kecil dari SFO-Oakland East New Self Anchored Suspension Bridge yang 61m. Ini juga dirancang oleh ahli dari Perancis.

        Saya kira Istanbul Bridge Conference ini akan menarik untuk inisiator JSS, sebab mungkin ini akan menjadi solusi fondasi yang cocok.

        Salam

        Ben Usagani –

  26. Nova says:

    selamat pagi pak, saya mau bertanya, nilai midulus geser tanah itu didapatkan dari mana pak? apakah ada tabelnya seperti tabel modulus elastisitas dan poisson ratio? terima kasih banyak pak atas perhatiannya.

    • Shear modulus G = E/2(1+ v) dimana E modulus elastisitas tanah dan v poisson ratio. Tabel yg ada utk E, dan v.
      Shear modulus biasa dipakai utk foundation vibrations, dan sering dipakai rumus G = p Vs Vs ( sorry saya tdk bisa nulis kwadrat pakai hp), dimana p mass density = gama/ g dan Vs = shear wave velocity

  27. Fauzia says:

    Assalamu’alaikum saya ingin bertanya pak
    Bagaimana cara menghitung efisiensi tiang kelompok jika bentuk pondasinya segitiga, segilima
    Mohon bantuannya pak.
    Terimakasih

    • Wa alaikum salam wr wb,
      Prinsipnya efisensi kelompok tiang adalah membandingkan daya dukung ultimate group dengan n x daya dukung ultimate tiang tunggal, dimana n adalah jumlah tiang.

      Eff = (Daya dukung ult group) / (n x Daya dukung ultimate tiang tunggal)
      < = 1

      Daya dukung ult group = Pgroup = Luas dasar group x tahanan tanah pd ujung tiang
      + Jumlah (luas selimut group utk tiap lapis tanah x tahanan friksi utk tiap lapis tanah)

      Jadi apapun bentuknya, bisa dihitung end bearing group maupun tahanan friksi group, karena luas dasar group dan luas selimut group bisa dihitung. Itu dengan asumsi bahwa unit end bearing pada level ujung bawah tiang dan tahanan friksi pada tiap lapis tanah sepanjang tiang bisa Fauzia hitung, apapun jenis tanahnya.
      Maaf pada forum ini saya tdk bisa menjelaskan lbh detail mengenai cara menghitung unit tahanan ujung (unit end bearing) dan unit tahanan friksi untuk masing2 jenis tanah, yaitu tanah kohesif dan tanah granular.
      Utk lebih jelas bisa dibaca pada buku Poulos & Davis: Pile FoundationAnalysis and Design, Chapter 3.3.

  28. YTH pak Irawan Firmansyah,

    Saya dari PT. Poso Energy, salah satu perusahaan yang bergerak di pengembangan dan investasi PLTA di Indonesia milik Kalla Group. Perusahaan kami saat ini akan mengerjakan beberapa PLTA dan membutuhkan advise Bapak sebagai Ahli bidang Geologi Teknik. Apabila Bapak ada waktu, kami akan mengundang Bapak untuk diskusi detail mengenai desain yang sudah kami susun.
    Informasi detail, Bapak bisa hubungi saya di nomor 0811117220 atau melalui email di prabono@posoenergy.com
    Atau kalau Bapak berkenan, mohon saya dapat diberikan nomor handphone Bapak dan saya akan hubungi Bapak segera.

    wasalam
    Prabono

  29. Sudarta says:

    Selamat malam Pak Irawan dan salam kenal dari saya.
    Saya sedang mencari senior engineer yang dapat dijadikan mentor untuk design jetty, apa boleh saya dapat nomor kontak bapak. tks

    salam,
    Sudarta

  30. Arif Widiyanto says:

    Assalamu ‘alaikum, Pak Irawan, senang saya membaca uraian pencerahan di blog bapak berkaitan dengan masalah geoteknik dan jalan. Pak Ir, saya ingin diskusi dan pencerahan bapak mengenai pengaruh beban dinamis terhadap pipa gas di bawah jalan raya. Pada ruas jalan yang kami design, terdapat pipa gas sedalam 2,25m dari permukaan. Suatu ketika permukaan jalan tersebut dipasang pita kejut (rumble strip) dengan ketebalan 15mm. Dikhawatirkan dengan pemasangan rumble strip tersebut menimbulkan getaran beban kendaraan yang berefek ke pipa gas dibawah jalan. Seberapa besar pengaruh beban (dinamis?) kendaraan tersebut pada pipa. Mohon pencerahannya ya Pak, selkaligus referensi untuk perhitungannya. Terima kasih. Wassalam.
    Data perkerasan: Tebal aspal 50mm, soil cement 320mm, tanah dasar di atas pipa dipadatkan 90% density 1,9m.

