About Me

I am a self-employed, consulting engineer. BS (Ir) in civil engineering Univ of Indonesia, graduated in 1978 and MS in Civil Engineering, Univ of Wisconsin-Madison, USA, majoring in geotechnical engineering,  graduated in 1984. I am a specialist in the design of foundations for high-rise buildings and retaining structures  for stabilizing deep basement excavation.  Among others, I was involved in the design of the following buildings: Residence 8 @ Senopati, Pacific Place-SCBD, Ritz Carlton Hotel-Kuningan, Plaza Asia-Jl.Sudirman, Indofood Tower-Jl.Sudirman, and Pakubuwono Residence-Jl.Pakubuwono in Jakarta; Cambridge Residence, Hotel Santika, Medan Focal Point, and Hotel Adimulya in Medan; Grand Panghegar, and Hotel Hilton in Bandung; WaterPlace Residence in Surabaya.

I am a moslem and I have been a hajj since 2006. I am married with 3 children; one son and two daughters. Like father like son, my son, M. Raditya Pradana, is a Civil Enginner also, graduated from the Civil Engineering Department of the ITB. At present, he studies for Ph.D  in offshore-structural engineering at the NUS, Singapore. His research is in Analytical and Experimental Study of Fatigue Cracks on Tubular Joints. The abstract of his speech on a seminar organized by CORE (Centre for Offshore Research and Engineering) and the Civil and Environmental Engineering Department of NUS, shown below, briefly explained the present status of his research.

My elder daughter, Cininta Dyah Paramita, is a student at the Faculty of Dentistry, of the Univ of Indonesia. Next semester, she is going to start her Final Project (Tugas Akhir). My  younger daughter, Nisita Dyah Nareswari, just passed SMP, and she is going to be a new SMA student, next semester.  At that time she is still 13 years old, she is 2 years younger than most student at her class. 

The following pictures show my family.

BLOG PHOTOS


Core Series Seminar on 16 Apr 2014 by Mochamad Raditya Pradana_Page_1Page 2 Mochamad Raditya Pradana




177 Responses to About Me

  1. Assalammualaikum wr. wv. Bp. Irawan Firmansya, pertama-tama saya ucapkan terimakasih atas kunjungan ke blog kami. Saya sangat beruntung dapat berkenalan dengan bapak sebagai pakar geoteknik. Dalam kesempatan pertama ini izinkanlah saya untuk mengajukan beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan Standart Penetration Test /SPT. Yakni 1/. Pengambilan nilai Nspt desain adalah tergantung hasil koreksi terhadap nilai Nspt lapangan, salah satu koreksi adalah jenis SPT , Yakni SPT tanpa pelapis nilai Beta = 1.00 dan SPT dengan Pelapis nilai Beta – 1.20. Mohon jelaskan apa bedanya SPT tanpa pelapis dengan SPT dgn Pelapis? bisa dilihat secara visul? 2/. Panjang batang atau kedalaman tanah tentu akan mempengruhi koreksi nilai SPT desain. Mohon jelaskan: Bagaimana caranya perhitungan Koreksi Panjang Batang?, Terimakasih.

    • Wa’alaikum salam wr wb,
      Menurut ASTM D1586liner boleh digunakan dan boleh tidak. Digunakannya liner menyebabkan diameter tube dari SPT sampler sama dengan diameter shoe nya. Kalau tdk pakai liner, diameter tube sedikit lebih besar dari diameter shoe nya (lihat Fig 2 ASTM D 1586). Berarti tahanan friksi bertambah kalau pakai liner dibandingkan tidak. Di Indonesia liner tdk dipakai.
      Faktor koreksi akibat digunakannya liner dapat dilihat pada tabel 3.3 “Foundation Analysis and Design” Bowles, 4th edition, hal 138.
      Mengenai panjang rod, dibuku Bowles dikatakan bahwa pengaruhnya tdk signifikan, kecuali bila L < 10m, perlu diberikan korekso Faktor koreksi dapat dilihat pada tabel diatas. Faktor koreksi yang berhubungan dengan kedalaman test (secara tidak langsung berhubungan dengan panjang rod) adalah koreksi terhadap overburden pressure, imana faktor koreksinya juga ada pada tebel 3.3 tersebut diatas.. Saya sendiri didalam praktek tdk memakai faktor koreksi, saya hanya menetapkan nilai representatif utk satu lapisan., dan ini saya pakai utk menentukan nilai Cu. Selama tanah tdk lunak, dan kedalaman test normal tdk lebih 60m, saya kira pengaruhnya kecil thd yg kita cari, daya dukung misalnya.

  2. Maat Pak Irawan. Maksud pertanyaan nomor 2 saya bukan panjang batang (4, 6, atau 10 meter), tetapi pengaruh kedalaman dari top soil, karena semakin dalam tentu panjang batang akan bertambah, trims.

    • Waalaikum salam wr wb.
      Pak Rony sepengetahuan saya SPT dengan liner (pelapis) tidak dipakai di Indonesia. Secara visual bisa dilihat di split spoon sampler nya, mana yang pakai liner dan mana yang tidak. Yang pakai liner ada pembesaran diameter sedikit utk tempat liner tsb. Maaf saya pakai istilah liner, karena istilah ini yg dipakai secara international.
      Yang menentukan adalah panjang rod, karena energi tumbukan yg sampai ke split spoon sampler tergantung panjang rod. Tentunya semakin panjang rod semakin banyak energi yg hilang. Tetapi rod yg terlalu pendek juga menghasilkan N yg tidak benar karena terlalu cepat putusnya energi transfer akibat tumbukan 2 benda bebas (hammer dan anvil).
      Ada orang yg study ini menjadi thesis PhD tahun 1977; The Theory and Measurement of Energy Transfer During Standard Penetration Test Sampling, oleh Alejandro Palacios , Univ of Florida, USA. Dulu saya beli hard copy ini dari Univversity Microfiulms International, Ann Arbor, Michigan USA
      Itu semua teorinya, di praktek saya tdk memakai koreksi2, karena sifatnya pendekatan. Kalau tanah tdk lunak, maka pengaruhnya pada nilai N paling 1, mak 2. Kalau kemudian kita pakai menentukan undrained cohesion Cu, pengaruhnya lebih sedikit lagi. Kalau tanah lunak saya pakai field vane shear dan sondir untuk dapat Cu.
      Mudah2an membantu.

  3. Alhamdulillah, saya sudah dapat tempat bertanya yang tepat. Terimakasih atas penjelasannya Pak Irawan. Masih ada beberapa pertanyaan yang menganjal di hati tentang SPT, mohon penjelasan: 1. Hasil pengukuran energi pada berbagai sistem SPT (SKEMTON, 1986, Carter & Bentley, 1991), Energi fektif Er ada yg 45%, 50%, 55%, 60%, dan 78% tergantung Sistem penjatuhan palu, Jenis palu, dan buatan Jepang, Amerika, Inggris, RRC. Pertanyaan Alat SPT yang umumnya kita gunakan (banyak di pasaran Bandung) adalah SPT produk negara apa, Er nya berapa %?
    2. Mohon komentar Bapak pada (kutipan makalah Gouw Tjie-Liong), Sbb:
    Penulis (Gouw) pernah menjumpai kasus di dalam suatu proyek di mana diperoleh nilai N SPT yang relatif baik mulai dari kedalaman 14 hingga 30 m (N=10-30) dan sudah sangat tinggi (N>50) pada kedalaman lebih besar 30 meter, sehingga seorang pakar geoteknik luar negeri bahkan berani merencanakan kapasitas ijin pondasi sebesar 200 ton untuk tiang pancang berukuran 40 cm x 40 cm sepanjang lebih kurang 32 meter. Namun kemudian setelah dilakukan uji pembebanan, kapasitas batas pondasi tersebut hanya berkisar antara 250 ton hingga 325 ton. Bila diambil faktor keamanan dua, kapasitas ijin pondasi tersebut hanya berkisar 130-160 ton. Hasil uji SPT tahap dua dengan menggunakan SPT yang dioperkirakan mempunyai standar enrgi lebih kurang sama dengan sistem palu otomatis ala Jepang (Er=78 % dan kemudian dibandingkan dgn uji SPT tahap pertama, ternyata hasil uji tahap pertama secara konsisten memberikan hasil yang lebih kurang 1,5 sampai 1,7 kali lebih besar dari hasil uji tahap kedua.
    3. Kembali ke masalah panjang Rod, karena di Riau (Pekanbaru) N spt > 50 bisa dijumpai pada kedalaman 52 meter dari top soil. Bagaimana koreksinya?

    • 1. Alat kita tipenya itu donut hammer. Kebanyakan buatan atau meniru buatan Jepang. Energy rasio nya kira2 70% (tepatnya 78% utk mechanical trip system dan 67% untuk rope and pulley system; Seed et al: ” Influence of SPT Procedures in Soil Liquefaction Resistance Evaluations, ASCE Geotechnical Engr Journal, Dec. 1985). Jadi kalau pakai tabel2 korelasi 7/6 x nilai dalam tabel (di Amerika energy ratio nya sekitar 55 – 60 %.

      2. Dibidang geoteknik pengalaman/pengenalan akan suatu daerah sangat penting. Biasanya kalau masih baru disuatu daerah, kita agak konservatif.Saya juga punya pengalaman dengan konsultan Inggris utk proyek di Jkt. Saya memakai ground anchor kapasitas 60 ton untuk support dinding penahan tanah galian basemen, dan dia bilang dengan data tanah seperti itu tdk akan bisa dapat ground anchor kapasitas 60 ton. Kenyataannya kapasitas 60 ton dengan mudah bisa dicapai. Terlepas dari itu, kalau saya tdk akan pakai tiang pancang panjang 32m, paling2 18 – 22 m. Kalau lebih, pakai yang lain.

      Saya saya tahu perlu hati2 adalah tanah (mostly sand) di Jogya dan di Medan. Bearing cap bored pile dibawah dari prediksi memakai data tanah dan nilai tipikal daya dukung.

      Mengenai panjang rod, saya jawab di blog Terimna kasih

  4. Terimakasih Pak Irawan. Masih masih ingin konfirmasi masalah Batang Pancang (drive rod). Menurut ISSMFE, 1988 1. dia rod 40.5 mm berat rod 4.33 kg/m. 2. dia 50.0 mm berat rod 7.23 kg/m. 3. dia 60.0 mm berat rod 10.03. Mengapa tidak boleh menggunakan rod yg beratnya lebih dari 10.03 kg/m? Berarti rod yang semakin panjang seperti di daerah Riau, yg kedalamannya sampai dengan 50 meter dari top soil, perlu nilai koreksi, bukan?

    • Yth. Pak Rony,
      Saya belum pernah mendengar koreksi SPT akibat berat rod. Yang ada dan related dengan rod adalah hole diameter dan overburden pressure.
      Saya baca report 2 research nya langsung pun tidak menyinggung mengenai berat rod. Saya kira selama menggunakan rod yg normal dipakai untuk drilling, pengaruhnya tidsk signifikan. Bukankah settlement akibat berat rod akan terjadi sebelum test.? Referensi mengenai SPT sebaiknya merefer ke USA, bukan ke Eropa. ISSMFE itu lebih ke eropa.

  5. Ass. Wr. Wb. Yth Bp. Irawan Firmansyah,
    Benar sekali pak. Faktor koreksi hanya pada Panjang Batang, Pelapis, Lubang Bor (SKEMTON, 1986). Mengapa saya masih pengen bertanya koreksi yang berkaitan dengan panjang rod. Kita lihat dulu kasus berikut ini: “Berdasar hit daya dukung beberapa formula dinamik (mis. Hiley Formula) untuk tiang pancang mini pile 20 x 20,. Pada kedalaman 16 meter dari top soil dengan final set 3 mm diperoleh daya dukun izin Pizin= 24 ton, akan tetapi untuk kedalaman 20 meter, dengan hammer wigth, tinggi jatuh, dan final set yang sama hanya memperoleh Pizin=sekitar 22,5 ton. Memang selisihnya tidak besar hanya sekitar 6% ini disebabkan oleh wight of mini pile yang semakin berat akibat penambahan kedalaman.
    Nah. Sekarang bagaimana untuk uji spt yang katakan 10 meter dan 50 meter, kan terjadi penambahan berat rod yang signifikan, apakah masih tetap tidak membutuhkan suatu nilai kereksi atau nilai konversi atau apa namanya. Terimakasih sekali lagi atas bantuan yang Pak Irawan berikan.

    • Wa’alaikum salam Wr Wb pak Rony,
      Apa yg P Rony katakan mengenai pemancangan tiang semuanya benar. Tetapi utk SPT saya kira perbedaan jumlah tumbukan utk penetrasi 30 cm ( nilai N) saya kira tdk banyak berbeda, sekalipun digunakan berbagai diameter/berat rod. Pak Rony bisa melakukan percobaan dilapangan melakukan SPT pada lokasi yg berdekatan didaerah yg homogen, menggunakan rod dengan berat yg berbeda secara sinifikan, tetapi diameter lubang tetap standard, da dilihat apa bedanya utk berbagai kedalaman (berbagai beda berat) dan berbagai jenis tanah (lunak, sedang, keras).
      Mohon maaf saya tdk bisa memberikan jawaban yg lebih gamblang.

  6. Rony Ardiansyah says:

    Assalammualaikum Wr.Wb. Pak Irawan. Semoga bapak tidak bosan-bosan untuk Sharing dengan saya. Berikut ini saya sajikan dulu hasil uji SPT pada beberapa lokasi di Riau-Jambi. Adapun jenis tanah pada saat penghentian pengeboran setelah 3 (tiga) berturut-turut pembacaan N>60, SPT per 2 meter dengan kedalaman yang berbeda-beda, Sbb: 1. Lokasi Kota Pekanbaru, parameter tanahnya (N spt>60): Pasir halus sedikit berlanau, warna abu-abu, consistensi padat, plastis rendah. 2. Pekanbaru (daerah Panam) Nspt >60 pada: Pasir padat ukuran sedang ke kasr, kadar air rendah, non plastis. 3. Kota Duri (Riau) Bspt>60 pada: Lempung sangat kaku, warna abu-abu cerah, plastis tinggi, kandungan air sedang ke rendah. 4. Tambesi (Jambi), N spt > 60 pada: Pasir padat, ukuiran halus sampai sedang, warna abu-abu gelap, plastis redah, kadar air rendah.
    Meskipun sama-sama mencapai nilai N spt > 60, tetapi terletak pada jenis tanah yang berbeda-beda (Pasir halus, sedang padat, lempung kaku, dsb). Pertanyaannya: Mana yang lebih baik untuk tanah dasar pendukung, PASIR PADAT atau LEMPUNG KAKU? Apa sebabnya?. Terimakasih Pak Irawan.

    • Wa’alaikum salam wr wb Pak Rony,
      Untuk lapisan pendukung sebaiknya dijatuhkan pada tanah granular, semakin kasar butirannya semakin baik. Kalau ada lapisan gravel., jatuhkan pada lapisan gravel, kalau tidak ada pasir kasar, kalau tidak ada pasir medium, demikian seterusnya. Saya ragu N SPT utk clay bisa mencapai 60, biasanya sekitar 30 – 40 (hard clay). Di tanah granular, end bearing lebih besar. Effisiensi group tiang ( hitung pakai Terzaghi & Peck atau yg sudah dimodifikasi oleh Poulos & Davis) juga lbh besar karena kontribusi end bearing itu.

      Kalau lapisan pendukung ini dangkal, kontribusi end bearing segera kelihatan, tetapi kalau lapisan pendukung jauh dibawah permukaan tanah, banyak lumpur akan mengendap diatas lapisan pendukung itu, jadi seakan-akan end bearing tdk memberikan kontribusi ke daya dukung. Jika ada jack, tekan dulu tiang sampai lumpur terdesak dan ujung bawah tiiang menyentuh lapisan pendukung. Awalnya hanya tahanan friksi yg bekerja, dan pressure gauge menunjukkan tahanan yg konstan sampai ujung bawah tiang menyentuh lapisan pendukung, baru end bearing memberikan kontribusi. Ini terlihat dari naiknya pembacaan pressur e gauge ( manometer) secara signifikan.

  7. Terimakasi Pak Irawan. Saya juga mempunyai pemikiran yang saya, secara fisik tanah berbutiran kasar merupakan tanah yang semakin baik. Tetapi Pak Irawan.Tetapi! Fakta menunjukkan tanah di Riau, terutama di Kota Duri hasil uji N SPT > 60 adalah pada lapisan tanah Lempung sangatkaku dan padat (di sini disebut dengan “Cadas”), sebagai catatan di Kota Duri sampai kedalaman 100 meter tidak dijumpai lapisan pasir (sand) apalagi rock. Beda dengan Sumatera Barat yang kebanyakan dijumpai adalah pasir kasar, krikil sampai batuan. Bagaimana pendapat pak Irawan, wasalam.

    • Wa’alaikum salam wr wb Pak Rony,
      Cadas itu tdk seluruhnya clay, tapi ada silt dan ada pasir halus. Saya pernah menyelidiki tanah di Minas (Caltex) utk perbaikan jalan longsor (jalan raya dimuka Caltex). dan disitu tanah kerasnya silt bercampur dengan fine sand dan clay. Kalau cadas ini saya kira tdk masalah dipakai sebagai lapisan pendukung tiang.

  8. Pak Irawan. Penyelidikan tanah pada daerah yang Muka Air Tanah (MAT) nya cukup dalam, terutama untuk desain pondasi dangkal. Sampai seberapa jauh perbedaan nilai Qc (data CPT) dan Nilai N Spt, pada saat hujan (tanah mengandung air) dibandingkan dengan saat kering? Apa pula bedanya untuk berbagai jenis tanah (clay, silt, sand, gravel) pada waktu hujan dengan waktu kering? apakah ada/perlu nilai koreksi untuk nilai qc dan Nspt pada kondisi tersebut di atas? Wassalam

    • Pak Roni, Kaidah umum air hanya berpengaruh pada tanah kohesif; semakin tinggi plastisitas, semakin besar pengaruh air. Sekalipun demikian dalam praktek orang tdk memperhitungkan perbedaan ini, kecuali pada tanah expansive. Pengalaman setempat/data setempat menentukan berapa besar pengurangan kuat geser tanah akibat air.

      Perlu dicatat bahwa kuat geser tanah expansive akan berkurang drastis bila terkena air, dan tanah berkesempatan menghisap air. Ini terjadi jika tanah mengembang akibat berkurangnya effective overburden pressure akibat galian misalnya. Karena itu harus hati2 merencanakan lereng galian pada tanah expansive. Di sekitar Kerawang Cikampek, lereng 1V : 3 H sering kali longsor. Tiang2 mini didaerah ini bisa terangkat akibat tanah disekeliling tiang mengembang, sedangkan ujung bawahnya tidak terjepit. Plat lantai beton elevated 20cm diatas permukaan tanah masih terdorong keatas oleh tanah, menyebabkan plat beton bergelombang.

  9. Pak Irawan, saya baca di spesifikasi teknis Pondasi KSLL. Katanya KSLL cocok digunakan untuk bangunan pada tanah yang memiliki daya dukung rendah 0,15 kg/cm2 hingga 0,5 kg/cm2, letak tanah keras cukup dalam, kompresibilitas tanah tinggi. Menurut saya, kelebihan KSLL adalah kekakukan pondasinya, sehingga dapat mencegah differential settlement, sedangkan daya dukungnya tidak berbeda dengan raft pondation. Dengan keriteria tanah dasar yang begitu jelek apakah tidak terjadi penurunan yang berlebihan? Bagaimana pendapat Pak. Irawan? terimakasih.

    • Benar sekali P Roni, KSLL tidak beda dengan raft. Satu2nya kelebihan sistim fondasi ini adalah kaku karena pelat2 rusuk nya. Jadi sistim fondasi ini tdk bisa mengatasi masalah settlement. Sampai batas tertentu sistim fondasi ini meratakan settlement, tetapi kalau beban sangat tidak merata, tetap akan miring. Sudah banyak kasus yg terjadi pada bangunan tinggi yg menggunakan sistim fondasi ini. Misalnya lift nya macet, diperbaiki, macet lagi, selain sistim pemiipaan, yg menjadi bermasalah.
      Kasus yang terakhir saya dengar, beberapa bulan yl, adalah salah satu gedung USU, Medan. Kontraktornya Waskita. Saya dengar dari PM nya sendiri, kebetulan ia juga PM utk proyek saya di Medan.
      Jadi jangan mudah terkecoh oleh promosi mereka. Tapi ingat marketing mereka untuk proyek2 pemerintah/PEMDA sangat agresif, kadang2 membuat kita repot. Bahkan di kantor PU pusat, Jl. Patimura Jakarta, mereka tidak segan bergerilya utk mendapatkan fondasi gedung Sumber Daya Air 8 lt, tetapi akhirnya gagal.
      Semoga mencerahkan.

  10. Pak Irawan, pengalaman saya dalam beberapa kasus pemakaian alat Hydrolic Jacking Pile atau alat pancang Pressure Gauge kapasitas kecil 50 ton. Beberapa kasus. Masalahnya adalah dengan alat ini, tiang pancang segitiga TP.280 mm saja tidak dapat menembus tanah keras yang nilai Qc>100 kg/cm2, sehingga dalam realisasinya saya harus menambah beberapa titik piling. Bagaimana pengalaman Pak Irawan dalam hal ini? Dan berapa SF yang diperkenan untuk menentukan daya dukung izin single pile-nya? Wassalam.

    • Pak Roni,
      Pengalaman saya dengan tiang segitiga 280 mm, yg dipancang dengan drop hammer 1.5 ton tinggi jatuh sekitar 1m, sampai refusal, daya dukung izin sekitar 25 ton – 26 ton
      Saya melakukan loading test dan melakukan evaluasi dengan metoda Davisson, dan hasilnya dibagi 2 utk mendapatkan daya dukung izin.
      Untuk tiang segitiga 320 mm, yg dipancang samapai refusal, daya dukung izinnya 35 – 36 ton. Agak sulit melakukan loading test pada tiang segitiga, karena beban sulit dibuat center dengan tiang, dan tiang ini lemah thd gaya eksentris.