    • Wa’alaikum salam,
      Kira2 solusinya sbb:
      – Mencari beban statis ekivalent dari beban kendaraan yg menjadi beban impact akibat jatuh setinggi 1.5 cm.
      – Beban statis ekivalent tsb didistribusikan dari permukaan sampai pada level pipa (mis = q).
      – Kemudian efek q sampai menjadi gaya dalam tekan tangensial pada pipa. Check terhadap kuat tekan pipa.

      Untuk yg pertama, saya tdk tahu pasti bgm mencarinya. Pada fondasi mesin, gaya unbalanced x 3 (maksimum) utk memperhitungkan efek dari getarannya. Pada kendaraan yg melalui pita kejut pasti lbh kecil.
      Step 2 dan seterusnya bisa dicari dengan FEM, misalnya menggunakan PLAXIS, utk mendapatkan tegangan pada pipa.

      Secara manual bisa dihitung distribusi beban kelevel pipa dengan cara Boussinesq, kemudian tegangan yg arahnya vertikal dirubah menjadi gaya tekan sekeliling pipa (biasa disebut gaya tangensial). Biasanya ini dibahas pada teori membran. Hanya ini yg bisa saya jelaskan

  31. kirman says:

    Salam kenal Pak Irawan, saya seorang praktisi muda. Mohon petunjuknya untuk batasan displacement pondasi bore pile saat loading test bisa diambil 1 inchi atau maksimum 6 % dari diameter bore pile nya. Mohon petunjuk untuk referensi nya. terima kasih

    • Salam kenal kembali mas Kirman,
      Untuk test pada unused pile, yang membatasi adalah peralatan, mis, travel dari dial gauge, kapasitas hydraulic jack, dsb. Pada prinsipnya semakin besar settlement semakin baik test itu, artinya semakin sedikit interpretasi untuk mendapatkan daya dukung ultimate. Tapi paling tidak kurva load – settlement telah nekuk (telah meliwati kapasitas yieldnya), dan saya kira settlement 6% diameter telah mencapai itu.

      • Fahmi ilhami says:

        Ass. Pa mau nanya,
        Saya punya kasus,pada perencanaan tiang pancang group.
        Saya merencanakan end bearing pile pada lapisan tanah keras Nspt >60,maka logikanya tidak akan terjadi settlement, untuk membuktikannya dapat menggunakan rumus perhitungan seperti apa ya pa? Mohon petunjuk dan referensinya agar dapat di pertanggung jawabkan. Makasih pa

      • Fahmi,
        Kalau stress bulb masih berada ditanah keras N>60, memang praktis tdk ada settlement. Tapi biasanya dibawah tanah keras, kembali ditemui lapisan tanah yang kurang keras, misal N SPT sekiatr 20 an, dan kalau lapisan ini terkena bola tegangan (stress bulb), maka akan terjadi long term settlement. Stress bulb ini 2 ~ 3 B dibawah equivalent footing, dimana B adalah lebar group tiang. Perlu pengetahuan dasar untuk mengerti jawaban ini.

      • benusagani says:

        Pak Irawan, Apa kabar pak, semoga baik baik adanya.

        Mengenai pertanyaan dibawah, biasanya Pemancangan kami lakukan sampai refusal dengan hammer yang sesuai kapasitasnya. Misalnya tiang pipa baja dia. 800mm dgn panjang 30 – 40m, dipancang dgn Diesel Hammer Delmag 80. Setelah pemancangan, dilakukan PDA Test dari perusahaan spesialis yang “reliable”. Bila hasil Ru nya sudah 2 – 3 kali dari daya dukung rencana, maka sudah yakin tidak akan terjadi Settlement lagi. Mengenai pembuktian tidak terjadi settlement dengan rumus, saya tidak mengetahuinya. Demikian dari saya. Salam Ben Usagani

        Sent from my iPhone

        >

      • Hi Pak Ben,
        Lama kita tidak bertemu. Saya dalam keadaan baik2 saja, mudah2 an Pak Ben juga.
        Dalam teknik fondasi ada 2 hal yang harus dipenuhi: daya dukung aman dan settlement dalam batas yang aman. Yang bapak uraikan diatas hanya aspek daya dukung, Ru = 2 ~ 3 x Daya dukung rencana, daya dukung aman.
        Kalau dibawah pile tip tidak ada lagi tanah yg relatif lunak, biasanya clay, maka tidak ada masalah settlement Sebenarnya ada elastic settlement, tetapi relatif kecil, dan langsung selesai setelah dibebani.

        Masalahnya lain kalau ada lapisan clay, katakan dengan SPT N value sekitar 20 ~ 30, maka akan ada long term settlement.jika stress bulb memotong lapisan ini. Besarnya tergantung additional stress yang sampai pada lapisan clay ini dan juga consolidation properties lapisan clay ini.

        Stress bulb akan mencapai kedalaman 2 B jika bentuk pile group square, dan mencapai 3 B jika bentuknya rectangular. Karean faktor B (lebar fondasi) menentukan maka usahakan menggunakan pile group yang kecil, sehingga B kecil, diharapkan stress bulb tdk menembus lap keras tempat bertumpunya pile tip.

        Mudah2an membantu memperjelas.

      • benusagani says:

        Pak Irawan, Yang disebutkan oleh penanya, bahwa ada lapisan dgn SPT 60. Kalau lapisan ini dicapai dan pile tip masuk dan pemancangan refusal, maka saya pikir itu aman. Untuk Dermaga, beban mati sangat kecil, cuma beban hidup besar 3 t/m2 sampai 5 t/m2. Sehingga demikian untuk dermaga, kemungkinan settlement sangat kurang, meskipun bukan end bearing. Demikian dari pandangan saya sebagai kontraktor. Bagaimanpun juga setiap proyek harus direncanakan oleh yang konsultan ahli. Selama ini saya lihat yang masih kurang dari perencana Kita adalah Teknik Kelautan, sehingga ada beberapa proyek breakwater yang gagal. Demikian dari saya. Salam Ben

        Sent from my iPhone

        >

      • Pak Ben Usagani,
        Yang saya jelaskan adalah konsep settlement. Pile tip masuk ke lapisan dengan N = 60, dan dipancang hingga refusal, tidak berarti tdk ada long term settlement, jika ada lapisan compressible dibawah lapisan dengan N = 60 itu, dan bola tegangan menembus lapisa dengan N = 60, masuk kelapisan yg compressible.
        Bisa saja settl sangat kecil karena beban mati yg kecil, sehingga praktis tdk terjadi settl.
        Bisa juga bola tegangan seluruhnya jatuh didalam lapisan dengan N=60, karena lapisan ini tebal dan pile group kecil, jadi B kecil. Pak Ben Usagani bisa tanyakan keorang geotek yg bp kenal mengenai konsep ini, misalnya ke P Zacheus.

        Anyway thanks untuk diskusi ini.

      • benusagani says:

        Terima kasih pak Irawan. Senang bisa berdiskusi dengan anda. Saya sedang di Bangka saat ini, 2 malam di Belitung dan pagi ini ke Bangka. Menikmati keindahan Belitung terutama. Salam Ben

        Sent from my iPhone

        >

  32. Azwardi Chaidir says:

    Salam kenal Pak.Irawan Firmansyah
    Saya punya problem dilapangan mengenai pondasi bored pile,yaitu titik koordinatnya bergeser untuk satu bored pile 15 cm >7,5cm(spec/toleransi yang di bolehkan),sedangkan yang lainnya masih di bawah toleransi atau berkisar 1-5cm,dimana jumlah pondasi bored pile 1 group ada 6 bored pile.Bagaimana mengatasinya pa, trims pa

    • Salam kenal kembali,
      Kondisi ideal kalau gaya kolom berada pada satu garis vertikal dengan resultan dari reaksi bored pile, berarti tdk ada momen yg bekerja. Kalau gaya dan reaksi tdk pada satu garis bekerja momen yg merupakan gaya tambahan pada pile group. Hal ini terjadi kalau koordinat bored pile bergeser. Jadi harus dihitung momen tambahan yg bekerja, dan momen itu menjadi gaya yg bekerja pd pile group.

  33. Annin Hudaya Stadin says:

    Yth. P.Irawan,

    Halo apa khabar pak?
    Semoga p.Irawan sehat walafiat.

    Menurut pengalaman p.Irawan berapa jauh (m) dari titik boredpile yg sedang dilakukan axial load test pekerjaan boredpile lainnya dapat tetap dilanjutkan ?

    Atas pencerahan yg akan diberikan, dihaturkan banyak terimakasih .

    Salam,
    .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s