  11. Bagaimana pengalaman Pak Irawan dengan alat Hydrolic Jacking Pile atau alat pancang Pressure Gauge kapasitas kecil 50 ton? Trims

    • Selama dikalibrasi tentunya pressure gauge tentunya menunjukkan tekanan yg sebenarnya. Maslahnya tekanan max 50 ton itu hanya diberikan dalam waktu yg sangat singkat. Jadi tidak otomatis bisa diambil 25 ton sebagai daya dukung izin. Lain halnya kalau tekanan max 50 ton itu ditahan seperti pada beban max loading test. Pada loading test kita jumpai tiang yg awalnya bisa menhan beban max, setelah beban ditahan beberapa saat, terjadi penurunan yg besar atau terjadi pressure loss.

      Salam, IF

  12. Jawaban yang logis sekali Pak Irawan, apresiasi buat Pak Irawan. Oh ya, menurut teoritis daya dukung tiang dalam pile group akan lebih kecil dibandingkan dengan single pile. Ada beberapa metode yang sering digunakan dalam menghitung efisiensi pile group, seperti metode AASHTO, Binamarga, Feld dsb. Pengalaman saya, kita tidak pernah mendapatkan nilai efisiensi yang sama dalam formulasi susunan tiang yang sama dalam satu pile gruop, bila dihitung dengan beberapa metode yang berbeda. 1. Mengapa nilai efisien bisa berbeda sangat signifikan bila dihitung dengan metode yang berbeda, padahal untuk pile group yang sama? 2. Metode yang mana menurut Pak Irawan yang lebih logis?. Wasalam.

    • Pak Roni, Semua rumus2 efisiensi yg hanya berdasarkan pile lay out seperti converse labarre sekarang sudah tdk dipakai lagi. Kalau memasukkan dokumen utk perizinan di DKI, TPKB (Team Perencana Konstruksi Bangunan) yg beranggotakan para tokoh dunia konstruksi seperti P Wiratman, P Toha, dll, tdk akan menyetujui pemakaian rumus2 tsb. Yang direkomendasikan adalah rumus2 yg ada dasar ilmiahnya, yaitu yg memasukkan properties tanah, misalnya Terzaghi & Peck, atau modifikasi Terzaghi & Peck oleh Poulos & Davis.

  13. Menarik Sekali Pak Irawan, persis seperti yang saya alami. Oh ya Pak Irwan, bincang-bincang masalah pengujian CBR Subgrade. Dari pengalaman pak Irawan, Sampai dimana akurasi pengujian CBR Subgrade dengan menggunakan alat DCP (dynamic cone penetrometer)? Wasalam

    • Pak Roni, Saya tdk punya pengalaman pribadi mengenai DCPT. Saya pernah baca dilakukan riset intensif di Malaysia dan membandingkannya dengan N SPT. Untuk CBR subgrade, lebih praktis membuat kurva relasi antara Dry Density vs CBR.. Jadi dengan beberapa macam energi pemadatan (water content sekitar Wopt), ditentukan dry density dan CBR nya, samapai dapat kura dry density vs CBR. Selanjutnya dilapangan hanya check dry density tanah setelah pemadatan, maka CBR nya bisa ditentukan dengan memakai kurva korelasi.

  14. Nedya says:

    Ass. Wr. Wb,

    Pak, saya sedang mencari data mengenai proyek Sentra BDNI yg terletak di Jl. Jend. Sudirman. Saya sempat membaca sebuah referensi bahwa Bapak yang mendesain D-Wall gedung tersebut. Saya membutuhkan informasi mengenai D-Wall dan Ground Anchor gedung tersebut, terutama detail gambarnya (drawing). Mohon diberikan arahannya Pak, bagaimana agar saya bisa mendapatkan data tersebut. Terima kasih sebelumnya.
    Wass. Wr. Wb.

    • Wa’alaikum salam wr. wb,
      DWall Sentra BDNI memang saya yg desain, dan itu DWall pertama di Jakarta utk mengamankan galian 6 lapis basemen. Setelah proyek itu, telah banyak pengembangan-pengembangan yg saya lakukan dalam design DWall.
      Nadya, data itu sebenarnya milik owner dari proyek yg tdk boleh disebar-sebarkan. Sebenarnya anda ini siapa, maksudnya profesinya apa, dan data itu utk apa?
      Kalau utk skripsi minta saja sama dosen pembimbingnya data yg ia punya. Kalau ia tdk punya, maka jangan harap dia mengerti mengenai design DWall.
      Kenapa anda tdk tanya hal2 spesifik seperti penanya2 yg lain. Kenapa data proyek? Kalau pertanyaan2 yg lain mungkin saya bisa bantu.

  15. Asmk Pak Irawan, Ada beberapa referensi tidak membenarkan penempatan “Pondasi Dangkal” pada nilai qc (sondir) yang kecil dari 12 kg/cm2. Dari referensi lain kita peroleh bahwa untuk nilai qc 18 kg/cm2. Bagaimana Pendapat Pak Irawan, dan selama ini sepengetahuan saya, konstruksi yang saya bangun tidak bermasalah dengan settlement yang berlebihan, terimakasih.

  16. Asmk Pak Irawan, Ada beberapa referensi tidak membenarkan penempatan “Pondasi Dangkal” pada nilai qc (sondir) yang kecil dari 12 kg/cm2. Dari referensi lain kita peroleh bahwa untuk nilai qc 18 kg/cm2. Bagaimana Pendapat Pak Irawan, dan selama ini sepengetahuan saya, konstruksi yang saya bangun tidak bermasalah dengan settlement yang berlebihan, terimakasih.
    Reply

    • Maaf Pak Irawan yang ter- Post Comment di atas terputus kalimatnya. maksud saya referensi lain Qckecil 16 kg/cm2 adalah tanah dengan kepadatan relatif (Dr) sangat lepas. Sedangkan saya selalu menempatkan pondasi dangkal pada qc besar 18 kg/cm2, dan ternyata tak bermasalah dengan settlement, trims

      • Pak Roni, Tanahnya pasir atau lempung? Kalau ada Dr berarti pasir dong! Kalau pasir, saya tdk khawatir mengenai settlement. Yang terpenting untuk pasir atau tanah granular adalah memberikan “confinement”, agar butir2 pasir tdk lari waktu dibebani. Sekalipun pasir lepas, ia akan memadat waktu dibebani. Di Nusa Dua Bali saya gunakan konsep ini untuk fondasi dangkal yang mensupport hotel 4 lantai ( di Bali tdk boleh bangunan lebih dari 4 lantai).

        Kalau lempung daya dukung izin bisa diambil sederhana sbb: qa = qc/20 kg/cm2. Daya dukung izin ini sudah konservatif, jadi kalau qc = 16 kg/cm2, maka daya dukung izin qa = 0.8 kg/cm2, cukup tinggi. Kalau nilai qc mulai dari level fondasi terus meningkat dan tidak ada lapisan yg lebih lunak dibawah (pada zona stressed bulb), kita tdk perlu khawatir dengan settlement, apalagi kalau ukuran fondasi relatif kecil < 2m. Stressed bulb kira2 2x lebar fondasi dibawah level fondasi. Kalau kondisi diatas tdk dipenuhi, ya harus dicheck settlement nya. Mudah2 an membantu.

  17. Amazing Pak Irawan, ilmu praktis yang tetapi sangat mengena demikianlah yang kita butuhkan dalam konsep desain. Terimakasih atas komentarnya. Oh, Ya Pak Irawan, selama ini saya mendesain Pondasi Sumuran (kaison) dengan metode praktis qc.A/sf, dimana A adalah luas penampang dasar sumuran (kaison), sf berkisar 4 s/d 6 tanpa memperhitungakan friksi (skin friction). Tetapi dari bebera referensi kaison diperhitungan persis seperti pondasi tiang. Bagaimana pendapat Pak Irawan.

    • Pak Rony, Ini semua bagian dari amal saya membagi pengetahuan bagi yg membutuhkan. Mudah2 an di ridhoi Allah. Fondasi sumuran saya anggap sama seperti fondasi dangkal, hanya saja Depth of Foundation agak lebih besar. Karena itu saya juga mengabaikan tahanan friksi. Saya anggap sebagai tambahan SF. Jadi end bearing bisa dihitung seperti pada foundasi dangkal pada posting saya sebelumnya. Itu agak konservatif, sebenarnya qc/20 = Cu ( undraine cohesion), jadi perhitungan daya dukung izin sbb:

      qa = Cu Nc / SF = (qc/20)(5.14) / 3 = 1.7 (qc / 20 )

      dimana: qa = daya dukung izin fondasi dangkal Cu = Undrained cohesion = qc / 20 qc = cone resistance rata2 sepanjang zona stress bulb ( 2x diameter) dari dasar fond) Nc = Bearing capacity factor = 5.14 utk phi = 0 ( kondisi undrianed (phi ~ 0) SF = Safety Factor = 3.

      Saya sulkan jangan memakai SF > 5, cukup 3 saja, tetapi akurasi data diperhatikan. Mudah2 an bermanfaat Pak Rony, selamat berkarya.

      Salam, IF

  18. Terimakasih Pak. Dari ulasan Pak Irawan untuk Pondasi sumuran, qa = 1.7 (qc/20) atau qa = qc/11.7647. Apakah untuk tanah berpasir juga demikian? Apakah tidak menghasilkan daya dukung izin (qa) yang kecil sekali?

  19. Terimakasih Pak Irawan, atas diskusi yang sangat berharga ini. Jika untuk Clay qa = qc/11.7674. Bagaiman dengan pengalaman saya mengambil qa = qc/5 (berkisar 4 s/d 6) untuk Sand dan tergantung strati grafi tanah atau tebal lapisan pendukung.

  20. andre says:

    dear pak Irawan,

    terimakasih untuk waktunya membaca email ini. langsung saja ya pak, untuk pengujian kualitas timbunan tanah apakah harus dilakukan test CBR lapangan dan sand cone test sekaligus? Atau dengan salah satu test saja bisa menjadi patokan untuk menentukan kualitas timbunan tanah sudah baik. Borrow pit yang digunakan sendiri bermacam2 jenis tanah nya, ada yang clayey silt, sandy clay, dll.
    Spesifikasi menyaratkan kepadatan >95%, namun apakah cukup dengan tes CBR lapangan cukup menjustifikasi bahwa dry density lapangan >95% dry density opt.

    Trims
    andre.

  21. andreas says:

    Dear Pak Irawan,
    Mohon masukannya, apabila dalam spek kontrak ditentukan bahwa kondisi timbunan tanah untuk subgrade harus 95% padat, apakah dalam pelaksanaan uji di lapangan cukup dengan tes CBR saja atau harus melakukan tes Sand cone juga? Apakah ada korelasi ilmiah antara kedua hasil CBR test dan dry density lapangan. Sample borrow pit sendiri sudah diuji di lab untuk dry density opt dan CBR design nya.
    Terima kasih sebelumnya Pak.
    Salam, andre

    • Dear Andre,
      Jika spec menentukan timbunan harus mencapai 95% max dry density, maka test utk membuktikan bahwa req’ment tercapai adalah dengan melakukan test sand cone, rubber ballon, nuclear density test atau test2 lain sejenisnya, utk mendapat milai dry density timbunan. Biasanya utk 30cm subgrade disyaratkan juga nilai CBR yg harus dicapai. Untuk mengecheck CBR lapisan subgrade bisa dilakukantest CBR lapangan pada lapisan subgrade yg telah dipadatkan, atau melakukan test density saja dengan salah satu cara /alat diatas, setelah sebelumnya dilakukan test utk mencari kurva hubungan dry dnesity vs CBR dengan melakukan serangkaian test dilaboratorium menggunakan contoh tanah yg sama dgn tanah subgrade.Caranya tanah dipadatkan dengan berberapa compactive energy pada Wopt, sehingga mencapai berbagai nilai dry density, selanjutnya contoh tanah yg sama ditest CBR nya.

  22. andreas says:

    Terima kasih Pak.

  23. Asmk Pak Irawan, kondisi tanah di Pekanbaru kerap Kali dijumpai lapisan tanah keras yg tipis (sekitar 1 meter) yg disebut dgn “lensa” lapisan ini dijumpai pd kedalaman sekitar belasan meter dr top soil, sedangkan tanah keras terletak di bawahnya 20 m dr top soil. Untuk kondisi yg demikian bila kita mancang dgn menggunakan Jacking Pile, dgn kapasitas alat jacking yg kurang dari 100 ton sering mengalami masalah, piling nyangkut di lensa. Bagaimana pengalaman Pak Irawan, dgn alat jacking Kap berapa besar agar dpt menenbus lap lensa ini?

    • Wa’ alaikum salam wr wb P Roni, Kalau memakai jacking pile dengan tiang mini, masalahnya adalah tdk dapat menembus lensa tipis. Kalau mau solusinya dibor dulu sampai lensa nya tembus. Di Jakarta sekarang ada beberapa kontraktor sejenis jacking pile, tapi mereka menamakan nya pressed pile, utk menekan tiang precast ukuran normal yg dipakai sebagai tiang pancang. Bedanya kalai pressed pile tdk ditekan dari atas, tetapi ada alat seperti tangan yg memegang tiang dan menekannya. Sengan alat ini lensa2 tipis bisa ditembus.

  24. Terimakasih Pak Irawan. Pengalaman saya ngebor di Kota Duri, sampai kedalaman 55 meter dr top soil sama sekali tidak didapat lapisan tanah Pasir. Pada kedalaman 40-an dijumpai lapisan Silt dengan nilai N spt lap > 50. solusi untuk pondasi adalah Bore Pile dia 50 dengan kapasitas Daya dukung izin single Pile 120 ton per tiang. Mohon informasi, apakah perlu kita ambil Safety Factor yg lebih besar untuk jenis tanah Silt, bila kita desain terhadap end baering Pile utk bukan tanah berpasir?

    • Pak Roni, Kalau saya pakai SF yg sama utk end bearing yITU 2.5 ~ 3. Tetapi besarnya unit end bearing (ultimate) utk sand dan silt berbeda. Utk sand qe = 35 ~ 40 N (t/m2), sedangkan utk silt 17 N (t/m2) atau qe = 9 Cu (Cu = undrained cohesion pd level sekitar toe). Mudah2 an jawaban singkat ini membantu.

  25. Sebastian C says:

    Selamat siang Pak. Apakah saya bisa mendapat alamat email bapak? *maklum koneksi internet saya hanya dari mobile device* Jadi kalau mau curhat lebih terjangkau dengan email.

    Terima kasih.

  26. Toni says:

    Salam sejahtera Pak Irawan,
    perkenalkan saya toni, lulusan S1 Sipil Tarumanegara 2002.

    Saya banyak dan senang mendalami struktur beton bertulang, analisa struktur.
    Rasanya kalau beton paling utama pada kekangan struktur beton sendiri (sengkang dan ties) untuk mendapatkan struktur beton yang daktail, selain itu tentunya harus mengikuti peraturan perencanaan, logika analisa struktur, dll. Saya sendiri masih engineer dan banyak berkecimpung di desain struktur beton bertulang.

    Namun melihat pembicaraan Pak Irawan dan Pak Rony sangat menarik mengenai analisa tanah.
    Saya ingin mendalami analisa tanah, kalau belajar sendiri dari buku-buku tanah, tapi nggak ada yang kasih penjelasan cukup sulit rasanya Pak.

    Ada saran tidak Pak untuk dapat mendalami analisa tanah yang cukup praktis? Barang kali ada semacam kursus Pak, dari Pak Irawan? Saya sangat ingin belajar analisa tanah dan pondasi.

    Terima kasih banyak.

  27. Salam jumpa lagi Pak Irawan. Semoga Pak Irawan tidak bosan-bosannya untuk mengadakan shearing dengan saya. Kali ini saya ingin shearing masalah pemakaian cerucuk kayu sebagai pondasi bangunan. Di Pekanbaru masih ada bangunan-bangunan yang didesain oleh konsultan dengan menggunakan cerucuk kayu, meskipun hanya untuk untuk bangunan dua lantai dan tanah keraspun tidak dalam (artinya: nilai qc > 30 kg/cm sudaj dapat diperoleh pada kedalaman 3-4 meter dari top soil). Tetapi, disisi lain, secara ilmiah bukankah parameter cerucuk kayu itu tidak standar, tidak homogen dan sebagainya.
    Misalnya: 1. sulit mendapatkan kayu yang satu jenis, di Pekanbaru selalu dicampur kayu mahang yang ringan tetapi lebih awet bila terbenam dalam air dan kayu Ubar yang berat dan kelasnya pun tinggi tetapi tidak seawet mahang. 2. masalah penurunan muka air tanah tentu akan merusak kayu. 3. diameter yang ada sangat kecil dia 10-12 cm. 4. kelurusan kayu pun tidak terjamin. 4. kulit kayu tentu sulit diandal sebagai friction pile dsb.
    Bagaimana menurut Pak Irawan: Apakah masih boleh menggunakan cerucuk kayu sebagai tiang pondasi? Terimakasih Pak Irawan

  28. Saya sependapat dengan Pak Irawan. tetapi bila ada konsultan yang kekeh menggunakan cerucuk kayu sebagai pondasi bangunan permanen, jelas kita tolak. Apa argumentasi ilmiah yang paling tepat, ya Pak Irawan? Sebagai enggineer apa langkah agar di masa-masa mendatang para designer tidak lagi menggunakan cerucuk kayu untuk bangunan gedung permanen, terimakasih Pak Irawan.

    • Alasannya cerucuk suatu saat akan busuk. For sure ini akan terjadi sebelum umur bangunan habis. Berarti bangunan dalam umur layannya akan mengalami penurunan berlebih. Kalau mau pakai cerucuk beton.

  29. Pak Irawan dalam pengujian Field CBR Base untuk perkerasan jalan oleh salah satu Laboratorium Mekanika Tanah di Pekanbaru, mendapatkan hasil uji dalam laporannya dengan nilai CBR 18% dan ada juga 126%. Setelah saya konfirmasi dengan pihak laboratorium, dia mengatakan itulah nilai CBR perkerasan base-nya. Timbul pertanyaan apakah ada nilai CBR yang melebihi 100%, setahu saya kepadatan lapanganlah yang mungkin lebih dari 100% terhadap kepadatan laboratorium, bukan nilai CBR basenya. Apalagi base dengan agregat c yang terdiri dari campuran koral dengan tanah, seharusnya CBR nya hanya berkisar 20 s/d 40 % saja. Bagaimana pendapat Pak Irawan dalam hal ini? Terimakasih Pak Irawan

    • Pak Roni, CBR 100% adalah utk crushed stone kelas A (sebagai acuan). Secara teoritis, CBR bisa diatas atau dibawah 100% tergantung pada kekuatan/kepadatan/kemampuannya memikul beban relatif dibandingkan dengan material acuan (crushed stone kelas A). Sekalipun sangat kecil kemungkinannya ada material yg CBR nya > 100%.

      Kalau tanah dan batu (sirtu / pitrun) kelas C maka nilai CBR nya sekitar 30% saja.

      Salam, IF

  30. Pak Irawan, dari hasil kepadatan dengan metode Sand Cone, akan diproleh kepadatan lapangan. Biasanya kepadatan lapangan harus > 95% dari kepadatan Laboratoriun, katakanlah hasil pengujian CBR laboratorium base agregat C adalah 30%, maka hasil uji kepadatan sand cone harus > 95%, bukankah begitu? Bagaimana halnya dengan hasil uji CBR Field, apa perbedaan metode ini dengan metode sand cone. Terimakasi atas waktu Pak Irawan untuk shear.

    • Pak Roni, Secara umum saya kira perbandingan nilai CBR belum tentu sama dengan perbandingan kepadatan. Tapi ini utk tanah

      Utk aggregat, CBR ditentukan oleh gradasi dan kekerasan butirannya, bentuknya apakah angular atau rounded, tidak dikaitkan dengan kepadatannya, karena untuk aggregat setelah disebar dan dipadatkan sekadarnya, maka lapisan tsb sdh mencapai nilai CBR maksimumnya.

      Salam, IF

  31. wanda says:

    Pak Irawan, kalau berkenan saya hendak bertanya, berapa ukuran CBR, sand cone tanah atau jenis tanah yang sesuai untuk pemasangan tiang pancang baja atau beton ?

    • Mbak Wanda,
      1.Utk tiang pancang baja maupun beton, data yg dibutuhkan minimal adalah N – SPT atau qc (cone resistance) dari sondir.
      Test2 CBR maupun test kepadatan sand cone tdk diperlukan. Test2 tsb hanya utk pekerjaan pemadatan tanah.

      2.Idealnya ujung bawah tiang menumpu pada lapisan dense / very dense sand yg cemented, karena lapisan ini akan memberikan
      tahanan ujung (end bearing) yg tinggi, berarti daya dukung tiang juga akan tinggi.

      3.Kelihatannya anda perlu lebih banyak lagi membaca buku2 mengenai geoteknik, khususnya mengenai fondasi. Pertanyaan anda
      sangat dasar sekali.

      Salam,
      IF

  32. Asmk Pak Irawan, di Kota Pekanbaru ada memproduksi tiang pancang squre mini pile, ukuirannya 20 cm x 20 cm dan 25 cm x 25 cm. Pekanbaru sendiri dikenal dengan tanah gambutnya. Untuk mendapatkan end bearing pile (point beraing pile) ada yang mencapai 20 s/d 40 metrer. Untuk menghindari tekuk akibat kelangsing batang mini pile, bila kedalaman tiang tidak melebihi 20 meter dari top soil kita menggunakan mini pile 20 x 20 cm, sedangkan untuk kedalaman 20 s/d 40 meter kita menggunakan mini pile 25 x 25 cm. Mengingat struktur tanah yang sangat heterogen dan tidak semua lokasi di adakan borelog untuk mendapatkan sample tanah (hanya uji sondir saja). Pertanyaannya: Apakah ada suatu formula untuk mengkorelasikan kedalamann pemacangan tiang/atau bore pile dengan diameter tiang yang akan digunakan? terimakasih.

  33. Asmk Pak Irawan, di Kota Pekanbaru ada memproduksi tiang pancang squre mini pile, ukuirannya 20 cm x 20 cm dan 25 cm x 25 cm. Pekanbaru sendiri dikenal dengan tanah gambutnya. Untuk mendapatkan end bearing pile (point bearing pile) ada yang mencapai 20 s/d 40 metrer. Untuk menghindari tekuk akibat kelangsing batang mini pile, bila kedalaman tiang tidak melebihi 20 meter dari top soil kita menggunakan mini pile 20 x 20 cm, sedangkan untuk kedalaman 20 s/d 40 meter kita menggunakan mini pile 25 x 25 cm. Mengingat struktur tanah yang sangat heterogen dan tidak semua lokasi di adakan borelog untuk mendapatkan sample tanah (hanya uji sondir saja). Pertanyaannya: Apakah ada suatu formula untuk mengkorelasikan kedalamann pemacangan tiang/atau bore pile dengan diameter tiang yang akan digunakan? terimakasih.

    • wa’alaikum salam wr wb P Rony,
      Saya belum pernah tahu formula praktis utk mengkorelasikan panjang pemancangan dengan required diameter utk mencegah buckling.
      Yg saya tahu ada check buckling di buku Pile Foundation Analysis, Poulos & Davis, sekalipun agak rumit.
      Utk praktisnya, saya membatasi sambungan hanya 1 buah, dan itu otomatis membatasi panjang tiang.
      Pengalaman saya panjnag maks sekitar 20 an meter.

  34. Asmk Pak Irawan. Kondisi tanah di Kota Pekanbaru yang terkenal dengan tanah rawanya. untuk memdapatkan nilai Nspt > 50 bisa pada kedalaman mencapai 30-50 meter dari top soil. Bila kita menempatkan pada kedalaman dengan nilai Nspt berkisar 30, tentu dengan dimensi dan jumlah tiang yang cukup kuat untuk memikul beban kerja. Pertanyaannya: dengan nilai Nspt=30 cukup aman terhadap settlement? Bagaimana bila jenis tanahnya adalah Clay atau silt? Terimakasih Pak Irawan.

    • Wa’alaikum salam wr wb, P Rony, N SPT 50 itu bisa dicapai oleh sand atau non plastic silt. Kalau silty clay atau clayey silt dengan plastisitas sedang, kira2 N SPT nya tidak akan mencapai 50, paling2 sekitar 30 an. Jadi utk clay N = 30 itu sudah diklasifikasikan sebagai bearing layer, artinya bisa mendukung tiang. Hanya settlementnya lebih besar, itu kalau terus kebawah tanahnya sama. Di Jakarta sekalipun tiang duduk dilapisan sand dengan N >=50, dibawahnya dijumpai lagi lapaisan clay/silt dengan N sekitar 30 an. Sehingga settlement pada pile group besar tetap perlu diperhitungkan.

      Kembali ke Pekanbaru, kalau tanahnya clay terus kebawah sama, usahakan menggunakan menggunakan pile group kecil-kecil, sehingga pressure bulb kecil, dan settlement kecil. Biasanya kalau tdk menggunakan shear wall, tetapi kolom2, bisa digunakan pile group kecil-kecil. Mudah2an membantu.

      Salam, IF

  35. Asmk Pak Irawan, saya ada maksud membukukan dialog ini, agar bisa dibasa oleh mahasiswa saya di Universitas Islam Riau Pekanbaru. Maka itu saya minta izin dan arahan Pak Irawan. Sekalian saya minta “Pengantar” dari Pak Irawan. Mungkin bukunya masih relatif tipis, tetapi menjelang menjadi buku harapan saya bisa lebih tebal. Agar memudahan komunikasi bisa tlg kirim alamat email Pak Irawan? Email saya: ardiansyahuir@gmail.com terimakasih.

  36. Asmk Pak Irawan. Dari formula Tahanan geser Tiang Tanah Berpasir menurut Naval Engineering Facilities Command (untuk data SPT): Untuk Tiang Pamcang Qs = 0.2 Nspt. Li. P, sedangkan Tiang Bor Qs = 0.1 Nspt. Li. P. Apakah saya boleh berkesimpulan bahwa Daya dukung (khusus friksi) tiang pancang (QS) dua kali lebih besar dari tiang bor (QS). Mohon pencerahkan, Pak Irawan, terimakasih.

    • Asmk P Rony, Untuk tanah pasiran (sandy soils) tahanan friksi tiang pancang kira2 2x tiang bor. Mudah dimengerti bahwa efek pemancangan membuat tanah sekitar tiang memadat. Hal ini tidak terjadi pada proses pemboran.

  37. Asmk Pak Irawan, di tengah kota Pekanbaru terdapat lapisan pasir (sand) berbutiran cukup kasar terletak pada kedalaman 3 meter sampai dengan 12 meter. Nilai Qc pada kedalaman 3 meter sudah > 20 kg/cm2 (qc berkisar 20-50 kg/cm2) Oleh itu untuk bangunan Ruko berlantai 2-3 lantai (beban perkolom 20-40 ton) kita sering menggunakan pondasi Sumuran dia 100 s/d 120 cm pada kedalaman > 3,00 meter dari top soil. Meskipun pada kedalaman 12 meter hingga 14 meter masih terdapat lapisan clay yang nilai Nspt nya sekitar 5 atau qc < 10 kg /cm2. Bagaimana pendapat Pak Irawan tentang Stabilitas Dukung dari Pondasi Sumuran tersebut? trims.

    • Ass wr wb P Rony, Komentar saya secara umum sbb: Fondasi sumuran dapat dipakai dengan catatan: – Gunakan sesedikit mungkin sumuran yg mendukung 1 buah kolom (kalau mungkin 1 sumuran per kolom), sedemikian sehingga stress bulb masih tetap dalam lapisan pasir, tidak menembus lapisan clay dibawahnya. Ingat bahwa stress bulb kira2 mencapai 2x D dibawah dasar sumuran (D = lebar atau diameter fondasi). Kalau kondisi ini bisa dipakai, maka settlement tdk perlu dikhawatirkan.

      Salam,

  38. Asmk Pak Irawan. Kapasitas Daya Dukung Tiang dari Uji SPT, untuk Tahanan Ujung Qb = Ab * fb. Dari Buku Anlisis dan Perencanaan FONDASOI (bagian II) oleh Hary Christady Hardiyatmo halaman 185. adalah:
    Untuk tiang dalam pasir dan krikil: fb = 0,4 N (L/d) Tr
    Untuk tiang dalam lanau tidak plastis fb=0,4 N (L/d) Tr
    note: bila L/d > 10 untuk tanah pasir dan krikil
    bila L/d > 7,5 untuk lanau
    Bila untuk kebutuhan Praktis ketemu jenis tanah Lanau kepasiran, kita pernah menggunakan nilai fb= 0,3 N (L/d) Tr……jadi Nilai 0,4 diganti dengan nilai yang kecil dari 0,4…..misanya 0,3 atau 0,35. Apa pendapat Pak Irawan, terimakasih.

    • Ass wr wb P Rony,
      Kalau saya simpel saja, saya tdk pakai itu parameter2 L/d, dll, karena saya tdk lihat dibuku text yg saya pakai, dan saya tdk pernah baca buku yg anda sebutkan. Jadi masalahnya dalam menentukan unit end bearing qe menggunakan nilai N SPT adalah menentukan nilai N rata2 yg representatif utk menghitung end bearing. Untuk itu agar memperhatikan stress bulb disekitar ujung bawah tiang, dan N rata2 didaerah ini yg digunakan. Selebihnya menggunakan rumus empiris sbb:

      + Clean sand qe = 32 N t/m2
      + Gravelly sand qe = 40 N
      + Clay-Silt-Sand mixes; silt; very silty fine sand qe = 16 N
      + Plastic Clays qe = 7 N

      Salam,

  39. Asmk Pak Irawan. Terimakasih atas informasi yang sangat berharga dari Pak Irawan. Izinkanlah saya untuk mendiskusikan hal-hal sebagai berikut:

    Di areal tertentu kota Pekanbaru (sekitar jalan Nangka Ujung, misalnya) terdapat lapisan gambut atau lempung yang sangat lunak, yang sangat tebal bisa mencapai 5-7 meter. Beberapa referensi menyarankan Qs (daya dukung friksi) untuk tanah semacam ini bisa dibaikan, Apakah Pak Irawab setuju?

    Kasus lain, karakter tanah di Pekanbaru yang sering kita jumpai sbb: Pada kedalaman 3 meter sudah cukup keras yaitu lapisan pasir dengan Nspt >25, varisinya hampir sama sampai dengan kedalaman 11 meter. Pada kedalaman 11-13 meter terdapat lapisamn lempung lunak (Nspt berkisar 9). Untuk kasus kedua ini, bila saya menggunakan Pondasi Sumuran atau Bore pile diameter agak besar > 60 cm diletakan pada kedalaman 3-4 meter. Menurut Pak Irawan, sampai seberapa besar pengarul lapisan lemoung lunak yang terletak pada kedalaman 11- 13 meter itu?

    • Wa’alaikum salam wr wb,

      1. Saya setuju friksi diabaikan Malah perlu ditinjau kesetimbangan vertikal akibat tambahan beban gaya negatif skin friction akibat memadatnya tanah lunak. Gunakan SF kecil saja 1.2 ~ 1.5 utk check kesetimbangan vertikal.

      2. Gunakan sekecil mungkin jumlah tiang dalam group. Kalau mungkin gunakan maksimum 2 tiang, sehingga lebar fondasi sama dengan diameter tiang (B = D). Stress bulb dibawah dasar tiang adalah 2B ~ 4 B. Tempatkan ujung bawah tiang sedemikian sehingga 4B tidak sampai tembus lapisan keras. Kalau ini bisa dilakukan, berarti settlement tdk perlu ditinjau. Kalau hanya tersisa 2D dibawah ujung tiang, dilapisan clay ada tegangan kira2 10% contact pressure. Perlu dicheck settlement.

      Salam,

  40. Asmk Pak Irawan. Pengujian SPT dan pengambilan sample UDS dengan metode Pengeboran Bilas (wash boring) sampai seberapa jauh selisih hasilnya dengan cara Core Drill?

    • Wa’alaikumsalam wr wb,
      Saya tdk pernah membandingkan, tetapi jika dilakukan oleh juru bor yg ahli, wash boring tdk akan mempengaruhi nilai SPT dan UDS, kecuali jika tanah lunak/lepas. Di Jkt ada satu kontraktor penyelidikan tanah yg selalu menggunakan wash boring dan cukup punya reputasi yg baik. Masalah utamanya adalah mendeskripsi tanah dari cuttings yg dibawa air naik keatas, ini jelas tdk mudah.
      Jalan tengahnya kalau takut kualitas SPT atau UDS terpengaruh adalah dengan melakukan cara sbb; wash boring sampai 20 ~ 30 cm diatas level SPT atau UDS, kemudian dilanjutkan dengan coring sampai level SPT atau UDS.
      Mudah2an membantu.

      Salam,

  41. Asmk wr. wb Pak Irawan. Menurut (Wesley, 1977: 124), “Penurunan kelompok tiang (pile group) pada tanah lunak selalu lebih besar dari pada penurunan tiang tunggal (single pile), dan ada kalanya akan berpuluh kali lebih besar.” Bagaimana prosesnya, hal ini bisa terjadi? Terimakasih.

    • Wa’alaikum salam wr wb, 1. Jawaban pertanyaan2 anda sebelumnya yg menyangkut adanya tanah lunak dibawah, dan saran saya menggunakan pile group sekecil mungkin, secara tdk langsung mengindikasikan adanya settlement yg besar pada pile group besar. Saya juga menjelaskan mengenai stress bulb yg membedakan antara pile group besar dan pile group kecil, yg berakibat ke settlement.

      2. jadi sekali lagi yg membedakan ple group kecil atau tiang tunggal dengan pile group besar adalah stress bulb nya. Stress zone pile group besar sampai menjangkau jauh dibawah pile tip, dan ini bisa menjangkau lapisan tanah yg compressible dibawah bearing layer tempat duduknya tiang. Di Jakarta, dibawah bearing layer cemented sand, dijumpai lagi lapisan clay dengan N SPT sekitar 20 an – 30 an, yg masih compressible.

      Salam,

      • A.Chandra says:

        Pak IF ysh,
        Ikut nimbrung di topic nya pak Rony, saya jadi ingat sesuatu yang pernah diajarkan saat kuliah tentang stress bulb ini. Dari yang bapak tuliskan stress bulb untuk pondasi tiang berkisar antara 2B-4B dibawah pile tip yang mana hal tersebut diperlukan untuk “prediksi” pengaruhnya ke settlement pada tanah compressible.

        Untuk kasus tanah di Jakarta, jika pondasi tiang dalam grup harus menembus lapisan pasir sehingga tip resistance nya berada di tanah compressible maka perhitungan settlement menggunakan imaginary footing 2/3L berlaku pak?
        Metoda pondasi dalam yang bisa dilakukan untuk menembus sand layer ini hanya bored pile ya pak? Banyak kontraktor pondasi pancang yang bilang kalau metoda pre coring berisiko masalah verticality nya.

        Best regards,
        Alan

      • Dear Alan,
        Kalau kekerasan tanah sangat berbeda antara lapisan bearing layer dan tanah diatasnya, maka equivalent footing saya ambil pada permukaan lapisan bearing layer.
        Tetapi jika tanah menjadi keras secara berangsur-angsur, saya mengambil equivalent footing pada 2/3 L.
        Memang bored pile yg dapat menembus lapisan cemented sand ini. Pre coring memang biasanya sering ada masalah, tetapi bukan tiang miring, tetapi tiang terpancang tdk sampai kedalaman yg direncanakan, karena tanah yg berguguran (biasanya pasir) menyumbat lubang. Ini karena lubang pre coring biasanya sedikit lebih kecil dari diameter/lebar sisi tiang. Dengan demikian ada keraguan mengenai daya dukung tiang.

        Salam,

  42. ASMK Pak Irawan, ketemu lagi Pak.
    Dari Meyerhoff (1956, 1965) mengusulkan untuk menentukan Bearing Capacity (daya dukung) ultimate qu.
    Pada tanah Granular (berbutir/sand) : qu = 48 – 0,009 (300 – qc)^1,5
    Pada tanah lempung (clay) qu = 5 + 0,34 qc
    Bila saya mengambil nilai qc rata-rata = 13,45 kg/cm2, maka didapat
    qu = 62,55 ton untuk tanah berpasir dan qu = 137,85 ton.
    Yang menarik menurut Formula ini adalah Tanah Clay mempunyai daya dukung ultimate 2,2 kali lipat tanah berpasir. Mohon Pencerahan dan pendapat Pak Irawan, terimakasih.

    • WASWW, P Rony, menurut saya bearing capaity tanah granular/sand tidak pernah lebih rendah dari tanah lempung, untuk nilai qc atau N SPT yang sama. Saya tdk familier dengan formula tersebut. Yang saya sarankan adalah menentukan Cu (utk tanah lempung) atau phi (utk tanah granular) dari nilai qc atau N – SPT nya. Utk praktek bisa diambil nilai yg agak konservatif Cu = qc/20 (kg/cm2), sedangkan nilai phi tanah granular bisa ditentukan dari grafik Schmertmann dengan absis Overburden pressure dan ordinate N SPT, dengan beberapa garis lengkung nilai phi.

      Salam,

  43. Ass. Wr. Wb. Pak Irawan, kali ini saya sedang menangani sebuah proyek yang diduga daya dukung pondasinya tidak cukup kuat menahan beban yang ada di Pekanbaru. Oleh konsultan perencana direncabakan pondasi setempat/umpak atau foot plate dgn dimensi 120 cm x 120 cm, pada kedalaman 1,75 m dari top soil, pada nilai qc rata2 12 kg/cm2, jenis tanah lempung kepasiran. Secara simple saja jika saya mengambil SF=8, maka didapat daya dukung 21,6 ton jauh lebih kecil dari beban aksial gedung dua lantai yang ada yakni berkisar 38 ton.
    sebagai Tim invetigation saya berkesimpulan sementara Pondasi Foot Plat ini Tidak Kuat/Tidak Aman atas dasar: 1. Nilai qc = 12 kg/cm2 termasuk tidak direkom untuk pondasi setempat. 2.Dimensi Pondasi 120 x 120 cm termasuk batas minimum lebar pondasi yang direkom. 3. berdasarkan formula mayerhof untuk lebar pondasi B < 4 feet (120 cm) nilai Qall diambil Qc/30.
    Bagaimana Pendapat Pak Irawan? Terimakasih atas informasi Pak Irawan.

    • P Rony,
      Jawaban saya sbb:
      Daya dukung fondasi telapak qa = C Nc / SF
      C disini = Cu = qc/20 kg/cm2 =12/20 kg/cm2 = 0.6 kg/cm2 = 6 t/m2.
      qa = 6 x 5.14 /3 = 10 t/m2

      Ukuran fondasi 1.2 x 1.2 m2 –> Qa = 10 x 1.2 x 1.2 = 14.4 ton.
      Jadi check beban kolom terhadap Qa tsb.

      Kalau perlu, check settlement yg akan terjadi.

  44. Terimakasih Pak Irawan, semakin kuat dugaan kami sebagai Tim Investigasi bahwa Pondasi tersebut Memang Tidak Aman.

  45. Pak Irawan, sering ada pertanyaan mana ya lebih akurat, nilai qc dari data CPT atau nilai N dari data SPT? selama ini saya tidak pernah meng-komper kedua parameter ini. Dari korelasi beberapa parameter yang menghasilkan nilai qc sekitar 2,5 N (clay) dan qc sekitar 4 N (sand), saya berasumsi seharusnya nilai qc bisa lebih akurat, sedangkan nilai N spt sangat tergantung jenis tanahnya. Bagaimana tanggapan Pak Irawan. Terimakasih.

    • P Rony,
      Untuk tanah clay lunak, pasti CPT lebih akurat.
      Utk tanah yg keras, medium stiff keatas, atau tanah pasiran padat, SPT punya keunggulan karena CPT sudah sulit untuk menembus.

      Salam,
      IF

  46. Siang Pak Irawan,
    Perkenalkan saya Novi dr Balikpapan ingin meminta bantuan bapak untuk menjadi konsultan independent utk project kami di balikpapan. Yang berkaitan dengan tanah dan struktur.
    Apakah kami dapat menghubungi bapak? Demikian dan terimakasih.

    Salam

  47. wulan says:

    Assalamualaikum pak irawan.
    perkenalkan sy wulan pak, sy ingin bertanya. skitar +- 5 bulan lalu sy ad proyek pemancangan dg menggunakn jacking pile. Nah, pd saat pemancangan si tiang pncang trsbut ada yg bergeser dr titik yg sudah di rencanakan. yg ingin sy tanyakan. sbenarnya berapakah toleransi ( berapa x diameter tiangpancang ?) pergeseran tiang pancang yg sdh di pancang tsb dr titik yg sudah di rencanakan. soalnya byk sumber yg menyatakan berbeda2. terimakasih pak.

    • Wa’alaikum salam wr wb,
      Allowable tolerance adalah 75mm in any horizontal direction, diukur dari correct pile location, pada cut-off level.

      Salam,

      • Pak Irawan, tolong saya di-info-kan referensi peraturan mengenai toleransi horizontal pile (peraturan Indonesia dan atau peraturan negara lain).
        Kalau boleh, nomor pasalnya juga disebutkan.
        Terima kasih.

      • Dear Winata,
        Peraturan Indonesia: Peraturan Kepala Dinas P2B, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, No 50 tahun 2007 Tentang Pedoman Perencanaan Struktur dan Geoteknik Bangunan.
        Mengenai laterally loaded pile ada pada Bab IV: Laporan Uji Pembebanan Tiang Fondasi. Isinya antara lain sbb:

        Pergeseran kepala tiang pada pelaksanaan test (kondisi free head) harus memenuhi besaran-besaran:
        1) 10 mm pada beban 100% beban rencana
        2) 25 mm pada beban 200% beban rencana

        Di Jakarta belakangan ini sering diminta test lateral tiang dengan kondisi Fixed Head, khususnya jika beban lateral izin besar, seperti pada bored pile diameter besar. Jika kondisi Fixed Head, saya biasa memakai defleksi izin 1/4 “, berarti sedikit lebih besar dari peraturan diatas ( deflekasi kondisi fixed Head ~ 1/2 defleksi kondisi Free Head).

  48. Assalamualaikum wr wb Pak Irawan, Minal aidin wal faidzin-Mohon Maaf lahir dan bathin. Ketemu lagi Pak. Kali ini saya ingin discus masalah “Foundation Supporting”. Dalam menangani suatu pondasi telapak/foot plate yang diprediksi tidak kuat mendukung beban yang ada, kami dari tim investigasi sepakat untuk mengadakan metode support dengan bore pile. Materi yang mau saya diskusikan: “Secara logika, bila yang di support adalah pedestal (kolom antara pondasi dengan tie beam), kita dapat mengasumsikan bawah telapak pondasi yang ada (existing) masih mempunyai kontribusi untuk memberikan daya dukung maka boleh-boleh saja bila kekurangan daya dukung yang ada kita pikulkan ke bore pile (struktur untuk support). Akan Tetapi, bila yang di support adalah Tie beam (existing), tentu terdapat jarak/space tertentu antara bore pile (struktur untuk support) dengan telapak pondasi existing, secara logika masih terjadi potensi untuk terjadi perbedaan penurunan antara bor pile dengan pondasi umpak, dalam hal ini pondasi umpak diasumsikan tidak memberikan kontribusi dan 100% daya dukung dipikulkan oleh bore pile.” Pak Irawan, bagaimana dengan interptestasi saya tentang hal tersebut di atas? Apakah demikian? Apakah Pak irawan punyai interptrestasi lain?

  49. Asmk Pak Irawan, sperti yang pernah saya sampaikan pada tanggal 12, Desember 2012.
    Saya ada maksud membukukan dialog ini (sekarang sedang dalam proses penegtikan) agar bisa dibaca oleh mahasiswa saya di Universitas Islam Riau Pekanbaru. Maka itu saya minta izin dan arahan Pak Irawan. Sekali lagi, saya minta “Pengantar” dari Pak Irawan. Pengatar Pak Irawan, saya tunggu di Email saya: ardiansyahuir@gmail.com terimakasih.

  50. gunawan says:

    asalamualaikum pak irawan,
    salam kenal sebelumnya pak. nama saya gunawan
    ada yang mau saya tanyakan pak.
    1. adakah analisa pondasi tiang pancang pengaruh tanah liquefaction?
    2. adakah syarat tertentu bahwa tanah tersebut terjadi liquefation.
    trimaksih banyak pak irawan

    • Wa alaikum salam mas Gunawan,
      Salam kenal kembali. Mohon maaf, saya agak lama membalas, karena kesibukan2 saya akhir2 ini.
      Saya membahas dengan bahasa populer ya, supaya lebih clear.

      Liquefaction terjadi pada tanah pasirlepas (loose sand) yang jenuh air. Akibat gempa tanah pasir itu memadat sehingga tegangan air pori akan naik. Naiknya tegangan air pori ini bisa sama atau lebih kecil dari overburden pressure. Jika u sama dengan sigma, maka keseluruhan kuat geser tanah akan hilang (ingat rumus S = c + (sigma – u) tan phi, dan c = 0 untuk sand). Jika u lebih kecil dari sigma, atau bila ada nilai c, maka kuat geser tanah tidak hilang sama sekali. Jadi jelas, bahwa jika ada fine grained soil (clay ) kalau tdk salah 15 % saja, maka tidak tanah tersebut tdk akan mengalami liquefaction. Selebihnya ada faktor2 lain seperti gradasi dan ukuran butiran sand yg menentukan potensi liquefaction dinyatakan dengan coeff of uniformity Cu (Factor2 ini menentukan besarnya kenaikan u). Lebih detail bisa dilihat di “Ground Motion and Soil Liquefactiom During earthquake”, oleh Seed & Idriss.
      Utk praktisnya biasanya hanya ditinjau relative density (Dr), dan fine content. Seingat saya (saya tdk sempat lihat buku) yang aman dari liquefaction kalau Dr > = 75% atau fine content > = 15%.

      Secara lebih teknis, potensi liquefaction ada jika tegangan siklik yg timbul akibat gempa magnitude tertentu melebihi tegangan siklik yg menyebabkan liquefaction (diperoleh dari program test). Liquefaction ini hanya terjadi pada lapisan tanah belasan m dari permukaan tanah, tdk pernah lebih dari 20 m. Jadi bila kita punya tiang panjang 20m, dimana 10m teratas punya potensi liquefaction, maka berarti yg harus dijawab oleh perencana adalah apakah sisa panjang tiang 10m yg terbenam pada tanah mampu menahan beban yg bekerja, khususnya beban lateral akibat gempa mengingat 10m teratas dalam kondisi tanpa tahanan tanah diselilingnya. Mungkin perlu memperbesar dimensi tiang, atau memperbaiki tanah agar tdk ada potensi liquefaction. Pilihannya paling tdk ada dua:
      + Membuat kolom gravel dengan ukuran dan jarak tertentu sebagai jalan tol bagi pelepasan tegangan pori, sehingga pada deposit tanah tdk naik.
      + Memadatkan tanah dengan dynamic compaction (menjatuhkan beban berat dari ketinggian tertentu mengikuti suatu grid tertentu, sehingga dicapai relative density yg bebas dari liquefaction).

  51. Pak Irawan, kayaknya ketinggalan, pertanyaan saya taanggal 14 dan 27 Agustus 2013. Terimakasih.

  52. Ary says:

    Assalamu’alaikum…
    Salam kenal Pak Irawan,
    Saya Ari mahasiswa Teknik Sipil Riau

    Mau sedikit bertanya Pak kalau tidak keberatan. Mengenai perbandingan penurunan Bore Pile dan Tiang Pancang, mana yang lebih besar mengalami penurunan diantara keduanya, berdasarkan jenis tanah atau beban struktur diatasnya.
    Mohon bantuan pencerahannya Pak Irawan, semoga penjelasan dari Pak Irawan sangat bermanfaat. Terimakasih.

    • Wa’alaikum salam Wr Wb Ary,
      Salam kenal kembali.
      Masing2 fondasi tersebut dipilih sesuai dengan kondisi tanah yg ditemui, masing2 punya kelebihan, an masing2 punya kelemahan. Kalau tiang pancang bisa digunakan, orang tdk akan memakai bored pile. Bored pile digunakan kalau beban bangunan sangat besar, sehingga kalau digunakan tiang pancang jumlahnya akan sangat banyak, atau bila ada basemen yg cukup dalam, sehingga kalau digunakan tiang pancang, panjang efektifnya sangat pendek (ingat bahwa tiang pancang tdk dapat menembus tanah keras, jadi akan berhenti dilapisan tanah keras teratas). Dalam hal ini bored pile lbh tepat digunakan, karena baik diameter maupun panjang efektifnya bisa ditentukan sesuai kebutuhan.
      Dalam pekerjaan sebenarnya, tidak pernah org membandingkan tiang pancang dan bored pile dengan panjang yg sama, dengan alasan tsb diatas. Jadi pertanyaan anda agak kurang tepat.

      Kalau semuanya sama (kondisi tanah, penampang dan panjang efektif tiang, dan beban yg bekerja), maka settlement tiang pancang akan lebih kecil karena tiang pancang adalah displacement pile (artinya tanah akan terdesak dengan pemancangan tiang) sedangkan bored pile adalah non displacement pile (tanah disekitar bored pile tdk terdesak). Mudah2 an membantu.

  53. Ass. Wr. Wb Pak Irawan. Saya setuju dengan pembahasan di atas bahwa tiang pancang tidak dapat menembus tanah keras (lensa pasir). Karena Large displacement pile, sering kali tiang yang dipancang harus terpaksa berhenti di nilai Nspt sekitar 25-30, sedangkan dengan bore pile kita bisa merencanakan di nilai Nspt 50. Pertanyaan saya, berapa nilai Nspt minimal untuk point bearing pile agar tidak terjadi setllement tiang yang terlalu besar?

    • Ass. Wr. Wb Pak Irawan. Saya setuju dengan pembahasan di atas bahwa tiang pancang tidak dapat menembus tanah keras (lensa pasir). Karena Large displacement pile, sering kali tiang yang dipancang harus terpaksa berhenti di nilai Nspt sekitar 25-30, sedangkan dengan bore pile kita bisa merencanakan di nilai Nspt 50. Pertanyaan saya, berapa nilai Nspt minimal untuk point bearing pile untuk tiang pancang agar tidak terjadi setllement tiang yang terlalu besar?

  54. Asmk Pak Irawan, seperti yang pernah saya sampaikan pada tanggal 12, Desember 2012.dan 17 agustus 2013.Saya ada maksud membukukan dialog ini (sekarang sedang dalam proses penegtikan) agar bisa dibaca oleh mahasiswa saya di Universitas Islam Riau Pekanbaru. Maka itu saya minta izin dan arahan Pak Irawan. Bagaimana Pak Irawan? Sekali lagi, saya minta “Pengantar” dari Pak Irawan. Pengatar Pak Irawan, saya tunggu di Email saya: ardiansyahuir@gmail.com terimakasih.

  55. Desy says:

    Salam kenal pak Irawan, senang sekali membaca blog bapak yang sangat informatif ini.
    saya ingin tahu pendapat dan pengalaman bapak mengenai penggunaan shallow foundation di tanah clay dgn NSPT rendah (1-3) hingga kedalaman 4 m dengan menggunakan soil improvement. dalam hal ini saya ingin optimal dalam pembiayaannya pak.
    1. untuk menaikkan bearing capacity tanah tersebut, semisal menggunakan footplat apakah sebaiknya tanah dikupas hingga 4 m atau bisa kurang dari 4 m pak ?
    2. soil improvement yang digunakan, menurut bapak mana yang paling efektif antara soil cemented, ditimbun limestone dan penggunaan wooden pile ? mohon pencerahan pak Irawan

    terimakasih banyak pak Irawan atas kesempatannya

    • Salam kenal kembali mbak Desy.
      2 hal yg harus dipenuhi dalam mendesain fondasi adalah:
      – Bearing capacity > beban yg bekerja
      – Settlement = 4m. Catatan: utk clay saya rasa kurang tepat menggunakan soil cement, karena sulit utk menyatukan tanah dan cement. Mengganti dengan lime lebih baik. Untuk cerucuk, bagian atasnya harus dipegang agar tdk miring2 ketika dibebani fondasi. Kepala2 cerucuk arah X dan Y harus disatukan dengan bahan yg sama dengan cerucuk, misalnya bambu atau dolken. cerucuk bambu + 2 atau 3 lapis bamboo mat biasa digunakan utk reklamasi di utara Jkt, khususnya waktu menimbun batas2 tepi area yg akan direklamasi, dengan menggunakan batu kali.

  56. ega says:

    assalamuaikum. wr.wb
    saya mahasiswa teknik di pekanbaru pak
    sekarang saya sedang mngerjakan laporan kerja prakter, yaitu menghitung kekuatan pondasi hotel SKA and Convention
    saya bingung perbedaan CPT dan N-spt
    ap perbedaannya pak?
    data yng saya dpatklan itu berupa tabel yang da tulisan , perlawanan konus, jumlah perlawanan, perlawanan gesek, bla bla bla
    sementara contoh dari senior saya, hasil akhir perhitungan berupa Qs atu total tahanan ujung
    apa yang sebaiknya saya lakukan pak??
    terima kasih banyak atas penjelasan bpk

  57. Ryan R. Setiadi says:

    Pak Irawan, saya Ryan R. Setiadi, dulu tahun 2012 kebetulan saya pernah ikut kelas Bapak di Kelas Teknik Pondasi Lanjut, meskipun cuma 2 kali pertemuan, namun informasi yang Pak Irawan sampaikan sangat bermamfaat sekali ketika saya kerja sekarang, walaupun saya sekarang berprofesi sebagai struktur engineer. Kebetulan kita juga pernah ketemu lagi di Seminar Unpar kalau tidak salah tahun lalu tentang Deep Excavation, kalau boleh pak, saya ingin mengajukan pertanyaan :

    1. Setahu saya di TPKB sekarang untuk bangunan tinggi analisa settlement harus 3D, umumnya analisa yang sering dipakai ada 2 tipe, 1 dengan metode FEM3D misalnya dengan Plaxis 3D atau Midas GTS dan yang satunya lagi analisa dengan metode Boussinesq/Mindlin dengan bantuan software Settle3D. Analisa dengan FEM sangat rumit dan cukup menghabiskan waktu + uang, sehingga banyak yang menggunakan alternatif kedua dengan metode Boussinesq/Mindlin, namun karena metode ini setahu saya tidak bisa menganalisa interaksi tiang dan tanah, sehingga analisa pile-raft cukup dengan menggunakan metode equivalen raft, pertanyaannya pak, adakah ada kondisi khusus sehingga metode equivalen raft tidak bisa digunakan lagi ?, kalau ada, boleh tahu paper-nya yang membahas masalah tersebut ?

    2. Tadi saya baca di salah satu jawaban bapak di atas, mengenai bulb pressure dari beban yang sekitar 2-4 B pondasi, tapi saya pernah lihat bahwa distribusi bulb pressure yang Rule of thumb 2-4 B sepertinya cuma berlaku untuk nilai modulus elastisitas yang sama/berbeda sedikit sehingga teory Boussinesq dengan asumsi tanah homogen masih berlaku, namun jika ada perbedaan yang cukup significant antara layer keras dan lunak, maka tegangan vertikal terkonsentrasi di tanah lunak, ini terlihat dari gambar 6.2 pada buku Elastic Solutions for Soil and Rock Mechanics – Poulos & Davis, bagaimana tanggapannya pak ?

    Terima kasih banyak pak jika berkenan untuk menjawab pertanyaan saya.

    • Halo Ryan,
      Bahan kuliah tsb saya sarikan dari membaca dan pengalaman pribadi saya sebagai konsultan geoteknik, dan menurut saya akan bermanfaat dimanapun posisi para mahasiswa setelah lulus. Sayangnya tdk banyak yg memenfaatkan kuliah saya dengan maksimal, karena kuliah tsb didesain menjadi pengantar utk memancing diskusi. Tanpa diskusi tdk banyak yg bisa dimanfaatkan dari kuliah tsb. Mahasiswa yg mengikuti kuliah saya tahun ini mungkin yg paling aktif dibandingkan tahun2 sebelumnya.

      Analisa settlement cukup pakai SETTLE/3D dengan Equivalent Raft. Tidak berlaku untuk pile group kecil. Saya biasa menggunakan metode Poulos & Davis utk pile group kecil. FEM3D pernah saya gunakan utk analisa Piled – Raft yg sesungguhnya, dimana Raft duduk ditanah yg keras ditambah tiang2 yang relatif pendek. Dari analisa ini hanya dipakai utk mengetahui distribusi beban antara pile dan raft, utk menjamin tdk terjadi overload pada salah satu sistim fondasi. Saya sulit utk mempercayai settlement hasil FEM3D, karena semakin kompleks suatu program, semakin besar kemungkinan terjadi kesalahan.
      Benar bahwa kalau tanah tdk homogen maka tegangan vertikal terdistribusi lebih dalam pada tanah bawah yg lunak.

  58. adhien Permana Indra Putra says:

    Assalaamualaikum Pak Irawan..Apakah d ijinkan jika hasil rekomendasi dr konsultan perencana kedalaman pondasi 16 meter tetapi d pasang 14 meter dgn kalendering 5cm..tp kami tambahkan 1 titik pondasi dalam grup dgn kedalaman yg sama 14meter. Terima kasih. Hormat Kami.WaSaalamualaikum.

    • Wa’ alaikum salam wr wb Andhien,
      Jawaban saya sbb:
      1. Ada 2 hal yg harus dipenuhi dlm mendesain fondasi, baik fondasi tiang maupun fondasi dangkal:
      – Aman dari segi bearing capacity
      – Settlement yg terjadi dalam batasan yg aman bg stuktur
      2. Mengganti n buah tiang panjang 16m dengan tiang panjang 14m dengan jumlah n + 1, mungkin saja memenuhi dari segi bearing capacity,
      tetapi memperhatikan nilai kalendering yang besar ( 5cm), saya perkirakan akan adalah settlement yg excessive mengingat pile toe belum duduk ditanah keras.
      Saya biasanya membatasi nilai kalendering < = 2,5 cm / 10 blows, bahkan lebih sering 1,5 cm/10 blows.
      3. Kalau desain konsultan benar, berarti kedlaman tanah keras pada 16m, berarti tiang anda berada 2m diatas tanah keras.

      Mudah2 an penjelasan ini membantu anda memecahkan masalah yg dihadapi.

      Salam,

  59. Agus Juniarto says:

    Dear Pak Irawan….
    disini saya mau bertanya mengenai perhitungan konversi tiang pancang mini pile dari ukuran 25x25menjadi segitiga 32 x 32, bentuk perhitungannya sprt apa Pak?
    utk beban/hasil soil test nya diasumsikan saja angka2nya Pak..
    Trims sebelumnya pak atas arahannya🙂

    • Dear Agus,
      Misalkan n lapis tanah yg memberikan tahanan friksi, dan telah diketahui unit tahanan friksi utk masing2 lapisan tanah
      Demikian juga telah diketahui unit end bearing
      Tahanan friksi tiang 32×32: Qf = (Keliling tiang 32 / keliling tiang 25)(f1 x t1 + f2 x t2 + ….+ fn x tn)
      End bearing tiang 32 x 32 : Qe = (Luas dasar tiang 32 / luas dasar tiang 25)(unit end bearing)
      dimana t1, t2, …, tn adalah tebal lapisan tanah 1, lapisan tanah 2, …., lapisan tanah n
      Kalau yang diketahui dari tiang 25 adalah tanahan izin, maka yg diperoleh utk tiang 32 juga tahanan izin. Sebaliknya kalau
      yang diketahui dari tiang 25 adalah tahanan ultimate maka konversinya utk tiang 32 juga tahanan ultimate.

  60. Enah says:

    Pak Irawan (semoga bapak masih aktif di wordpress)
    perusahaan tempat saya bekerja baru saja melakukan tes CBR untuk tanah project bangunan Gudang.
    Hasil CBR minimal yang ditunjukan adalah 40% dan maksimal di 45% (pembulatan kebawah)
    Lantai gudang direncanakan untuk pembebanan sebesar 4 ton per m2. Apakah kita dapat mengetahui daya dukung tanah dari nilai CBR tersebut?
    Saya sudah mencari informasi mengenai korelasi DDT dan CBR dan mendapatkan grafik korelasinya dimana DDT pada skala 1-10 dan CBR pada skala 1-100 (sni 03-1732-1989).

    Jika dilihat dari korelasi tersebut. pada angka CBR 40, DDT berada di antara angka 8-9, apakah ini berarti pada angka CBR 40% menunjukkan daya dukung tanah =8-9 ton/m2?

    Terima kasih sebelumnya
    Enah

    • Enah,
      Sebenarnya antara CBR dan daya dukung tanah ada pada jurusan yang berbeda, jadi kurang tepat untuk dikorelasikan. CBR untuk desain sesuatu yg tdk sensitif terhadap settlement, sedangkan daya dukung tanah selalu dikaitkan dengan settlement. Pada perkerasan jalan, kita tdk pernah conncern akan settlement akibat beban lalu lintas. Jika lebar roda 20 cm maka stress bulb hanya sedalam 40 cm dari bidang kontak roda dan perkerasan, berarti masih didalam perkerasan, tdk menyentuh tanah asli. Demikian juga utk gudang, tdk ada yg concern mengenai settlement dari pelat beton, akibat tanah dibawah perkerasan dengan CBR 40% – 45%, karena akan terjadi sangat perlahan. Perkerasan dengan CBR 40%-45% itu setara dengan sirtu, jadi pasti kuat mendukung beban 4t/m2, tetapi tanah dibawahnya bisa mengalami settlement, apalgi bila beban menetap utk jangka waktu yg lama. Ada baiknya pelat beton itu dilepas dari kolom2 dan fondasi atap gudang.

      Kebalikannya pada fondasi, daya dukung memenuhi tidak ada artinya kalau settlement besar melebihi toleransi struktur yg didukungnya.
      DDT bukan daya dukung tanah yg sebenarnya seperti pada fondasi, tetapi suatu besaran antara utk menghitung tebal pavement.

  61. Purba says:

    Salam. Selamat malam yth pak Irawan.
    saya Purba memiliki beberapa pertanyaan yang membingungkan saya. Saya mohon bimbingannya:
    1. Pada diskusi bapak dengan pak Rony, disitu ada mengatakan nilai qc yang direkomendasi untuk pondasi tapak, berapa besaran qc yang masih dapat menggunakan pondasi tapak? adakah range nya dari pengalaman bapak hingga kondisi tersebut sudah mengharuskan menggunakan pondasi dalam?

    2. Apabila jenis tanah yang dihadapi adalah batu karang (limestone), apakah masih berlaku rumus yang bapak utarakan? (qa = c.Nc/SF dengan c = cu = qc/20) untuk desain pondasi tapak dan pondasi dalam?

    3. Apabila dalam mendesain pondasi tapak menggunakan rumus diatas, apa ketebalan pondasi tidak mempengaruhi daya dukung pak? dan apakah kedalaman pondasi tidak mempengaruhi daya dukung juga? bukan kah harusnya mempengaruhi ya pak?

    4. Saya pernah membaca pak tentang koreksi nilai SPT (Nk = 15+0,5x(N-15)) dimana Nk adalah nilai SPT koreksi dan N adalah nilai SPT lapangan. Apa dalam menghitung daya dukung dengan SPT perlu mengkoreksi seperti diatas?

    Terima kasih, besar harapan saya terjawab semua pertanyaan yang ,membingungkan saya ini. Selamat malam yth Pak Irawan. Salam engineer.

    • P Purba,
      1.Fondasi tapak baik digunakan kalau qc > = 10 pada dasar fondasi dan terus naik mengikuti kedalaman.
      2. Utk limestone tdk bisa digunakan rumus tsb.
      3. Ketebalan fondasi ditentukan berdasarkan persyaratan struktur ( menahan shear dan momen pada bidang kritis), bukan daya dukung tanahnya.
      Kedalaman mempengaruhi, semakin dalam semakin besar daya dukung. Akan tetapi jika tanahnya clay dan jenuh, maka phi =0, sehingga Nq = 0, jadi tdk ada
      kontribusi kedalaman. Utk praktisnya selalu diabaikan.
      4. Memang ada yg menggunkan N koreksi utk menghitung daya dukung. Saya dan beberapa teman ahli geoteknik tidak menggunakannya dengan alasan praktis saja,
      mengingat ini semua hanyalah pendekatan yg tdk mungkin terlalu tepat. Itu sebabnya digunakan SF. Kalau kurang yakin dengan data tanah yg tersedia,
      gunakan SF yg lebih besar dari biasanya.

      • Purba says:

        Terima kasih pak Irawan sebelumnya atas ilmu yang di share kan. Kalau bapak memiliki waktu saya ingin menanyakan beberapa hal lagi,
        1. Biasanya saya mendesain bangunan yang menggunakan pondasi setempat rata2 pada kedalaman 1,5 meter tergantung kondisi tanah, melalui jawaban bapak sebelumnya yang mengatakan untuk pondasi dangkal baik ketika nilai qc >= 10 pada dasar pondasi dan terus naik mengikuti kedalaman. Apabila kondisi tanah yang saya hadapi :
        0.2 – 1.4 meter : qc 5-10
        1.4 – 2 meter : qc 10-15
        2 – 2.6 meter : 5-10
        setelah itu baru qc naik mengikuti kedalaman, apa masih baik pondasi setempat saya letakkan pada 1,5 meter?

        2. Saya mendesain tower menara pengawas ATC bandara dengan tinggi 18 meter (4 lantai), lalu tanah yang saya hadapi adalah limestone, test sondir tidak dapat dilakukan karena tanah yang sangat keras, dari laporan tanah yang saya peroleh asumsi pd kedalaman 2 meter qc >150, spt saja sudah 50 pada kedalaman 2 meter. Mungkin dg pondasi setempat dengan dimensi yang besar saja cukup menahan bangunan tersebut, namun permasalahan ada di keruntuhan guling mengingat tingginya bangunan, pondasi tiang pancang tidak mungkin sy gunakan karena pasti akan patah, lalu sy mendesain dg bore pile. Bagaimana tanggapan bapak mengenai hal ini? Apa ada saran dari bapak, dan berapa kedalaman efektif bore pile untuk menahan bangunan tersebut?

        Saya kira demikian pertanyaan saya, terima kasih pak, pastinya ilmu yang bapak share sangat bermanfaat bagi saya dan semua orang.

      • Pak Purba,
        1. Saya sarankan fondasi telapak diletakkan pd kedalaman 2m. Sebelumnya di tumbukkan gravel agar mendesak lapisan tanah antara kedalaman 2 – 2.6m yg terletak dibawah telapak fondasi, sehingga menjadi lebih padat atau tergantikan sebagian oleh gravel tsb. Ini maksudnya adalah menghindari resiko ettlement tanah dgn qc = 5 – 10 pada kedalaman 2 – 2.6m.

        2. Saya usulkan menggunakan fondasi fondasi sumuran, dengan menggunakan bis beton diameter 1m atau lebih besar (agar orang bisa menggali dr dalam), sebagai casing, digali manual sampai kira2 2m, kemudian diisi dengan beton atau beton cyclop, dan diberi pembesian praktis. Fondasi ini bisa menahan momen. Apalagi jika bekerja sbg group (saya tdk tahu brp luas tapak menara tsb, apakah bisa mmemuat beberapa fondasi sumuran?)

  62. Juni says:

    Assalamu’alaikum Pak Irawan,
    Salam kenal, blognya sangat informatif pak semoga senantiasa diberi kesehatan dan ilmunya semakin bermanfaat, amin.
    Saya awam dalam pondasi, saya bermaksud membangun rumah toko berlantai 3-4 di tanah yang dulunya bekas rawa. Berdasarkan saran dari teman sebaikanya dilakukan uji CPT, setelah dilakukan CPT bebbrp titik (20x20m) diperoleh hasil stratigrafi yang relatif homogen dari bbrp ttk tsb dengan bacaan Qc sbb:
    Depth 0-5 m, qc avg. = 2-5 kg/cm2,
    Depth 5,5-10,5m, Qc avg. =60-80kg/cm2,
    Depth 11-16m, Qc avg. = 25-45 kg/cm2,
    dan >16 m, Qc >130 kg/cm2.
    Mohon advise bapak untuk beberapa hal berikut:
    1. Apakah mungkin saya menggunakan pondasi dangkal untuk kedalaman sampai 5-10m, jika
    mungkin apa jenis pondasi terbaik dan paling ekonomis yang harus saya gunakan, bgmn
    dgn settlement, bgmn menghitugnya ?
    2. Dengan kondisi tanah tsb yang mana lebih baik apakah pondasi dangkal atau dalam seperti bore
    pile atau tiang pancang, apa kelebihan dan kekurangan masing2 jenis pondasi utk kondisi tanah
    tsb?
    3. Jika menggunakan pondasi bore pile sedalam 17-18 m, berapa ukuran luas tapak pondasi yg
    paling optimal dan brp kedalaman minimum utk pondasi borepile dng kondisi tanah tsb. Bgmna
    pengaruh hambatan jepit thd tiang pancang sedalam 17-18 m, apakah memberikan kekuatan
    pondasi jauh lebih kuat dari pada bore pile pada kedalaman yang sama, bgmn perhitungannya.

    Terimakasih atas advise dan pencerahannya pak🙂.

    Salam
    Juni

    • Wa alikum salam wr wb Juni,
      1. Tdk mungkin menggunakan menggunakan fondasi dangkal pada kedalaman > = 5m.
      Yg terbaik dan ekonomis adalah tiang pancang mini 20×20 atau segitiga 28cm, 1 section panjang 6m. Daya dukung izin 1 tiang berturut turut adalah 10 ton dan 8.5 ton. Utk 1 group usahakan jumlah tiang tdk lbh dari 4, agar stress bulb 2x lebar fondasi menjadi kecil, dan tdk sampai menembus tanah dibawahnya, agar settlement kecil.
      2. Fondasi dangkal settlement lebih besar, dibanding fondasi dalam.
      Jika kondisi lapangan memungkinkan, tiang pancang menjadi pilihan utama dibandingkan bored pile. Lebih praktis dan ekonomis. Masalahnya tdk bisa dipakai kalau ada basemen dalam, atau gedung yg sangat tinggi, beban besar. Jumlah tiang pancang akan sangat banyak, ukuran pile cap sangat besar.

      Bored pile menjadi pilihan utk gedung tinggi dengan beban kolom/core yg besar. Diameter dan kedalaman bored pile bisa disesuaikan dengan kebutuhan daya dukung per tiang. Gedung2 tinggi di Jkt hampir semuanya memakai bored pile. Hanya kalau bangunan tinggi dan langsing, bored pile mungkin harus diganti dengan barrette pile.

      3. Kalau utk ruko 3 – 4 lantai, bored pile saya kira kurang tepat, lebih baik tiang pancang 30 x 30. Panjang 17 m, daya dukung izin 90 ton.
      Kalau bored pile dia 50 cm, daya dukung 75 ton.

      • Juni says:

        Pak Irawan,
        Terimakasih banyak atas penjelasannya.
        1. Kalau seandainya dipilih tiang pancang sebagaimana rekomendasi Pak Irawan, berarti diperlukan 3 sambung (3x6m), bagaimana pengaruh faktor kelurusan dalam pemancangan, berapa toleransi deviasi maksimum dari top point ?

        2. Untuk kondisi tanah diatas depth 5,5 – 10,5 m, qc avgnya sekitar 60-80kg/cm2, tapi data sebenarnya qcnya ada yang mencapai 140-160kg/cm2 dgn ketabalan variasi 1,5-2,5 meter. Apakah pemancangan bisa menembus lapisan keras ini pak, dan apa concernya pak ?

        3. Rumus apa yang Pak Irawan untuk menghitung daya dukung tiang pancang dan bore pile.

        Terimakasih atas pencerahannya pak.

        Salam
        Juni

      • Juni,
        1. Jika digunakan tiang pancang panjang 17 ~ 18 m, maka saya tdk rekomendasikan pakai tiang dengan panjang persection 6 m, tetapi sekitar12m.
        Jadi 1tiang panjang 12m + 1 tiang pendek 6 m, jadi hanya satu sambungan.
        Persection 6m itu utk tiang mini. Utk tiang mini saya rekomendasikan duduk ditanah kedalaman 6 m.

        Sekalipun kadang2 dipakai 2 sambungan pada 1 tiang, tetapi lebih baik dihindari.

        2. Kadang2 bisa tembus, kadang2 tidak bisa tembus, tergantung kondisi dan berat hammernya. Kalau tiangnya pakai sepatu lebih mudah tembus.
        Perlu dipancang beberapa indicator pile, khususnya pada tanah yg diperkirakan sulit ditembus, untuk melihat seberapa efektif pemancangan dengan menggunakan hammer yg di specify. Indicator pile ini dipancang sebelum pekerjaan pemancanagn production pile. Indicator pile ini juga bisa merupakan indicator pile.

        3. Rumus yg digunakan sederhana, utk friksi Psu = jumlah (Luas selimut x Alpha x Cu), dimana alpha diambil 0.7, Cu = qc/ 20 atau Cu= 7 N-SPT (unit kPa), dimana N SPT ~ 1/2 qc.
        Utk End bearing 16 N SPT (unit kPa)(asumsi jenis tanah silt). Gunakan SF antara 2.5 ~ 3 utk friksi dan end bearing.

  63. Juni says:

    Oh iya pak Irawan,
    Mohon maaf satu lagi, dengan kondisi tanah demikian berapa diameter minimal utk pondasi bore pile ?
    Terimakasih
    salam
    Juni

  64. Juni says:

    Pak Irawan,
    Terimakasih banyak atas penjelasannya.
    1. Kalau seandainya dipilih tiang pancang sebagaimana rekomendasi Pak Irawan, berarti diperlukan 3 sambung (3x6m), bagaimana pengaruh faktor kelurusan dalam pemancangan, berapa toleransi deviasi maksimum dari top point ?

    2. Untuk kondisi tanah diatas depth 5,5 – 10,5 m, qc avgnya sekitar 60-80kg/cm2, tapi data sebenarnya qcnya ada yang mencapai 140-160kg/cm2 dgn ketabalan variasi 1,5-2,5 meter. Apakah pemancangan bisa menembus lapisan keras ini pak, dan apa concernya pak ?

    3. Rumus apa yang Pak Irawan untuk menghitung daya dukung tiang pancang dan bore pile.

    Terimakasih atas pencerahannya pak.

    Salam
    Juni

    • Juni says:

      Pak Irawan,
      Terimakasih atas sharing ilmunya, sangat bermanfaat bagi saya yg awam tentang dunia pondasi dan konstruksi.

      Selanjutnya pak,
      1. kalau sudah kita tentukan menggunakan pondasi tiang pancang dengan 1 sambungan (6+12M) dengan kriteria yang bapak jelaskan diatas, bagaimana next stepnya pak dalam membuat tapak pondasi diatas group pile tsb (pile cap ?), berapa lebar tapak dan ketebalan tapak pondasi, dan dikedalaman berapa tapak tersebut ? apa concern2nya pak ?

      2. Apa rumus yang digunakan untuk menghitung pile cap (tapak pondasi tersebut) ?

      Terimakasih banyak atas pencerahannya pak Irawan.

      Salam
      Juni

      • Saya kira akan sangat berbahaya jika anda memaksakan diri utk mendesain tanpa mengerti/mempunyai pengalaman mendesain, karena anda tdk akan punya engineering feeling. Tahapan2 berikutnya itu suatu hal yg biasa bagi para perencana, tetapi tdk bisa dibahas disini. Desain pile cap lebih kepada masalah sytuktur yg simple. Ada baiknya anda magang dulu utk mendapatkan pengalaman.
        Catatan lainnya, desain fondasi tdk bisa hanya berdasarkan sondir saja, harus ada bor dalamnya. Kalau hanya utk preliminary design ok. Harus ada data tanah dibawah pile tip utk menghitung settlement pile group. Harus ada pile test utk konfirmasi daya dukung tiang, paling tidak PDA.

  65. Purba says:

    Selamat malam pak Irawan, senang bapak belakangan aktif di wordpress ini untuk berbagi ilmu. Sampai saat ini ilmu yang bapak share sangat bermanfaat untuk saya pribadi. Dari jawaban bapak sebelumnya tentang pondasi setempat, saya menyimpulkan sebagai berikut (mohon koreksi bila salah pak) jadi pondasi setapak bisa digunakan pada lapisan tanah yang qc >= 10 dengan peningkatan nilai qc seiring kedalaman dan jika ada lapisan dibawahnya lagi yang qc < 10 asal tidak terkena area stress bulb (2x lebar pondasi) berarti tidak masalah dan tidak memerlukan pemampatan gravel lagi, seperti itu kah pak?

    Mengenai pondasi sumuran, luas bangunan tower saya hanya 5 meter x 5 meter, jadi mungkin hanya menggunakan 1 pile di tiap kolom ya pak? Kolom saya hanya di ke empat sudut bangunan, karena bangunannya hanya kotak hingga lt.3 dan pada lt.4 ada overlap dibagian watching room. Bagaimana dengan kedalaman minimum sumuran ini pak? Mengingat tanah tersebut sudah keras dari permukaan?

    • 1. Benar seperti itu.
      Masalahnya fondasi telapak tdk efektif menahan momen guling, karena itu saya sarankan fondasi sumuran.

      2. Benar 1 pile per kolom, dimana ke empat pile tersebut disatukan dengan tie beam dan mungkin juga tambah plat dasar.
      Dengan demikian masing2 tiang berfungsi sbg tiang tunggal (eff 100%) dalam menahan beban vertikal tekan dan tarik, yg merupakan beban yg dominan.
      Utk menghindari pengaruh pelapukan limestone, saya usulkan kepala tiang diletakkan 0.5m dibawah permukaan. Panjang tiang minimum 2m, tapi harus dicheck kecukupan daya dukung tiang dalam menahan beban. Tiang2 tsb akan bersifat sebagai short/rigid pile.

      • Purba says:

        Terima kasih banyak pak Irawan atas jawaban dan kesempatannya. Mungkin di lain waktu saya mengalami kebuntuan, saya harap bapak tidak keberatan untuk berbagi ilmu lagi. Salam engineer, semoga sehat dan sukses selalu.

  66. Yuma says:

    Assalamu’alaikum wr.wb.

    Pak Irawan, perkenalkan saya yuma, lulus 2010 dr sipil ITB. Saya salut dengan putra Bapak yang sudah ambil PhD.. Radit, adik kelas saya Pak..hehe. Terima kasih atas kesempatan yang diberikan untuk bisa belajar dari Pak Irawan. Jika Bapak berkenan, Saya ingin bertanya terkait dengan tiang pancang:
    1. Mana yang lebih dapat masuk ke dalam NSPT=50, apakah tiang pancang beton atau baja (SPP) dengan diameter yang sama, katakanlah diameter 40cm? Dan seberapa dalam maksimal dapat masuknya,,? ada yang mengatakan 2-3 m masih dapat masuk.
    2. Apakah pengaruh sepatu pada tiang pancang baja dapat mempermudah penetrasi pada tanah keras, seperti tanah gamping?
    3. Apakah preboring diperlukan dalam kondisi NSPT=50.? jika diperlukan berarti daya dukung friksinya akan berkurang ya pak, karena telah dibor terlebih dahulu.. Atau preboring cukup dengan diameter yang lebih kecil dari diameter SPP, sehingga friksinya tetap tercapai..

    Sekali lagi terima kasih atas waktu dan kesediaan Bapak untuk menjawab pertanyaan saya. Semoga Bapak sekeluarga senantiasa diberkahi Allah. Amiin

    • Wa’alaikum salam wr wb

      Salam kenal Yuamar. Radit di Offshore Engineering NUS paling tidak mengangkat nama ITB. Hasil experimental sudah klop dengan hasil analytical, karena itu ia sekarang sedang dalam proses editing oleh editor suatu international journal dalam rangka mem publish hasil research nya.

      Sorry saya agak lama menjawab, karena pemberitahuan dari wordpress masuk ke spam, dan biasanya seminggu sekali saya buka spam folder utk mengecheck kalau2 ada email penting yg masuk spam. Ada satu mailing list yg selalu masuk spam. Ditambah lagi belakangan ini saya lagi banyak meeting, jadi buka spam folder lebih lama dari biasanya.
      Senang melihat generasi muda seumuran anak saya, yang bersemangat untuk menggali pengetahuan lebih dalam lagi. Dengan senang hati saya akan mencoba menjawab pertanyaan2 Yaumar, sebatas yang saya ketahui.

      1. Tiang pancang baja pasti lebih mudah masuk ketanah keras, dibandingkan dengan beton. Menurut saya kalau tanah NSPT = 50 nya itu homogen, artinya tdiak berupa lensa2 tipis berselang seling dengan tanah yang lebih lunak, masuknya tdk akan dalam, sekitar 1 – 1.5 m saja. Ini pun ada resika terjadinya deformasi pada ujung bawah tiang, misalnya tadinya pipa katakan diameter 60 cm, maka diujung bawahnya akan menjadi lebih kecil dari 60 cm. Ini terjadi pada fondasi jembatan Suramadu. 1/3 panjang tiang bor memakai casing baja permanen yg berfungsi sbg pelindung beton thd air, sekaligus sebagai support dari paltform dimana alat bor berdiri. Pada waktu pemboran mata bor tertahan diujung bawah tiang karena diamtaernya lbh kecil dari diameter mata bor (Di sini digunakan RCD). Pada waktu itu ada salah satu pihak yang meminta saya utk menganalisa apakah terjadi overstress pada ujung bawah tiang baja pada waktu pemancangan.

      2. Sepatu tiang membantu menembus tanah keras. Sepatu tiang ini juga mengurangi resiko deformasi pada ujung bawah tiang.
      Batu gamping akan pecah/retak akibat sepatu tiang, sehingga lebih mudah ditembus.
      Kalau menggunakan pipa baja, paling tidak bisa didobel diujung bawahnya sehingga menjadi lebih tebal, sehingga tdk overstress.

      3. Kalau tiang menahan gaya tarik, biasanya penetrasi 1 – 1,5 m dilapisan tanah keras tidak cukup memberikan tahanan tarik. Solusi yang biasa digunakan adalah dengan memasang ground anchor(permanent anchor) diujung bawah tiang. Pemboran diameter kecil ( 20 cm) mudah dilakukan menembus tanah keras (biasanya menggunakan DTH, down the hole hammer, yg bisa dengan cepat membuat lubang ditanah keras/batu)) hingga panjang bond length bisa diatur sesuai kebutuhan gaya tarik. Predrilling tdk lazim dilakukan utk tiang diatas air, tetapi didarat kadang2 dilakukan. Kalau diameter lubang lebih kecil dari diameter tiang, tanah diawal2 pemancangan yg relatif lepas, akan gugur bersamaan dengan masuknya tiang sehingga menutup lubang bor di bawah. Jadi ada rongga dibawah tiang, artinya ujung tiang tdk duduk dilevel ujung pemboran.
      Yang saya lakukan adalah predrilling dengan diameter sedikit lebih besar dari tiang, tapi tdk sampai seluruh panjang tiang, menyisakan sekitar 2m tanah asli yg tdk dibor. Jadi ada sekitar 2m tiang yg ditanah asli. Pada waktu pemancangan, tuangkan pasir sedikit demi sedikit disekeliling tiang mengisi angular space antara tiang dan tanah. Pasir ini akan terbawa tiang kebawah dan mengisi rongga antara tanah dan tiang. Jika perlu siramkan air agar pasir tdk menyisakan ruang kosong diantaranya.

      Mudah2an jawaban saya ini membantu Yaumar utk memecahkan masalah2 praktis dilapangan.

  67. Tammy says:

    Assalamualakum Pak Irawan,
    Kami berencana ingin membangun tangki kap. 1000 KL dengan pondasi cincin beton bertulang untuk menahan beban dinding tangki sedangkan pada bagian tengah diisi dengan sirtu dan dilakukan pemadatan. Yang ingin saya tanyakan :

    1. Metode apa yang pas untuk mengukur kekuatan/kerapatan/kepadatan sirtu tersebut sehingga kita yakin lapisan sirtu tidak akan mengalami penurunan yang signifikan. Apakah sand cone atau CBR lapangan ?

    2. Berapa titik, idealnya yang harus diuji tiap lapisan ? dan berapa ketebalan per lapisan pengujian ?

    3. Untuk penggunaan pondasi tangki, kami biasanya memakai dua jenis pondasi yaitu pondasi Full Sirtu atau Pondasi Cincin Beton Bertulang. Menurut pak Firman, sebenarnya apa yang menjadi pertimbangan utama pemilihan pondasi tersebut, jika kita asumsikan DDT yang ada sudah cukup bagus (tanah keras).

    Mohon pencerahannya pak Irawan, terima kasih banyak sebelumnya. Wassalam.

    • Wa alaikum salam Tammy,
      Sebenarnya cincin beton bukan untuk menahan beban dinding tangki, tetapi untuk memberikan confining pressure (mengikat) ke lapisan sirtu. Jadi konsepnya keseluruhan beban tangki ditahan oleh lapisan sirtu yg dipadatkan. Agar sirtu bisa dipadatkan dengan merata, maka sirtu perlu diberikan dinding berbentuk cincin yg memegang lapisan sirtu tsb. Tekanan vertikal pada sirtu selanjutnya dirubah menjadi gaya tangensial dalam kasus ini gaya normal tarik yg bekerja sepanjang cincin. Syaratnya memakai fondasi ini adalah tanah dibawah sirtu sudah keras.

      Jawaban pertanyaan:
      1. Utk mengukur kepadatan sirtu yg pas dengan test CBR lapangan. Sirtu yg baik bisa mencapai CBR 70%, sedangkan sirtu kualitas buruk hanya bisa mencapai CBR 30%.
      2. Minimum 5 test per lapis yg disebar merata pada permukaan. Tebal lapisan sekitar 50 cm
      3. Kalau hanya cincin berarti tanah sudah keras sejak dari permukaan, dan cincin hanya memberikan confining pressure pada tanah tsb.
      Digunakan sirtu apabila tanah permukaan kurang baik, jadi perlu diganti dengan sirtu sampai mencapai tanah yg baik. Cincin tetap diperlukan agar sirtu tetap kompak setelah dipadatkan.

      Menurut saya pribadi, sirtu dan pasir kasar diatasnya, perlu tetap diberikan dalam kondisi apapun, hanya tebalnya bisa disesuaikan dengan kondisi tanah.

      Wass.

      • Tammy says:

        Terima kasih banyak sebelumnya pak Irawan, jujur saya sangat senang bapak bersedia merespon pertanyaan saya. Terkait no.3, sebenarnya maksud saya adalah hampir di setiap tangki yang kami bangun, selalu menggunakan urugan sirtu pada bagian tengahnya, hanya saja yg membedakan adalah pondasi cincin penahan yaitu apakah cincin beton bertulang atau tanah liat dipadatkan. Jadi posisi dinding tangki duduk persis pada beton bertulang atau tanah liat yang dipadatkan. Nah, pertimbangan pemilihan jenis cincin penahan (beton bertulang atau tanah liat) tersebut yang ingin saya tanyakan ?? Apakah betul jika kami berasumsi utk tangki kap. 2000 KL ke bawah cukup menggunakan cincin pondasi dari tanah liat ??Wassalam..Terima kasih pak.

      • Mas Tammy,
        Ini saya melihat dari segi teknis saja. Mungkin ada kebiasaan2 yg berbeda, tetapi menurut saya harus dikembalikan keteknis.
        1. Tanah liat dipadatkan praktis tdk dapat menahan radial pressure kearah luar, sebagai akibat beban tanki pada sirtu.
        Dengan demikian tdk ada yg mengikat lapisan sirtu hingga tetap padat. Secara perlahan kepadatan sirtu akan berkurang.

        2. Ring beton bertulang atau bahkan yg diprestress itu memang berfungsi seperti ikat pinggang. Ring beton ini akan menjaga kepadatan sirtu tdk berkurang. Dinding tanki tdk perlu duduk pada cincin tsb, cukup duduk pada lapisan sirtu.

        3. Baik tanki besar dapat didesain dengan fondasi seperti diuraikan diatas. Pada prinsipnya ini adalah fondasi dangkal berbentuk lingkaran. Jadi sekali lagi, yg menahan beban tanki itu lapisan sirtunya. Cincin beton hanya menjaga kekompakan sirtu yg telah dipadatkan.
        Saya tdk merekomendasi digunakannya cincin tanah liat, karena tdk bisa menahan tarik.

        4. Coba perhatikan perkerasan jalan. Perkerasan jalan akan lebih tahan tdk melendut bila ditepinya diberi curb beton. Hal sebaliknya bila berbatasan langsung dengan tanah.

        Salam,

  68. Tammy says:

    Terima Kasih Pak Irawan atas tanggapannya.
    Kami selama ini menggunakan standard API 650 sebagai rujukan dasar pembangunan pondasi tangki yang didukung oleh rekomendasi dari hasil sondir boring. Dalam API 650 tersebut, dijelaskan secara singkat mengenai tipe2 desain pondasi tangki secara umum, mulai dari tanpa cincin, cincin beton bertulang sampai pada pondasi tiang pancang.

  69. Assalamualaikum wr wb Pak Irawan, Minal aidin wal faidzin-Mohon Maaf lahir dan bathin. Selamat Idul Fitri 1436 H. Izinkanlah saya mengajukan beberapa pertanyaan. Menurut Rumus Daya Dukung Ujung tiang metode LCPC 1991, qe = qc. Kc. Ap. dimana: qe= Daya Dukung ujung tiang, qc = nilai konus, Kc = faktor nilai konus dan Ap= luas penampang ujung tiang.
    Nilai Kc (Titi dan Abu Farsakh 1991), untuk Clays dan Silt = 0,375 for Drilling pile, 0,600 for driven pile. Sedangkan untuk Sand dan Gravel = 0,15 for Drilling pile, 0,375 for driven pile.
    Pertanyaannya: bila nilai Kc lebih kecil tentu kan menghasilkan nilai qe (daya dukung ujung tiang) yang lebih kecil pula. Dari penjelasan di atas, Mengapa nilai qe untuk sand & gravel kok bisa lebih kecil dibandingkan qe untuk clay & silt ? Mohon pencerahan.

    • Wa’alaikum salam wr wb,
      Minal Aidin wal faidzin, mohon maaf lahir bathin.
      Terus terang saya tdk familier dengan metode LCPC. Kalau diperhatikan memang Kc utk sand/gravel selalu < dari Kc utk clay/silt, baik utk driven piles maupun drilling piles, dan ini kurang logis.
      Hal ini hanya bisa terjadi bila akibat pemancangan sand gravel yg padat menjadi kurang padat (dilated), seperti ditunjukkan pada diagram stress strain tanah, yang mengalami shear. Kalau tanah kurang padat akan bertambah padat akibat shear, sebaliknya kalai tanah padt, maka akan menjadi kurang padat/mengembang (dilated).
      Utk rumus2 empiris perlu mengembangkan sendiri Kc atau fakyor2 empiris lainnya, secara bertahap dari konservatif menjadi lebih berani, dengan memperhatikan performance tiang yg didesain memakai faktor tsb.Semakin lama prediksi kita akan semakin akurat dengan ditemukannya Kc yg tepat.

      (lihat jawaban saya utk Rofika diatas).

  70. Rofika Ratna A. says:

    Salam Kenal Pak Irawan, Saya Rofika mahasiswa Magister Teknik Sipil Universitas Riau, saya juga sedang bekerja sebagai pegawai BPJS ketenagakerjaan di Pekanbaru. Izin bertanya Pak:
    Salah satu metode perhitungan daya dukung pondasi tiang, yaitu Metode Aoki and De Alencar. Dalam menentukan faktor empirik tipe tiang Fb (empirical factor on the pile type), dan faktor empirik tipe tiang (factor empirical on soil type) Fs, Aoki membedakan tiang bore dengan jenis tiang lainnya. Ada 3 (tiga) tipe tiang lainnya yaitu tiang Fanki, baja (steel) dan tiang beton pracetak (Precast concrete).
    Nilai Fb untuk tiang bor (bore pile) adalah sebesar 3.5 sedangkan untuk tiang Franki 2.5 dan tiang baja & beton pracetak hanya 1.75. Begitu juga dengan nilai Fs, untuk tiang bore adalah 7.0 sedangkan untuk tiang Franki adalah 5.0 dan untuk tiang baja & beton pracetak hanya 3.5. Bila dikorelasikan scara linear, daya dukung yang dihasilkan tiang Franki adalah berkisar 71%, sedangkan daya dukung yang dihasilkan tiang baja dan beton pracetak hanya 50% nya tiang bore. Karena tiang pancang biasanya berupa tiang baja dan beton pracetak, maka daya dukung tiang pancang adalah dua kali daya dukung tiang bore, atau dengan kata lain Daya dukung bore pila bor hanya 50% taing pancang.
    Mohon pencerahan atas beberapa kasus yang perenah saya hadapi berikut ini.
    1. Apakah benar daya dukung tiang Bore hanya 50% nya daya dukung tiang pancang?
    2. Akan tetapi bila kita menggunakan metode atau formula dari Begemann dan Wssley. Dengan metode Begemann dan Wesley akan menghasilkan besarnya daya dukung yang sama, baik untuk bore pile dan maupun tiang pancang karena kedua metode ini tidak membedakan tiang pancang dengan bore pile. Dengan kata lain, faktor-faktor yang digunakan pada tiang pancang adalah sama besar dengan faktor-faktor bila menggunakan bore pile.
    3. Selain Aoki, Metode perhitungan daya dukung dari Terzaghi juga membedakan tiang bore dengan pancang. Tetapi, Terzaghi hanya membedakan untuk daya dukung selimut tiang (skin friction pile) untuk tanah berpasir (sand). Dimana tahan gesek tiang pancang untuk tanah berpasir dua kali lebih besar dibandingkan tahanan gesek dari tiang bore. Menurut saya, daya dukung tiang pancang benar lebih besar dibandingkan dengan daya dukung bore pile tetapi tidak signifikan.
    4. Sepanjang pengetahuan saya, dari hasil uji PDA test selama ini, tidak menunjukkan adanya daya dukung tiang pancang bisa mencapai dua kali daya dukung bore pile, untuk kedalaman dan dimensi tiang dan jenis tanah yang sama.

    • Salam kenal kembali,
      Jawaban saya sbb:
      1. Saya tdk familier dengan metoda Aoki, jadi tdk bisa beri jawaban sepsifik metoda tsb.
      Metoda apapun yg digunakan utk menentukan daya dukung, harus dikalibrasi dengan kondisi tanah setempat, misalnya tanah riau, sebelum dapat digunakan dengan akurat.Metoda2 tsb bersifat empirik dan diturunkan utk tanah dimana percobaan dilakukan, dan dapat sama sekali tdk akurat utk daerah lain. Kalibrasi ini efektif dilakukan bila ada load test statik sampai failure.

      Hal yg sama untuk program2 komputer geoteknik. Perlu ada kalibrasi. Misalnya program utk menghitung dinding sheetpile/secant pile/ soldier pile, kalibrasi dilakukan utk dinding yg mengalami failure atau excessive deflection.

      Yang pasti daya dukung tiang pancang lebih besar dari bored pile, utk dimensi tiang yg sama dan terbenam ditanah yg sama. Jadi kalau tiang pancang bisa dilakukan, maka bisa dipastikan akan dipilih tiang pancang. Masalahnya tdk disemua tempat tiang pancang dapat digunakan, selain ukurannya yg terbatas. Kebalikannya dengan tiang bor. Diameternya bisa 1.5 m, 1.8 m, bahkan 2.5 m, dengan panjang tiang sampai 80 an m efektif (panjang dibawah basemen). Karena itu diJakarta hampir semua gedung tinggi menggunakan tiang bor, sangat sedikit yg menggunakan tiang pancang.

      2. Saya juga tdk menggunakan metode Begeman & Wesley. Saya sarankan jika menggunakan data CPT, gunakan metode Schmertmanndalam : Guidelines Cone Penetration Test, Performance and Design, US Dept of Transportation. Metode yg lbh barupun hanya memperhalus prediksi jenis tanah berdasarkan friction ratio.
      Perlu diketahui bahwa CPT tdk banyak digunakan utk desain fondasi dalam. Mengapa? karena kita perlu data tanah dibawah lapisan tanah keras tempat bertumpunya tiang pancang/tiang bor. Data tanah sedalam 2x lebar group fondasi dibawah equivalent footing diperlukan utk menghitung settlement pile group.

      Yang biasa saya lakukan adalah memprediksi undrained shear strength tanah dari qc sondir, N SPT, dan test2 lab utk tanah kohesif dan phi’ utk non kohesif jika ingin menghitung daya dukung tiang.Selanjutnya digunakan rmus statik biasa seperti pd bukau Puolos & Davis. Sebaliknya drained shear strength tanah ditentukan dari test lab dan nilai tipikal dan korelai tipikal utk mendesain sheeted restaining structures, seperti dinding diafragma, secant pile dsb.
      Professional geotechnical engineer di Jakarta yg banyak terlibat di super highrise building, sangat jarang terpaku pada metode empirik yg rumit.

      3. Yang saya tahu, tahanan friksi tiang pancang large displacement dipasir 2N (kPa) dan tahanan friksi tiang pancang small displacement dipasir N (kPa). Utk di clay saya lebih suka memakai alpha Cu, apalgi utk bored pile.

      Saya belum pernah melihat tiang pancang dibandingkan dengan bored pile dengan dimensi yg sama. Utk akademis bisa2 saja dilakukan, tetapi utk praktek sangat tdk logis. Kalau pilih bored pile tentunya supaya efektif, harus punya daya dukung yg jauh lebih besar dari tiang pancang, artinya diameter jauh lebih besar, dan lebih panjang.

  71. Rofika Ratna A. says:

    Oke Banget……..Pak Irawan. Persis seperti rekomendari Bapak, dari hasil penelitian Aswin Lim, ST, MSc, Eng (lembaga Penelitian Univ. Katolik Parahyangan, 2014), menunjukkan metode Nottingham & Schmermann, adalah yang paling unggul/paling mendekati hasil “Loading Test”.
    Metode untuk mengestimasi daya dukung aksial pondasi tiang pancang menggunakan alat sondir adalah dengan menghubungkan skala atau algoritma dengan single-step process sehingga komponen daya dukung pondasi tiang (gesekan selimut dan daya dukung ujung tiang) dapat dikorelasikan dengan hasil bacaan (output) uji sondir secara langsung (direct method).
    Pada penelitian ini, sejumlah lima (5) uji kapasitas aksial tiang pancang (loading test : Kentledge method) digunakan untuk memverifikasi tujuh (7) metode langsung yang terpilih antara lain metode Begemann, Nottingham & Schmertman, Aoki & Velloso, Penpile, Price & Wardle,Meyerhoff, dan Philipponant. Hasil penelitian:
    1. Perhitungan daya dukung ultimit pondasi tiang pancang tunggal berdasarkan data CPT cukup baik apabila menggunakan metode Nottingham & Schmertmann untuk direct method pada kondisi tanah lempung dan lanau dengan simpangan kurang dari 8%.
    a. Pada Proyek A dengan jenis tanah didominasi “lempung kelanauan,” padat, Qult = 495 ton < 500 ton (loading test).
    b. Pada Proyek B dengan jenis tanah didominasi “Lanau kelempungan,” padat, Qult = 234 ton < 235 ton (loading test).
    c. Pada Proyek C dengan jenis tanah didominasi “Lanau kelempungan,” padat, Qult = 206 ton < 210 ton (loading test).
    d. Pada Proyek D dengan jenis tanah didominasi “Lempung kelanauan,” sedang, Qult = 356 ton < 380 ton (loading test).
    e. Pada Proyek E dengan jenis tanah didominasi “Lempung kelanauan,” sedang, Qult = 94 ton <104 ton (loading test).

    2. Metode Phillipponnat dan metode Begemann cukup baik apabila digunakan pada tanah
    Lempung/lempung kelanauan sedang (bukan tanah Lanau).
    a. Pada Proyek A dengan jenis tanah didominasi “lempung kelanauan,” padat, Qult = 480 (Phillipponnat ); Qult = 495 ton (Nottingham & Schmertmann ) < 500 ton (loading test).
    b. Pada Proyek D dengan jenis tanah didominasi “lempung kelanauan,” padat, Qult = 361 (Phillipponnat ); Qult = 357 ton (Nottingham & Schmertmann ) < 380 ton (loading test).
    c. Pada Proyek E dengan jenis tanah didominasi “lempung kelanauan,” padat, Qult = 97 (Phillipponnat ); Qult = 94 ton (Nottingham & Schmertmann ) < 104 ton (loading test).

    3. Metode Meyerhof memberikan hasil estimasi melebih kapasitas aktual tiang pancang,
    sehingga metode ini tidak direkomendasikan untuk digunakan.
    a. Pada Proyek A dengan jenis tanah didominasi “lempung kelanauan,” padat, Qult = 530 ton (meyerhoff); Qult = 480 (Phillipponnat ); Qult = 495 ton (Nottingham & Schmertmann ) Qult loading test.
    Pertanyaan:
    Sebagai seorang yang sangat senior di bidang geoteknik dan sangat berpengalaman, Bagaimana komentar Pak Irawan terhadap hasil penelitian point 1 s/d 3 di atas? Apa saran Bapak atau intisari apa yang bisa dimabil dari pembahsan ini? Terimakasih Bapak telah berbagi Ilmu…!

    • Dear Rofika,
      Pendapat saya sbb:

      1. Semua metode yang berdasarkan sondir akan akurat bila digunakan memprediksi daya dukung tiang yg terbenam pada lapisan caly/silt yang plastis.Perbedaan antara metode2 tersebut relatif kecil, tergantung pada ketelitian metode tsb dalam menentukan end bearing maupun tahanan friksi. Metode Nottingham & Schmertmann misalnya mengambil qc sepanjang 8D keatas dan 0.7 ~ 3.75D kebawah ujung tiang, ini sesuai dengan stress bulb diseputar ujung tiang (pd tiang tunggal), yang lebih banyak keatas ujung tiang dan sedikit kebawah. Kemudian juga membuang nilai-nilai qc ekstreem dlm menghitung qp.

      2. Sepengetahuan saya metode Meyerhof asalnya diturunkan dari SPT, tentu tdk akan akurat bila digunakan memprediksi daya dukung tiang di clay/silt palstic. Tetapi jika metode Meyerhof tersebut digunakan untuk memprediksi daya dukung tiang yg terbenam pada sand/sandy soils/non plastic silt, metode Meyerhof akan lebih akurat dibandingkan metode-metode yang diturunkan berdasarkan sondir.

  72. Rifa Atul Aini says:

    Salam kenal Pak Irawan, saya alumni Fakultas Teknik Sipil Universitas Islam Riau, sekarang bekerja di salah satu konsultan engineering di Pekanbaru. Mohon izin bertanya, seputaran masalah PDA test.
    Dari salah satu jurnal penelitian mahasiswa FT UNRI, yang membahas tentang: Korelasi Tiang Pancang cara empirik (CPT) dengan Pile Driven Analysis (PDA) test di Kota Pekanbrau. Data Sondir diambil dari lima proyek yang lokasinya berbeda-beda di Kota Pekanbaru, dengan jumlah titik sondir sebanyak 12 titik. Rincian nama proyek dan jumlah titik sondir adalah Sbb: Proyek ITR sebanyak 3 titik; Proyek RSUD sebanyak 2 titik; Proyek Sartika 2 titik; Proyek FK UNRI sebanyak 1 titik; Proyek PT. EBS sebanyak 4 titik.
    Secara umum, besarnya daya dukung tiang hasil PDA test (Qb dan Qs) lebih kecil dari hasil 3 metode perhitungan statik (Schmertman, de Ruiter & Beringen), kecuali untuk lokasi Hotel Sartika (kemungkinan ini disebabkan karena jarak titik sondir dengan pengujian PDA agak jauh).
    Nilai korelasi dan perbandingan Qb hasil metode Schmertman, de Ruiter & Beringen, Bustament & Gianiselli berturut-turut adalah dengan PDA test adalah 82,9% ; 82,9 %; 61,0%. Qs hasil metode Schmertman, de Ruiter & Beringen, Bustament & Gianiselli berturut-turut adalah dengan PDA test adalah 96,8% ; 91,4 %; 97,4%.
    Pertanyaannya Pak Irawan:
    1. Tentu perusahaan PDA test di atas bisa lebih dari satu. Bila hasil penelitian di atas cukup akurat, apakah dapat kita katakan bahwa: Uji PDA untuk jenis tanah di Kota Pekanbaru cukup bisa diandalkan?
    2. Apakah ini juga salah fakta bahwa Metode Schmertman lebih bisa dinadalkan untuk tanah di Pekanbaru? (sesuai jawaban Pak Irawan atas pernyaan: Sdr Rofika Ratna)
    3. Dari salah satu hasil dialog Pak Irwan dengan Pak Rony Ardiansyah, Pak Irawan menyatakan Safety Factor untuk PDA test adalah 2,25. Bila angka keamanan metode statik di atas adalah 2,0, tentu saya akan mendapatkan nilai rasio 2.25/2.00 = 1,125. Bila ratio ini (1,125) X 82,9 % maka akan didapat Qb (metode Schmertman) = 93,26% PDA test. Dan Qs (metode Schmertman) = 108,9% PDA test. Apakah ini bearti:
    a. Untuk Qb cukup bisa diandalkan?
    b. Untuk Qs perlu dipertanyakan karena rasionya > 1?

    • Salam kenal kembali Rifa,
      Secara general PDA tidak bisa menggantikan static load test dengan kentledge. Hasil PDA merupakan data dukung tiang relatif antara satu tiang dengan tiang lainnya disuatu area. Karena itu di Jakarta, PDA hanya boleh dilakukan 25% dari total jumlah test yg harus dilakukan (1% jumlah tiang utk tiang pancang, 1 test utk 75 tiang utk tiang bor), dan harus ada overlap antara PDA dan static test dengan kentledge. Ini artinya ada kalibrasi hasil PDA dengan hasil static test.
      Untuk tiang pancang dengan daya dukung relatif kecil, PDA sering kali cukup akurat, apalagi bila perusahaan pengetest PDA cukup familier dengan area test. Sebaliknya utk tiang bor, apalagi dengan daya dukung yg besar, misalnya daya dukung izin 1000 ton (di Jkt banyak tiang bor dengan data dukung izin sekitar 1000 ton). Ini karena diperlukan hammer seberat 1% dari daya dukung ultimate tiang agar gelombang tumbukan mencapai toe dari tiang. Padahal tiang akan hancur bila ditumbuk dengan hammer seberat itu.
      1. Utk kasus di Pekanbaru, dari data2 yg diberikan, hasil PDA cukup akurat karena hal2 tersebut diatas, daya dukung tiang pancang yg relatif kecil, dan perusahaan PDA familier dengan area Pekanbaru. Semakin banyak dia mempunyai data, maka akan semakin akurat.
      2. Mungkin iya, karena metode yg lain saya tdk familier. Untuk sampai pada kesimpulan perlu kalibrasi untuk sejumlah besar tiang. Tetapi palimg tdk metode Schmertmann paling luas dipakai dibanding yg lain.
      3. Semua itu pendekatan, bukan sesuatu yg eksak, jadi saya rasa cukup dimabil nilai daya dukung totalnya saja, tdk perlu dipisah2 antara friksi dan end bearing. Lain halnya kalau tersedia cukup data static test pada instrumented pile sehingga mengerti betul berapa friksi dan berapa end bearing. Sekalipun prediksi daya dukung tiang dengan PDA bisa cukup akurat, tetapi saya tdk yakin pembagian antara friksi dan end bearingnya juga akurat.

  73. yuly says:

    Dear Pak Irawan. Ketemu lagi Pak Irawan, Semoga Bapak dalam keadaan sehat selalu dalam membagi ilmu. Yang ingin saya tanyakan adalah mengenai sebuah kasus uji sondir di Kota Dumai, yang terkenal dengan tanah lunaknya.
    Ceritanya begini Pak: Si konsumen jasa sondir mengadakan komplain terhadap sebuah perusahaan sondir, katanya rekomendasi di laporan sondir menggunakan pondasi tiang pada kedalaman 22 meter dari permukaan tanah (top) soil, ternyata tiang yang terpancang di lapangan hampir semuanya hanya 9 meter dan ada beberapa batang mencapai 16 meter dari top soil. Kemungkinan si konsultan perencana merencanakan sesuai saran perusahaan sondir yaitu dengan tiang pancang 22 meter dari top soil, sedangkan realisasi pemancangan di lapangan kebanyak 9 meter dan ada yang sampai 16 meter.
    Statigrafi data sondirnya. Pada kedalaman 0 s/sd 5 meter dari top soil terdapat tanah organik (prediksi berdasarkan friction ratio) yang sangat lunak dengan nilai qc = 1 kg/cm2 atau 150 kg/cm2, sedangkan kekerasan tanah di bawah 22 meter tidak terpantau lagi akibat kemampuan alat sondir dan jangkar pun terangkat karena tidak sanggup lagi.

    Menurut Perusahaan Sondir: ”Secara teoritis memang tidak disarankan tiang pancang duduk di lapisan lensa, baik lensa yang di 9 meter maupun lensa di 15 meter dari top soil karena kedua lapisan lensa ini tidak cukup tebal (t 100 kg/cm2 itu bisa ditembus. Harusnya nilai qc lebih dari 100 kg/cm2 saja masih bisa ditembus. Kalau ditanya penyebabnya tidak bisa masuk, ada beberapa faktor dan kemungkinan: Pertama, bisa jadi ada lapisan lensa yang cukup tebal dan cukup keras yang tidak terpantau dengan tiga titik sondir, dengan kata lain area di luar 3 titik uji terdapat lapisan lensa yang tebal dan tanah yang keras. Kedua, bisa jadi berat drop hammer yang digunakan tidak cukup. Ketiga, tanah permukaan sampai 5 meter adalah tanah organik sangat lunak ketika ketemu tanah keras pada lensa tiang akan timbul vibrasi/getaran sehingga kepala tiang mini pile mudah pecah. Keempat, bisa jadi mutu beton tiang pancang kurang (bisa diuji dengan hammer test), sehingga belum sampai tanah keras kepala tiang sudah pecah. Untuk mengetahui beban ultimate atau kemampuan tiang yang terpasang, bisa dilakukan uji PDA (pile driven analisys) test. Bila tiang pancang tidak masuk lagi pada kedalaman 9 meter karena faktor pertama, yaitu adanya lensa yang tebal dan tidak terpantau uji PDA test seharusnya bisa memenuhi. Bila karena penyebab kedua, berat hammer kurang, bisa ada dua kemungkinan PDA test bisa memenuhi bisa juga tidak. Tetapi, bila disebabkan oleh faktor ketiga dan keempat, hasil PDA test tidak akan memenuhi.

    Pertanyaan: Bagaimana pendapat Bapak Irawan sebagai seorang ahli dan praktisis mengenai hal ini?. Terima kasih…

    • Yuly,
      Ada bebarapa hal yg kurang jelas dari penjelasan anda. Apakah lensa2 itu bisa ditembus sondir? Kalau jawabannya ya, tentunya lensa2 itu juga bisa ditembus tiang pancang dengan hammer yg sesuai. Untuk suatu site khususnya utk bangunan, luas relatif kecil, sehingga kecil kemungkinan terjadi variasi tebal lensa.
      Kalau pakai tiang mini, jangan pakai tiang panjang2, idealnya max 2 section @ 6 m, jadi total 12 m. Kalau lbh panjang, gunakan tiang ukuran lbh besar.
      Seharusnya hasil penyelidikan tanah memungkinkan ditentukannya panjang tiang dengan cukup akurat. Penyelidikan tanah terdiri atas 3 sondir sangat tidak memadai. Kalau di Jkt harus ada bor dalamnya, sekecil apapun project site. Sudah saatnya mengedukasi para owner utk menyediakan dana lbh besar utk penyelidikan tanah. Minimnya penyelidikan tanah dpat menyebabkan desain yg tdk aman atau sebaliknya desain yg konservatif.
      Saya tdk bisa menebak apa penyebabnya, tetapi keempat hal tsb punya kemungkinan sebagai penyebab, atau bahkan kombinasi dari beberapa faktor tsb. Misalnya mutu beton yg kurang plus bergetarnya tiang waktu dipancang akibat tdk cukupnya confining pressure dari tanah lunak. Sebenarnya dari keempat penyebab itu hilangkan penyebab yg mudah dievaluasi, misalnya berat hammer cukup atau tdk, mutu beton, bahlan kalau perlu melakukan sondir lagi ditempat tiang dipancang utk memastikan apakah sondir bisa tembus atau tdk. Kebiasaan melakukan penyelidikan tanah dengan sangat minimum sangat membahayakan profesi perencana.

  74. Rofika Ratna A. says:

    Dear Pak Irawan, saya ingin bertanya lagi. Masalah uji SPT, sampai sejauh mana pengaruhnya, menggunakan washboring dengan dry boring. Ada yang berpendapat dengan washboring akan mendapatkan jumlah pukulan yang lebih banyak karena lubang bor terganggu, dengan kata lain akan mendapatkan nilai N-SPT yang lebih besar dibandingkan dry boring pada kedalaman dan titik yang sama. Sehingga ada yang cenderung menggunakan washboring karena pondasi akan lebih aman, meskipun sedikit boros. Bagaimana pendapat Pak Irawan?

    • Rofika,
      Dalam SPT dicatat jumlah tumbukan untuk 3 x 6″ (15 cm) penetrasi. N Value adalah jumlah tumbukan utk 2 x penetrasi terakhir. Jadi biasanya endapan yg ada habis pada 15 cm penetrasi pertama, jadi tdk mempengaruhi nilai N SPT.

  75. Rifa Atul Aini says:

    Dear Pak Irawan, saya mau tanya lagi pak. Kebanyakan bangunan ruko di Bengkalis (ibu kota salah satu kabupaten di Riau) menggunakan pondasi cerucuk kayu, kedalaman cerucuk kayu ini berkisar 6 s/d 8 meter dari top soil. Apakah bangunan ruko ini kuat? Padahal kota Bengkalis terkenal dengan tanah lunaknya, kedalaman tanah lunak di sini bisa mencapai 50-60 meter. Bila ingin membangun gedung tinggi yang mengandalkan tahanan ujung tiang (end bearing pile), mau tak mau harus menggunakan pondasi tiang hingga mencapai 50 s/d 60 meter dari top soil.
    Satu hal yang cukup unik, bangunan ruko yang ada di kota ini cukup tangguh. Hal ini tampak jarang ada ruko yang retak atau miring. Berbeda halnya dengan di Kota Dumai yang lumayan banyak terdapat ruko yang retak dan miring. Informasi yang saya dapat, bangunan gedung 3 lantai dengan bentang yang cukup lebar dengan beban perkolomnya diperkirakan sekitar 60 ton sudah aman menggunakan cerucuk kayu dia 12.5 cm kedalaman 6 meter dengan jumlah 25 batang.
    Dari hasil penelitian tanah dengan alat sondir di Jalan Yos Sudarso Bengkalis menujukkan kedalaman dari 0 s/d 7,00 meter menujukkan adanya tanah lempung lunak dengan nilai qc < 10 kg/cm2. Pada kedalaman 7,5 s/d 9,5 meter dari top soil terdapat lapisan tanah yang relatif keras, diperkirakan lapisan pasir atau lempung berpasir. Lapisan ini tebalnya hanya 2,5 meter saja. Penyondiran sampai kedalaman 30 meter, setelah lapisan lensa tidak lagi ketemu tanah keras, yang ada diperkirakan lempung lunak dengan nilai qc < 18 kg/cm2.

    Pertanyaannya:
    1. Apakah cukup kuat lensa dengan ketebalan berkisar 2,5 meter untuk menahan beban ruko-ruko tersebut?
    2. Apakah Pak Irawan punya solusi dan pandangan lain terhadap kasus ruko di Bengkalis ini?

    • Rifa,
      1. check pons dibawah pile/cerucuk (pile group/ group cerucuk)) utk tahu apakah tebal 2.5 m cukup atau tidak. Caranya sama seperti check pons pada plat beton.
      2. Saya menjawab untuk pile group secara umum, untuk cerucuk dianalogikan dengan pile group. Ukuran pile group sekecil mungkin, kalau bisa tiang tunggal, agar stress bulb kecil, tidak sampai menembus lapisan lensa. Jadi lapisan tanah lunak dibawah lensa tdk menerima pressure. Stress akibat beban berhenti hanya sampai lapisan lensa tsb. Jadi aman.

  76. Rifa Atul Aini says:

    Dear Pak Irawan,
    Menurut Peck, dkk. (1953), cara membedakan antara lanau dan lempung, adalah dengan mengambil tanah basah yang dicetak dan dikeringkan, kemudian dipecah ke dalam fragmen-fragmen kira-kira berukuran 1/8 inci (3,1 mm) dan ditekan diantara jari telunjuk dan ibu jari. Fragmen lempung hanya dapat pecah jika ditekan dengan usaha yang relatif besar, sedang fragmen lanau dapat dipecah dengan mudah bila ditekan.
    Terzaghi dan Peck, 1948. Telah membuat tabel hubungan N spt dengan kepadatan relatif (Dr) untuk tanah pasir dan Nspt dengan konsistensi dan kuat tekan bebas (qu) untuk tanah lempung jenuh. Dimana untuk lempung sangat kaku nilai Nspt 15-30 dan lempung keras > 30.
    Saya tertarik dengan hasil percakapan Pak Irawan dengan Pak Rony Ardiansyah yang membahas tentang “CADAS”. Pengalaman saya: Saya pernah mendapat sampel tanah hasil corring pada kedalaman sekitar 20-an meter di Rumbai Pekanbaru. Sampel tanah yang di dapat dari tabung belah spt, tanahnya mengumpal, liat, warna coklet, kadar air rendah berbentuk potongan silender mengikuti cetakan tabung belah spt. Semula samplel ini masih masih bisa digores dengan kuku sampai puluhan mm, tetapi setelah lewat satu minggu sample menjadi keras sehingga tidak tertekan lagi meskipun dengan kuku jari.
    Pertanyaan saya Pak Irawan:
    1. Apakah sampel tanah yang saya sebut di atas adalah “CADAS”?
    2. Dari laporan soil investigation disebut “Lempung Kaku”, tetapi mengapa nilai N > 60 ?
    3. Kalau tanah tersebut bukan lempung tetapi merupakan “Silt”, mengapa lengket sekali dan kuat bagaikan batang silinder tanah yang keras? Bukankah menurut Menurut Peck, dkk. (1953), fragmen lanau atau silt dapat dipecah dengan mudah bila ditekan?
    4. Terzaghi dan Peck, 1948. Hanya ada korelasi N spt dengan lempung dan pasir, dimana saya bisa mendapatkan korelasi nilai Nspt dengan jenis tanah lainnya?

    • Dear Rifa,
      1. Istilah Cadas sebaiknya tdk digunakan lagi. Itu bahasa orang2 lapangan yg kurang pendidikan. Cadas itu adalah cemented silty sand/ sandy silt.Biasanya snad nya berukuran halus.
      Silt adalah hasil pelapukan dari sand, sedangkan clay adalah hasil pelapukan dari silt. Silt kadang kadang masih dekat dengan fine sand, dan kadang kadang dekat dengan clay, tergantung pada kondisi pelapukan. Karena itu ada yg dinamakan non plastic silt (dekat dengan fine sand) dan ada plastic silt (dekat dengan clay).
      Pada daerah peralihan sering dijumpai silty sand atau sandy silt atau selang seling lapisan sand dan silt. Di Jakarta dijumpai 2 lapisan ini, yang atas dikedalaman belasan meter, dari 12 m diselatan sampai sekitar 18 m di utara, sedangkan yg dalam sekitar 25 – 28 m dibawah permukaan tanah. Ini adalah produk gunung api didaerah bogor/puncak, yang mengalir ke Jakarta waktu meletus dulu. Karena itu dapat dimengerti bahwa semakin ke selatan, semakin tebal dan semakin kasar butiran dari lapisan ini.
      Didaerah Sumedang Jawa Barat, phenomena tsb jelas sekali terlihat. Ada hasil letusa yg masih fresh, berukuran pasir lazim disebut Tuff atau Tufa.kemudian ada yg lapuk, bercampur dengan silt, dan ada yg lebih lapuk lagi percampuran antara silt dan clay, berwarna kemerahan, lazim disebut tanah merah, bahan urugan yg baik.
      2. Jadi yg diuraikan Peck itu adalah non plastic silt, dekat dengan fine sand, karena itu rapuh. Sample SPT yg dijumpai saya kira plastic silt, yang mengandung clay cukup banyak, karena itu tdk rapuh. Tetapi tanah ini tdk mungkin mempunyai N > 60. Kalau clay N berkisar 30 an, sedangkan kalau silt berkisar 40 an, tdk sampai 50. Jadi kalau silty clay atau clayey silt N berkisar antara 30 – 40.
      3. Sudah dijawab diatas.
      4. Memang tdk banyak yg membahas mengenai silt. Ada silty sand di Bowles(utk phi’), silt hanya utk E.
      Tetapi mudah menentukan propertinya jika mengerti uraian pada 1 dan 2 diatas. Jadi jika nonplastic, maka properti nya mendekati fine sand, tetapi jika plastic silt artinya ada claynya, maka propertinya mendekati clay. Itu sebabnya kita perlu memegang contoh tanahnya agar mendapat feelingkondisi tanahnya.

  77. Lia Sufian says:

    Dear Bp Irawan.
    Salam kenal …., saya adalah team teaching di fakultas Teknik Sipil Universitas Islam Riau. Saya sangat tertarik dengan interaksi seputaran masalah tanah di blog Bapak.
    Numpang tanya Pak, parameter uji laboratorium tanah banyak sekali, misalnya: Index Properties [Specific grafities, Natural Moisture Content (Wm), Unit Weght (g), Grain Size Analysis, Attebeg Limit (/LL,PL,& PI)]. Engineering Properties [direct Shear Test (c & f), Unconfined compression test (qu), Consolidasi (Ce & Cv)]. CBR laboratorium; Triaxial test; Permeability test; dsb. Pertanyaannya Pak:
    1. Dalam mendesain Struktur Basement seperti: contiguous pile atau soldier pile dan diaphragm wall, kita wajib memperoleh data uji laboratoroum apa saja? Mohon penjelasan korelasi dengan struktur bangunan ini, Pak.
    2. Untuk pekerjaan DEWATERING. Kita juga wajib memperoleh data uji laboratoroum apa saja? Mohon penjelasan korelasi dengan struktur bangunan ini, Pak.

    1 of 1

    • Lia,
      Yang dibutuhkan adalah parameter tanah untuk menghitung embedded wall (bagian bawahnya terbenam dibawah dasar galian) seperti sheetpile, dll yg Lia sebut diatas. Yang pasti perlu shear strength tanah baik drained maupun undrained. Kondisi drained umumnya lebih kritis untuk kasus galian, tetapi di Jakarta kadang2 diminta juga analisa undrained, berarti memakai undrained shear strength. Test2 apa yg digunakan utk mrndapatkan undrained dan drained strength, bisa dilihat di buku2. Sertifikasi HATTI biasanya juga membahas mengenai itu.

    • Lia,
      Untuk dewatering pakai data pumping test dilapangan utk dapat radius of influence dan permeability ekivalen sepanjang kedalaman galian.

  78. Yuly says:

    Dear Pak Irawan. Terima kasih atas jawaban sebelumnya. Minta komentar Bapak

    Penurunan pondasi RUKO berlantai-3 di Pekanbaru, pondasi dari mini pile satu group pile sampai 3-3 titik pancang. Kedalaman tiang pancang ini bervariabel dari 18-40 meter, untuk mencapai persyaratan kalendering pada saat pemacangan. Settlement yang terjadi selama lebih kurang satu tahun adalah 5 cm, katakan penurunan tak seragam. Kondisi bangunan RUKO, tidak ada mengalami retak baik pada dinding bata maupun pada pertemuan lantai keramik dengan dinding.
    Saya coba mencari referensi mengenai batas penurunan maksimum. Dari Skemton dan Mac Donald (1955), diperoleh hubungan Batas penurunan maksimum dalam mm dengan Jenis Fondasi sbb:
    1. Fondasi terpisah pada tanah lempung, batas penurunan = 65 mm.
    2. Fondasi terpisah pada tanah pasir, batas penurunan = 40 mm.
    3. Fondasi rakit pada tanah lempung batas penurunan = 65-100 mm.
    4. Fondasi rakit pada tanah pasir batas penurunan =40- 65 mm.

    Pertanyaannya: Apa tanggapan Pak Irawan? Apakah bangunan RUKO tersebut, masih aman atau tidak?

    • Yuly,
      Penurunan jika merata tidak akan mengganggu struktur bangunan. Yang merusak itu adalah differential settl., karena itu dibatasi angular distortion 1/300 x bentang.
      Tetapi sekalipun merata penurunan yang berlebihan akan merusak sistim utilitas, seperti pipa2 pembuangan. Oleh karena itu biasanya dibatasi juga oleh pihak otoritas bangunan.
      Di Jakarta penurunan bangunan maks 15 cm, apapun tanahnya.

  79. Rofika Ratna A. says:

    Dear Pak Irawan, saya mau bertanya lagi
    Dalam suatu pengujian PDA test dengan berat hammer 1,7 ton tinggi jatuh 1,5 meter, tiang pancang dengan diameter 40 cm kedalaman 20 meter dari top soil, settlementnya adalah = 17 mm. Daya dukung Ultimate Qult = 180 ton, bila Sf=2,25 maka Qall = 80 ton. Tiang pancang yang diuji adalah salah tiang dari 3 tiang dalam satu pile group.
    PERTANYAANNYA Pak Irawan:
    1. Penurunan salah tiang dalam group adalah = 17 mm, penurunan pile group biasanya akan lebih besar atau lebih kecil dari 17 mm? Apa sebabnya?
    2. Settlement yang terjadi akibat uji beban = 17 mm, untuk singel pile. Apakah settlement yang terjadi akibat beban bangunan akan lebih besar atau lebih kecil dari 17 mm? Katakanlah beban kerja P maks pada satu tiang pancang adalah 70 ton < Pizin 80 ton.
    3. Apakah ada korelasi atau formula untuk menghitung korelasi antara penurunan sesaat dengan penurunan jangka panjang?

    • Rofika,
      Tidak ada hubungan penurunan hasil test PDA dengan penurunan akibat beban statis, seperti berat bangunan. Penurunan group pasti lbh besar dari penurunan tiang tunggal.
      Bahkan sekalipun kita punya data test beban statis (kentledge), kita tdk bisa prediksi settlement jangka panjang.
      Di Poulos & Davis, kita bisa menghitung settl group jangka panjang dari settl single pile jangka panjang (dipakai nilai modulus E efektif). Ini pun para tokoh menganggap hanya berlaku utk group yg kecil.

  80. Rifa Atul Aini says:

    Dear Pak Irawan, terima kasih atas jawabannya. saya mau bertanya lagi masalah Nilai Koreksi Nspt lapangan pak.
    Kasus 1. Menurut Ir.G. Djatmiko Soedarmo, dalam bukunya Mekanika Tanah 2 halaman 333, dikatakan Nilai Nspt dipengaruhi oleh beban tanah di atasnya, oleh sebab itu perlu diadakan koreksi. N koreksi = N’ = CN.N………………….CN = 0,77 log 20/p. Dimana CN = faktor koreksi dan p = tekanan efektif pada elevasi SPT (ton/ft2)
    Dia memberikan contoh: Dalam suatu percobaan penetrasi standar pada kedalaman 20 ft, di atas tanah pasir dengan berat isi = 135 lg/ft3 diperoleh nilai N = 40 di lapangan. Setelah dikoreksi dengan Cara I diperoleh N’= 36 dan Cara II diperoleh N’= 35.
    Kasus 2. Menurut Hary Christady dalam bukunya Mekanika Tanah 2, halaman 351, dikatakan Nilai N spt dipengaruhi oleh tekanan overburden efektif (kN/m2). Formula untuk pasir kasar normally consolidation………… CN = 3/(2+po/pr)
    Dia memberi contoh: Sebuah fondasi dengan lebar 2,0 m terletak pada pasir kasar normally consolidated kering dengan kedalaman 1,2 m di bawah muka tanah. Nilai N rata-rata hasil pengujian SPT pada kedalaman 2 meter adalah 18. Dengan menganggap tanah mempunyai volume 16,5 kN/m3, maka tekanan overburden pada kedalaman ini adalah 2 x 16,5 = 33 kN/m2. Dengan menggunakan persamaan di atas, maka didapat faktor koreksi CN = 1,29, jadi N’ = CN.N = 1,29 x 18 = 23.
    Pertanyaannya Pak irawan:
    1. Mengapa pada kasus 1 nilai N’=35 18 menjadi besar. Bagaimana filosophi/logika teknisnya?
    2. Apakah Pak Irawan Familiar dengan kedua koreksi nilai N spt ini?

    • Rifa,
      Koreksi overburden yg suka dipakai orang, khususnya kalau pemboran sangat dalam. Kekerasan tanah dengan N yg sama untuk test diatas dan test dibawah berbeda. Tanah dibawah seakan akan menjadi lebih keras karena pengaruh lateral confining stress sebagai akibat overburden pressure yang tinggi. Karena itu distandarisasi untuk overburden pressure tertentu.

  81. Yuly says:

    Saya pengen tahu masalah tembok basement. Ada yang menggunakan soldier-pile atau contiguous pile, tetapi ada juga yang menggunakan diaphragm-wall. Katanya: Soldier Pile adalah jenis dinding penahan tanah yang di bor, jenis dinding penahan tanah ini biasanya diselang seling dengan lapisan bentonite yang berupa campuran semen dan air yang berguna agar tidak ada air yang masuk. sedangkan diaphragm-wall sebenarnya adalah merupakan: konstruksi dinding penahan tanah (retaining wall), yang membedakan dengan konvensional retaining wall adalah pada metoda pelaksanaan dan kelebihan lain yang tidak diperoleh pada dinding penahan tanah sistem konvensional.
    Pertanyaannya Pak:
    1. Dalam memilih metode tembok basement suatu bangunan tinggi, kapan kita menggunakan soldier-pile atau contiguous pile, dan kapan kita gunakan diaphragm-wall.
    2. Mana yang lebih efisien pada kedua metode ini?
    3. Bagaimana pula sistem konstruksi lantai basenya?

    • Yuli coba baca2 tulisan mengenai struktur penahan tanah pada blog ini atau di buku2. Kelihatannya tdk mempunyai pengertian atau bayangan seperti apa struktur penahan tanah yg ditanyakan, alias pertanyaannya sangat elementer. Lain kali saya tdk mengharapkan pertanyaan yg sangat elementer seperti ini.

      1. Soldier pile adalah tiang2 bor yang dipasang berjajar dalam 1 garis (seperti tentara berbaris) dengan spasi c/c tertentu, sehingga ada jarak antara tiang bor satu dengan lainnya. Karena ada jarak berarti tdk kedap air. Jadi kalau ada air tanah yg jauh lbh tinggi dr dasar galian, soldier oile tdk dapat dipakai.
      Contiguous bored pile terdiri atas primary piles dan secondary piles. Primary piles dibuat lebih dulu, kemudian diantara 2 primary piles dibuat secondary piles, yang memotong kira2 1/2 bagian primary piles dikiri kanannya. Primary piles dibuat dari campuran semen dan bentonite dengan diameter 60 cm (setelah dipotong tinggal 30 cm bag tengah saja), bersifat non struktural, hanya sebagai cut-off saja. Secondary piles adalah bored piles (dengan rebar) bersifat struktural. Karena masalah kemampuan alat bor dalam menjaga vertikalitas, pemakaian contiguous bored piles ini juga terbatas untuk galian 3 lapis basemen saja. Kalau lebih dalam akan ada gap antara bored piles dan cement-bentonite piles, jadi akan ada bocoran air tanah kedalam galian.
      Diatas contiguous bored piles, ada secant piles, prinsipnya hampir sama dengan contiguous bored piles, tetapi primary piles nya juga terbuat dari beton, tanpa tulangan, diameter sama dengan secondary piles. Yang umum diameter 88 cm jarak c/c 150 cm, jadi ada primary piles yg terpotong walaupun tdk sebesar cement betonite piles pada contiguous bored piles. Vertikalitas secant piles lebih baik dari contiguous bored piles karena pemboran dari atas sampai bawah menggunakan casing yg diberi mata bor, dan dipakai guide beam untuk pada permukaan tanah untuk menjaga vertikalitas casing tersebut selama pemboran.Pemakaiannya sampai 4 lapis basemen.
      Yang paling baik vertikalitasnya adalah diaphragm wall (D Wall), karena ada guide wall sepanjang 1.5 m dari permukaan kebawah, dan ada alat sensor utk menjaga vertikalitasnya. Kalau alat bor kemampuan menjaga vertikalitasnya adalah 1H:80V, pada D Wall bisa 1H : 300 V. Jadi kalau galian > 4 lapis basemen tdk ada pilihan pakai DWall. Kalau tdk pasti banyak kebocoran.

      Semua struktur penahan tanah disebut diatas sibuat dari permukaan tanah sebelum penggalian. Stabilitasnya ditentukan oleh support diatas dasar galian berupa ground anchor, strut dari profil baja, atau bagian dari plat lantai basemen (metoda top-down). Dibawah dasar galian dipegang oleh tanah yg ada dibawah dasar galian, karena ada bagian struktur penahan tanah yg masuk kedalam tanah dibawah dasar galian. Karena itu kelompok ini dalam euro code disebut embedded walls.
      2. Yang disebut lebih dulu lebih murah, tetapi dengan keterbatasan pemakaian.
      3. Penggalian dan pemasangan support system dilakukan bergantian secara bertahap dari support baris 1 sampai baris terakhir (kalau ada lebih dari 1 baris support). Setelah penggalian sampai rencana dasar galian, baru dicor base slab. Dilevel base slab, telah disiapkan stater bar pada D Wall (sebelum digali stater bar dibengkokkan), atau stater bar dipasang setelah penggalian dengan chemical anchor.

  82. Yuly says:

    Terimakasih atas jawaban Bapak, sehingga saya menjadi paham banyak hal, seperti: Yang paling baik vertikalitasnya adalah diaphragm wall (D Wall), karena ada guide wall sepanjang 1.5 m dari permukaan kebawah, dan ada alat sensor utk menjaga vertikalitasnya. Kalau alat bor kemampuan menjaga vertikalitasnya adalah 1H:80V, pada D Wall bisa 1H : 300 V. Jadi kalau galian > 4 lapis basement tidak ada pilihan pakai DWall. Kalau tdk pasti banyak kebocoran.
    Tetapi yang masih menjadi pertanyaan saya adalah statement dari bapak: “Jadi kalau ada air tanah yg jauh lbh tinggi dr dasar galian, soldier pile tdk dapat dipakai.” Karena banyak referensi yang saya baca, mereka bahkan menggunakan soldier pile sebagai lapisan kedap air. Misalnya pada Majalah Konstruksi, Nomor 171, Juli 1992, (Written by Gouw Tjie Liong). Berikut ini kutipan salah satu pragrafnya: “Diakui oleh Gouw, dewatering memang relatif tidak perlu dilakukan secara ekstensif jika di sekeliling galian dibuat struktur penahan tanah yang bisa mencegah terjadinya seepage. Itu dilakukan dengan membuat soldier-pile atau sheet pile tersebut betul-betul kedap air, dan kedalamannya sedemikian sehingga sampai ke lapisan tanah yang permeabilitasnya sangat kecil atau relatif kedap air. Hal tersebut tidak selalu ekonomis dilakukan, karena pembuatan struktur penahan tanah seperti itu cukup mahal. Sehingga seperti yang dilakukan pada proyek Wisma KPI, dengan melakukan dewatering yang ekstensif maka galian bisa dilakukan secara terbuka dan dalam kondisi kering.”
    Maaf Pak Irawan, izinkanlah saya bertanya:
    1. Apakah yang dimaksud soldier-pile oleh Gouw adalah Contiguous bored pile ?
    2. Atau saya yang belum paham maksud Pak irawan dan pengertian yang saya di majalah konstuksi?

    • Yuly,
      Istilah yg saya sebutkan adalah standard yg dipakai di semua buku text. Mengenai adanya pengertian lain oleh seseorang, saya tdk bisa berkomentar. Majalah konstruksi bukan referensi standard yg bisa direfer utk hal2 teknis akademis.

      Perlu saya sampaikan hal2 berikut:
      1. Soldier pile tdk akan diizinkan dipakai di Jakarta, karena muka air tanah dijakarta tinggi.
      2. Ekstensif dewatering juga tidak akan pernah diizinkan dilakukan di Jkt, apalagi jika dinding penahan tanah tdk kedap. Jika dilakukan pasti akan menyebabkan kerusakan didaerah sekitar, dan menyebabkan keringnya sumur2 bor disekitar galian.
      3. Dinding penahan tanah di Jkt harus merupakan cut-off wall, jika tidak, maka izin tdk akan keluar.

  83. Rifa Atul Aini says:

    Dear Pak Irawan, numpang nanya lagi masalah Fondasi Sumuran
    Pak Irawan, struktur tanah di Pekanbaru pada umumnya terdapat lapisan pasir kelempungan pada kedalaman 3,00 meter s/d 9,00 meter dari top soil. Tidak heran sebagian besar Ruko-ruko di sini menggunakan fondasi sumuran pada kedalaman berkisar 3,00 m dari top soil. Nilai qc dari data sondir berkisar 20 kg/cm2, muka air tanah kadang-kadang berkisar 3,00 m dari top soil, ada juga 4 s/d 6 meter dari top soil. Fondasi sumuran yang digunakan adalah berdiameter 100 cm da 120 cm, ada yang menggunakan buis atau cassing untuk pengaman, ada juga dengan sistem bore, sedangkan tulangan sumuran ini adalah tulangan 12 dia 12 mm.
    Untuk menghitung besarnya daya dukung sumuran berdasarkan nilai qc, saya belum mendapat formula yang baku. Selama ini saya menggunakan formula praktis, dengan mengasumsikan sebagai fondasi tiang atau sumuran diasumsikan sebagai treatment tanah (perbaikan tanah) dan menggunakan daya dukung atau nilai qc di dasar sumuran. Saya menggunaan formula Pizin = A .qc /sf. Dimana, P izin= daya dukung izin sumuran, A = luas dasar sumuran, dan qc= perlawanan konus dari CPT.
    Dengan formula praktis ini, pada kedalaman 3,00 m dari top soil, nilai qc = 20 kg/cm2, bila sf diambil = 4, maka diperoleh untuk sumuran dia 100 cm P izin = 39,250 ton > beban Ruko berlantai-2 Pmaks beban Ruko berlantai-3 Pmaks < 55 ton.
    Pertanyaannya Pak:
    1. Apakah saya boleh menggunakan formula praktis tersebut di atas ? dengan (tanda kutip), untuk kondisi tanah permukaan yang cukup baik.
    2. Apakah Pak Irawan punyai formula lain untuk menghitung Daya dukung izin sumuran (small caission)?

    • Rifa,
      Saya kira sudah benar, hanya pakai nilai qc rata2 sedalam 2 x diameter, dari dasar galian kebawah.
      Friksi diselimut sumuran awal2 nya tdk ada, setelah beberapa lama setelah celah antara sisi galian dan buis beton terisi penuh, friksi baru bekerja. Jadi lbh baik diabaikan.

  84. Yuly says:

    Dear Pak Irawan. Dari jawaban Pak Irawan, membuat saya menjadi semakin paham tentang struktur basement suatu high rise structure. Berdasarkan jawaban dari Pak Irawan + beberapa referensi yang saya baca, saya dapat menarik kesimpulan sementara Perbedaan Contiguous Pile dengan Diaphragm-wall sebagai berikut:
    1. Dinding Basement dengan contiguous pile atau ada referensi yang menyebut dengan nama : Retaining wall pile beruntun.
    a. Terdiri dari Pile Primer dari bored-pile beton bertulang dan Pile Secunder dari bored-pile semen bentonite.
    b. Pada setiap bored-pile beton bertulang dipasang Ground Anchorage, dengna jarak tertentu.
    c. Kemudian dibuat dinding basement beton bertulang untuk menutup permukaan pile primer.
    2. Dinding Basement dengan diaphragm-wall:
    a. Dinding ini berfungsi sebagai pemikul atau penahan tekanan tanah dan tekanan hidrolis horizontal.
    b. Sebagai dinding lapisan kedap air
    c. Diaphragm-wall sekaligus berfungsi sebagai dinding basement.
    d. Tanpa Ground Anchorage

    Yang masih ingin saya tanyakan Pak:

    1. Apakah benar interprestasi saya tentang Perbedaan Contiguous Pile dengan Diaphragm-wall di atas? Tolong diluruskan Pak Irawan, bila ada yang keliru.
    2. Diaphragm-wall, tanpa adanya Ground Anchorage, bagaimana cara kerja dinding Diaphragm-wall yang juga berfungsi sebagai struktur penahan gaya lateral?
    3. Apakah pada contiguous pile wajib di pasang dinding basement beton bertulang?

    • Yuly,
      1.Contiguous bored pile: primary pile adalah tiang yg dibuat duluan (cement bentonite pile), sedangkan secondary pile adalah yg dibuat belakangan (bored pile).
      Yang secondary memotong sebagian primary pile.
      Ground anchor tdk dipasang pd setiap bored pile, tetapi pada cement bentonite pile, lompat satu. Ada waler beam yg menyalurkan gaya prestress ke bored pile.
      Dinding beton berguna utk meratakan permukaan contiguous bored pile. Karena dibuat tanpa adanya guide beam, maka posisi bored pile itu sangat tidak rata. Dinding beton 15 cm tdk cukup untuk meratakan permukaan dinding, biasanya sekitar 25 cm. Alasan kedua adalah menjaga kemungkinan rusaknya/bocornya cement bentonite pile setelah jangka waktu lama. Istilah retaining wall dinding beruntun itu istilah yg belum baku. Tidak menjadi istilah yg umum dipakai, baik dikalangan praktisi, akademisi, maupun di asosiasi profesi HATTI. Istilah ini bisa juga dipakai untuk soldier pile, dan secant pile.

      2.Semua fungsi D Wall juga dipenuhi oleh contiguous bored pile, dengan derajat tertentu. Sama seperti membandingkan mobil toyota dengan mobil mercy. Sama2 mobil dengan fungsi yang sama sampai derajat tertentu. Sama2 kedap air, hanya contiguous bored pile kedap sampai kedalaman galian tertentu yg lebih dangkal dari D Wall.
      Sama2 membutuhkan sistem support, seperti ground anchor, strut, selected basemen slab (pada top-down construction). Kalau kekakuan bendingnya (EI) sama, dengan posisi support yg sama, defleksi juga sama. Contiguous bored pile dia 80 cm spacing c/c 110 cm, kurang lebih EI nya sama dengan D Wall tebal 60 cm.
      Gaya2 yg ditahan oleh kedua dinding itu juga sama. Sekali lagi dinding beton dimuka contiguous bored pile itu fungsinya lebih untuk meratakan permukaan dinding.
      Di Jakarta ada satu gedung yg memakai secant pile sebagai dinding penahan tanah waktu penggalian basemen, dan dimukanya tdk dipasang dinding beton. Basemennya semata-mata hanya utk parkir. Kalau dipakai utk ruang komersial tentu tidak enak dilihat. Catatan bahwa secant pile lebih rata dan teratur, lbh enak dilihat daripada contiguous bored pile, karena digunakannya guide beam, dan casing menerus yg ujungnya dipasang mata bor utk pemboran. Jadi tdk pakai drilling bucket seperti pada pembuatan bored pile.

      Kalau Yuly membaca bail2 tulisan2 saya di blog ini pada bagian retaining structures, sebagian besar pertanyaan ini sudah terjawab.

  85. Rifa Atul Aini says:

    Dear Pak Irawan,
    Kali ini saya mau bertanya masalah korelasi nilai CBR dengan Beban lantai gudang. Seperti yang diketahui nilai CBR untuk tanah dasar (sub grade) rigit pavement cukup 5, sedangkan untuk flexsible pavement sekira 7. Dalam sebuah proyek di Pekanbaru, spesifikasi tanah dasar sub grade untuk lantai gudang dengan beban 5 ton/m2, diminta dari hasil Uji DCP dengan nilai CBR = 7, di samping itu juga diminta CBR laboratorium = 7. Sebagai catatan, tebal lantai gudang adalah 20 cm dari beton bertulang menggunakan wiremwsh M-8 satu lapis, mutu beton K-300.
    Pertanyaannya Pak Irawan:
    1. Bukankah nilai CBR = 7 untuk sub grade lumayan sulit diperoleh? Bagaimana pendapat Bapak?
    2. Apakah ada Formula praktis untuk menghitung daya dukung izin dengan data CBR sub grade tersebut di atas?
    3. Apakah formula atau dari pengalaman Pak Irawan untuk mengkorelasi nilai CBR Sub grade dengan beban izin di atas lantai gudang?

    • Rifa,
      Jawaban saya secara keseluruhan, nomor tdk mengacu pd pertanyaan, adalah sbb:
      1. CBR tdk digunakan untuk menghitung daya dukung fondasi. Perbedaannya sangat prinsipil. Tidak ada Foundation / Geotech. Engineer yg menggunakan nilai CBR untuk menghitung daya dukung fondasi. Ada sebagian highway engineer yg biasa menghitung pavement, menggunakan CBR utk menghitung daya dukung fondasi karena ketidak mengertiannya.

      CBR itu hanya utk tebal lapisan 30 cm, sedamgkan daya dukung fondasi itu utk tebal lapisan 2 – 3 B, dimana B adalah lebar fondasi. Sekalipun sekilas sepertinya keduanya sejenis, tetapi CBR itu jauh lbh kasar dp daya dukung. Ingat utk perkerasan jalan turun 10 – 20 cm tdk terlalu bermasalah, tetapi untuk fondasi, sudah merupakan masalah besar.

      Beban pada lantai gudang berbeda dengan beban pada perkerasan jalan. Pada lantai gudang beban tetap, sedangkan pada perkerasan jalan, beban hanya bekerja sementara.
      Sekalipun lapisan tanah tepat dibawah lantai gudang diganti dengan sirtu misalnya setebal 50 cm, yg mempunyai daya dukung tinggi, tetapi tidak akan ada artinya kalau daya dukung tanah dibawah sirtu tsb tidak mampu menahan tegangan akibat beban pada lantai gudang yg telah disebarkan sampai pada level tanah tsb. Hal ini tdk perlu dipikirkan pada perkerasan jalan.

      2. Pada waktu pemadatan tanah dibawah lantai gudang memang kadang2 dipakai nilai CBR sebagai pengganti dry density untuk acuan kriteria pemadatan. Tetapi ini sifatnya tdk terlalu penting, tdk menentukan performance tanah dalam mendukung beban diatas lantai gudang. Kalau tanahnya jelek memang susah mendapatkan CBR 7, tetapi kalau tanahnya bagus, mudah mendapatkan nilai CBR 7.

      3. Perlu sekali2 mengikuti kegiatan2 HATTI di Jkt agar mengerti mengenai desain fondasi. Bulan Januari ’16 akan ada Geo Talk mengenai Fondasi + instrumentasi pada fondasi, dengan biaya yg relatif murah, Rp. 370.000. Geo Talk ini seperti informal seminar dimana peserta lbh bebas utk bertanya dengan waktu yg lapang.
      Tgl 14 Oct yg lalu telah diadakan Geo Talk 1 dengan 2 tema, yaitu mengenai gaya gempa di jakarta yg diberikan oleh Pak Prof. Masyhur Irsyam (ketua HATTI), dan ground anchor design, oleh saya sendiri. Geo Talk ini sangat diminati oleh para prkatisi di Jkt, sehingga hanya dalam 2 hari pendaftaran, kuota sudah terpenuhi, mengingat terbatasnya ruangan.

      • Rifa Atul Aini says:

        Terimakasih atas informasi “Geo Talk”. Dan terimakasih banyak atas pencerahan yang Bapak berikan pada saya. Dari penjelasan yang dapat, bila tanah dasar sub grade pekerjaan lantai gudang tersebut mempunyai nilai (data sondir) qc > 12 kg/cm2, dapat saya katakan beban lantai gudang yang 5 ton/m2 sudah terpenuhi. Analisa praktis saya adalah sbb: Q all = qc x A /Sf atau Qall = 12 x 10.000 cm2 / 12 = 10 ton/m2, bila saya mengambil sf=12.
        Tetapi Pak Irawan, bila di atas tanah dasar (sub grade) harus diadakan penimbunan untuk peninggian peil lantai gudang (katakan tingginya dari 50 cm s/d 100 cm). Bila spesifikasi tanah timbunan tersebut dengan nilai CBR = 7, Apakah menurut ketentuan teknis sudah terpenuhi? Apakah Pak Irawan ada pencerahan yang lebih tepat, mengenai kasus yang saya sampaikan di atas?
        Maaf Pak Irawan, bila saya banyak bertanya. Karena sebagai seorang Junior di bidang Geoteknik, Pencerahan yang Pak Irawan berikan sangat berarti buat saya dan terus terang saya sangat berharap penjelasan dari Bapak.

      • Kalau tanah dibawah subgrade mempunyai nilai qc sama dengan atau lebih besar dari subgrade yaitu 12 kg/cm2, maka daya dukung izin adalah sbb:

        qa = C Nc / SF = {(12/20) x 5.14 } / 3 = 1.028 dibulatkan 1 kg/cm2.

        Kalau ternyata tanah dibawah subgrade lbh lunak dari subgrade maka daya dukung tsb diatas tdk berlaku, harus direndahkan.

        Saya tdk tahu korelasi CBR dengan qc utk tanah urugan tsb. Bisa dicari korelasinya dilapangan.

  86. diskmal says:

    Assalamu’alaikum salam kenal pak irawan, dalam banyak artikel bapak sering bicara mengenai Peraturan Kepala Dinas P2B, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, No 50 tahun 2007 , mohon bantuan dimana saya bisa mendownload peraturan tersebut. Terimakasih.

  87. Rifa Atul Aini says:

    Dear Pak Irawan,
    Kali ini saya mau bertanya masalah Loading Test, untuk tiang pancang atau bore pile. Sebagaimana kita ketahui loading test ada dua sistem, 1. Sistem Kentledge dan 2. Sistem Tiang Jangkar.
    Sistem Pembebanan pun ada dua:
    a/. Pembebanan Bertahap, dengan variasi sebesar 20, 40, 60, 80 dan 100% dari beban maks rencana. Kemudian secara berangsur-angsur dikurangi menjadi 80, 60, 40, 20 dan 0%.
    b/. Pembebanan Berulang (Cycliic loading), hampir sama dengan cara pembebanan bertahap , dengan variasi sebesar 20, 40, 60, 80 dan 100% dari beban maks rencana, tetapi pada akhir setiap sebelum pembebanan berikutnya dilanjutkan beban dihilangkan dahulu sehingga kita dapat mengukur besarnya penurunan tetap.
    Pertanyaannya Pak irawan:
    1. Menurut bapak mana lebih baik Pembebanan Bertahap atau Pembebanan Berulang (Cycliic loading) ?
    2. Interpretasi Loading test ada 3 metode analisis. Yaitu: Pertama: Metode Davisson; Kedua Metode Mazurkiewicz dan Ketiga Metode Chin. Apakah benar Metode Mazurkiewicz yang paling bisa diandalkan? Apa sebabnya pak?
    3. Mohon Pak irawan bisa memberikan pencerahkan, hal-hal lain yang berkaitan dengan loading test.

  88. Endri says:

    Pak Irawan YTH:
    Pak Irawan apakah ada buku mengenai tatacara serta perhitungan untuk proof test, suitability test, acceptance test anchor. Mohon infonya.
    Terima Kasih

  89. Fahmi says:

    Ass pa, mau bertanya:
    Saya punya kasus, saya merencanakan pondasi tiang pancang dengan end bearing di lapisan tanah keras, maka dapat di ambil kesimpulan tidan akan mengalami settlement, tapi untuk membuktikan bahwa nilai settlement sangat kecil atau tidak terjadi settlement dapat menggunakan rumus apa, metoda perhitungan seperti apa? Mohon dapat memberikan referensinya pa makasih

  90. Fahmi says:

    Ass pa, mau bertanya:
    Saya punya kasus, saya merencanakan pondasi tiang pancang dengan end bearing di lapisan tanah keras, maka dapat di ambil kesimpulan tidan akan mengalami settlement, tapi untuk membuktikan bahwa nilai settlement sangat kecil atau tidak terjadi settlement dapat menggunakan rumus apa, metoda perhitungan seperti apa? Mohon dapat memberikan referensinya pa makasih pa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s